Aspek Psikologi dalam Shalat

Shalat memiliki hikmah yang terkandung aspek psikologi dalam solat yang bisa diungkap dan bahas Shalat Sebagai Terapi Psikologi.

Islam961 Views

Logos Indonesia : Shalat di perintahkan ALLAH SWT kepada Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan yang disebut isra’ Mi’raj yang peristiwanya di sebutkan dalam Surat Al-Isra’ ayat 1`:

“Maha Suci ALLAH, yang telah memperjalanjakan hamban-NYA pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsyang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Perjalanan yang dilakukan Rasulullah itu sendiri selain bertujuan untuk memperlihatkan kebesaran Allah SWT juga mengandung perintah shalat yang harus dikerjakan oleh umat Islam. Awal mula perintah shalat itu sendiri berjumlah 50 rakaat yang akhirnya di tuurunkan menjadi 17 rakaat yang terbagi atas lima waktu shalat. Penurunan jumlah shalat itu sendiri secara psikologi merupakan bentuk kasih sayang Allah terhadap umatnya dimana Rasul menyatakan ketakutannya jika umat terbebani sehingga tidak bisa melaksanakannya.

Shalat difardhukan atas Nabi saw pada Isra’ lima puluh (kali), kemudian dikurangi sehingga menjadi lima (kali) lalu diserukan : Ya, Muhammad, keputusan ini di sisi-Ku tidak dapat diubah dan bagimu yang lima ini adalah lima puluh (kali pahalanya)” (HR. Ahmad, An-Nasai, At Tirmidzi).

Pengertian Shalat

Secara bahasa Arab, kata Shalat berarti berdoa. Kemudian menurut Ash-Shiddieq (1983) dalam Haryanto (2007) menambahkan pengertian shalat yang berarti doa memohon kebjikan dan pujian. Kadungan dari pengertian shalat ialah berhadapan hati (jiwa) kepada ALLAH dan mendatangkan takut kepada-NYA, serta menumbuhkan rasa Keagungan, Kebesaran dan Kesempurnaan Kekuasaan ALLAH SWT. Bagi umat islam sendiri shalat merupakan media komunikasi atau interaksi langsung antara dirinya dan Tuhannya dengan sifat perintah shalat ialah langsung dari Tuhannya maka shalat juga menunjukkan adalah keinginan Tuhan untuk bertemu dengan umat secara langsung melalui media shalat dalam lima waktu yang diperintahkan ( subuh, zuhur, ashar, magrib dan isya’).

Aspek – aspek Psikologi dalam Shalat

Aspek Terapi Air dalam Shalat

Seseorang yang akan menjalankan shalat, hal yang pertama kali yang harus dilakukannya adalah bersuci dan berwudhu. Bersuci mengharuskan seseorang untuk menjaga kebersihannya dari hadast kecil dan hadast besar maka individu yang akan shalat secara otomatis akan menjaga kebersihan diri sehingga terbebas dari penyakit. Kemudian berwudhu yaitu membasuh beberapa bagian-bagian anggota tubuh yang dilakukan sebanyak 3 kali, hal ini menimbulkan efek refreshing atau memberi kesegaran pada badan dan jiwa. Ada dua klasifikasi wudhu yaitu wudhu badan dan wudhu jiwa, wudhu badan itu sendiri mengacu pada membasuh bagian-bagian anggota tubuh tertentu, sedangkan wudhu jiwa mengandung makna bahwa dengan wudhu individu juga membantu mensucikan dirinya dari dosa-dosa kecil yang telah dilakukan. Secara psikologis hal ini dapat menimbulkan efek ketenangan oleh karena itu Rasullullah juga pernah mengajurkan bahwa ketika seseorang sedang berada dalam amarah maka ia di anjurkan untuk berwudhu untuk mengurangi efek marahnya.

Aspek Olah Raga dalam Shalat

Ada berbagai gerakan atau posisi dalam shalat, secara eksperimen gerakan-gerakan yang dilakukan dalam shalat sama halnya dengan melakukan gerakan olah raga dan setiap gerakan shalat itu sendiri terbukti mengadung kebaikan-kebaikan bagi orang yang melakukannya. Shalat wajib yang dilaksanakan oleh umat muslim sebanyak lima kali dalam satu hari dimana ada delapan posisi yang memiliki efek masing-masing pada tubuh manusia. Kemudian ada 17 rakaat shalat yang harus dilaksanakan yang terdiri dari 19 posisi pada tiap rakaat, sehingga total ada 119 posisi per hari atau 3570 postur per bulan sehingga seseorang yang melakukan shalat sama halnya melakukan gerakan-gerakan dalam olah raga yang penting bagi tubuh.

