Mitos dan Fakta Seputar Kleptomania

Kleptomania adalah sebuah gangguan kontrol impuls yang membuat penderitanya merasa dorongan yang sangat kuat untuk mencuri.

Klinis1744 Views

Logos IndonesiaKleptomania, pernahkah kamu mendengar istilah ini? Kleptomania adalah sebuah gangguan kontrol impuls yang membuat penderitanya merasa dorongan yang sangat kuat untuk mencuri. Tidak jarang gangguan ini menjadi bahan perbincangan di berbagai media maupun cerita fiksi. Namun masih banyak yang tidak memahami kondisi ini dengan baik. Artikel kali ini akan mengupas lebih dalam tentang kleptomania. Mulai dari mitos-mitos yang mungkin sering kita dengar hingga fakta yang sesungguhnya mengenai gangguan ini.

Sebenarnya, kleptomania bukanlah topik yang asing di masyarakat. Namun, masih banyak orang yang kurang memiliki pemahaman yang jelas tentang gangguan ini. Akibatnya, muncul berbagai mitos yang tidak hanya menyesatkan. Tapi juga berpotensi menimbulkan stigma bagi penderitanya. Oleh karena itu, kita perlu lebih cerdas dalam memilah informasi agar kita tidak terjebak dalam kebingungan mengenai kleptomania.

Baca Artikel Kami Lainnya: Kleptomania dan Stigma yang Menyertainya

Untuk membantu kamu lebih memahami kleptomania, di artikel ini kita akan mengulas beberapa mitos yang sering beredar. Serta membantahnya dengan fakta-fakta yang mendukung. Nantinya, kita akan membahas dampak dari mitos ini. Bagaimana pendidikan serta pemahaman yang lebih baik dapat membantu kita sebagai masyarakat dalam menyikapi masalah kleptomania. Jadi, pahami lebih jauh tentang mitos dan fakta seputar kleptomania!

Mitos tentang Kleptomania

Mitos 1: Kleptomania hanyalah alasan bagi seseorang untuk mencuri

Salah satu mitos yang sering terdengar adalah bahwa kleptomania merupakan alasan yang dibuat-buat seseorang untuk mencuri. Namun, mitos ini sama sekali tidak benar. Kleptomania adalah gangguan kontrol impuls yang diakui secara medis. Dan telah tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Penderita kleptomania sering kali merasa sangat bersalah dan malu atas perilaku mencurinya. Mereka mencuri bukan untuk keuntungan finansial, melainkan untuk mengurangi perasaan tegang yang mereka rasakan.

Mitos 2: Semua orang yang mencuri adalah kleptomania

Mitos lain yang perlu kita luruskan adalah bahwa setiap orang yang mencuri dianggap kleptomania. Faktanya, kleptomania adalah kondisi langka yang terjadi hanya pada sebagian kecil individu yang mencuri. Banyak orang yang mencuri mungkin memiliki motivasi berbeda, seperti kebutuhan finansial, tantangan, atau bahkan balas dendam. Kleptomania, di sisi lain adalah gangguan otak yang membuat penderitanya tidak dapat mengendalikan dorongan untuk mencuri. Meskipun mereka sadar bahwa tindakan itu salah.

Mitos 3: Kleptomania tidak bisa diobati

Banyak orang beranggapan bahwa kleptomania adalah kondisi permanen yang tidak bisa disembuhkan atau diobati. Padahal, ini tidak sepenuhnya benar. Meskipun tidak ada obat khusus atau “penyembuh” yang pasti untuk kleptomania. Ada beberapa metode pengobatan yang bisa membantu mengelola kondisi ini. Terapi perilaku kognitif, terapi keluarga, dan penggunaan obat-obatan tertentu seperti antidepresan dan stabilisator mood. Semua ini bisa membantu penderita kleptomania mengendalikan dorongan mereka. Setiap individu mungkin memerlukan pendekatan yang berbeda. Tetapi kombinasi dari terapi ini dapat membantu memperbaiki kualitas hidup penderita.

Fakta tentang Kleptomania

Fakta 1: Kleptomania adalah gangguan kontrol impuls serius

Sebagai gangguan kontrol impuls, kleptomania adalah kondisi yang serius dan mempengaruhi penderitanya secara emosional, sosial, serta hukum. Penderita kleptomania kerap kali merasa tertekan dan tertekan oleh dorongan mencuri yang tak terkendali. Yang bahkan bisa membuat mereka mengalami konflik dengan hukum dan lingkungan sosial. Penting untuk kita memahami bahwa kleptomania bukanlah perbuatan yang disengaja. Melainkan hasil dari gangguan otak yang membuat penderita sulit mengendalikan tindakan mereka.

Fakta 2: Kleptomaniacs mencuri bukan karena nilai barang yang dicuri

Berbeda dengan pencuri pada umumnya, para kleptomaniacs tidak mencuri atas dasar keuntungan finansial atau materi. Justru, mereka mencuri karena dorongan kuat yang tak terkendali dan ingin menghilangkan rasa stres atau ketegangan yang mereka rasakan. Mereka bisa mencuri barang-barang yang tak bernilai atau bahkan tak berguna. Sering kali tidak merasa senang setelah mencuri. Sebaliknya, perasaan bersalah dan penyesalan justru melanda mereka setelah mencuri.

Fakta 3: Terapi dan obat dapat membantu mengelola Kleptomania

Walaupun saat ini belum ada solusi pasti yang bisa menyembuhkan kleptomania sepenuhnya. Namun ada beberapa metode pengobatan yang terbukti efektif dalam mengelola kondisi ini. Terapi perilaku kognitif, misalnya, dapat membantu pasien mengenali pola pikir dan perilaku yang menyebabkan mereka mencuri. Lalu menggantinya dengan strategi yang lebih positif. Terapi keluarga juga dapat memberikan dukungan emosional dan belajar untuk menghadapi masalah bersama-sama. Di samping itu, ada juga obat-obatan tertentu seperti antidepresan dan stabilisator mood. Yang bisa membantu mengurangi dorongan mencuri pada penderitanya. Dengan pendekatan yang tepat, orang dengan kleptomania dapat menjalani kehidupan yang lebih normal dan bahagia.

Dampak dari Mitos dan Bagaimana Edukasi dapat Membantu

Mitos tentang kleptomania bukan hanya memberikan informasi yang salah, tetapi juga dapat berdampak negatif pada pandangan public. Sehingga dapat memicu stigma, diskriminasi, dan rasa malu. Yang pada gilirannya dapat mencegah penderita mencari dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Edukasi memainkan peran penting dalam mengatasi mitos dan meningkatkan pemahaman kita tentang kleptomania. Edukasi juga berperan penting dalam mencegah stigmatisasi dan diskriminasi serta mempromosikan inklusi sosial bagi penderita.

Ke depannya, kita berharap edukasi tentang gangguan kontrol impuls seperti kleptomania menjadi lebih luas dan mencapai lebih banyak orang. Dengan pendidikan yang tepat, kita dapat membantu meredakan stigma dan diskriminasi. Sehingga mampu membuat perbedaan positif dalam hidup orang-orang yang terkena dampak kondisi ini.

Baca Artikel Kami Lainnya: Menggali Dampak Kleptomania pada Kehidupan Sehari-hari dan Hubungan Sosial Seseorang

Artikel oleh: Logos Indonesia.