Aspek Relaksasi Otot  dalam Shalat

Adanya efek relaksasi pada gerakan shalat seperti melakukan kontraksi otot, atau pijatan dan tekanan tertentu selama menjalankan ibadah shalat contoh ketika melakukan gerakan takbir dimana tangan terbuka lebar pada lengan maka gerakan ini mengkontraksi pergerakan paru-paru menjadi terbuka lebar. Kegunaan dari relaksasi sendiri efektif untuk mengurangi berbagai keluhan penyakit terutama penyakit psikosomatis.

Aspek Kesadaran Indera dalam Shalat

Relaksasi kesadaran indera biasanya dilakukan melalui pembayangan terhadap suatu kejadian atau situasi tertentu. Pada shalat, individu melakukan kesadaraan indera dimana ia membayangkan situasi bahwa ia sedang berkomunikasi langsung dalam hubungan vertikal dengan Tuhannya, sehingga setiap gerakan dalam shalat dan juga bacaan dalam shalat merupakan bentuk-bentuk komunikasi langsung yang senantiasa dihayati terhadap kegiatan mengingat ALLAH SWT.

Sesungguhnya Aku adalah ALLAH, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk mengingat Aku” (QS Thaha : 14).

Aspek Meditasi  dalam Shalat

Shalat yang dilakukan secara khusuk memberikan efek meditasi dimana ketika sesorang melakukan shalat yang khusuk dalam setiap gerakannya maka akan terjadi proses keheningan dan penghahyatan tingkat tinggi. Semua ini memberi efek ketenangan yang maknanya hampir sama dengan proses meditasi dalam yoga. Pembuktian secara ilmiah, yoga berdampak sangat baik bagi tubuh dan kesehatan individu

Aspek Self Hipnosis dalam Shalat

Bacaan-bacaan dalam shalat terdiri atas pujian, permohonan ampun beserta doa-doa. Efek dari pengucapan kata-kata dalam shalat bersifat sugestif atau menghipnotis orang yang melakukannya. Sugesti itu sendiri menurut Thoules (1992) dalam Haryanto merupakan suatu upaya untuk membimbing diri pribadi melalui proses pengulangan suatu rangkaian ucapan secara rahasia kepada diri sendiri yang menyatakan suatu keyakinan atau perbuatan.

 

Aspek Pengakuan dan Katarsis dalam Shalat

Gangguan jiwa terkadang bisa terjadi ketika seseorang melakukan suatu kesalahan ataupun tidak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam pemikirannya. Shalat sebagai sarana komunikasi manusia secara vertikal yang dalam komunikasi tersebut manusia bisa mengungkapkan apapun yang menjadi kendala dalam dirinya. Pengungkapan merupakan proses penyaluran dan pengurangan (katarsis) terhadap berbagai kendala yang mungkin dialaminya yang selama ini tersimpan dalam hatinya. Dialog yang dilakukan menimbulkan suatu perasaan melegakan dan membantu proses penyembuhan kesehatan mental bagi individu itu sendiri.

Aspek Pembentukan Kepribadian  dalam Shalat

Kepribadian itu dibentuk sepanjang keberadaan individu di dunianya, maka shalat merupakan salah satu sarana untuk membentuk kepribadian diantaranya pribadi yang disiplin. Shalat dilakukan pada lima waktu dalam sehari yang pekerjaannya sendiri harus dilakukan pada awal waktu shalat yaitu setelah azan dikumandangkan. Pelaksanaan shalat yang tepat waktu yang dilakukan secara terus-menerus akan membentuk pribadi menjadi seseorang yang memiliki kedisiplinan dan sifat menyegerakan terhadap suatu tugas yang harus dilaksanakan. Adapun kepribadian lain yang dapat terbentu didalam shalat seperti pribadi yang menjaga kebersihan, kerja keras, berkata baik dan keseimbangan dalam kehidupan.