Kesepian Pada Lansia Dapat Di Jelaskan Dalam Teori Psikologi

Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk memahami Dampak Kesepian pada Psikologi Lansia dengan memahami teori psikologi.

Logos IndonesiaDalam kehidupan kita, ada banyak momen yang membuat kita merasa kesepian. Namun lansia sering kali lebih rentan mengalami perasaan tersebut akibat berbagai perubahan dalam hidup mereka. Seperti pensiun, hilangnya pasangan atau teman, atau perubahan kesehatan dan kemampuan fisik. Kesepian tidak hanya berdampak pada kualitas hidup lansia, tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk memahami Dampak Kesepian pada Psikologi Lansia dengan memahami teori psikologi. Sehingga kita dapat membantu pada lansia agar bisa menjalani hidup yang lebih bahagia dan sehat.

Baca Artikel Kami Lainnya: Strategi Efektif untuk Membantu Remaja Berhenti Merokok

Sebelum kita membahas dampak kesepian pada psikologi lansia. Yuk kita ulas beberapa teori psikologi yang menjadi latar belakang fenomena ini. Ada beberapa teori yang kerap dikaitkan dengan kesepian pada lansia, seperti Teori Keterikatan, Teori Interaksi Sosial, dan Teori Komparasi Sosial. Memahami teori-teori ini akan membantu kita mengidentifikasi faktor yang menyebabkan kesepian pada lansia. Sehingga nantinya kita bisa menemukan cara terbaik untuk menghadapi dan mengatasi perasaan tersebut.

Teori Psikologis Tentang Kesepian pada Lansia

Berbagai teori psikologi telah dikembangkan untuk membantu memahami apa yang menyebabkan kesepian pada lansia. Dari banyak teori tersebut, tiga teori ini kerap dikaitkan dengan masalah kesepian pada lansia.  Teori tersebut yaitu Teori Keterikatan (Attachment Theory), Teori Interaksi Sosial (Social Interaction Theory), dan Teori Komparasi Sosial (Social Comparison Theory). Berikut ini penjelasan yang lebih mendalam tentang teori-teori tersebut:

1.     Teori Keterikatan (Attachment Theory)

Teori ini awalnya dikembangkan oleh psikolog John Bowlby untuk menjelaskan pentingnya hubungan antara bayi dan orang tua mereka. Namun teori ini juga berlaku pada hubungan antarpersona di sepanjang kehidupan, termasuk masa lansia. Menurut teori ini, semua manusia memiliki kebutuhan bawaan untuk menjalin ikatan emosional kuat dengan individu lain. Seperti, pasangan, teman, atau anggota keluarga.

Untuk lansia, hilangnya ‘figur yang melekat’. Ini, seperti pasangan atau teman baik akibat perceraian atau kematian. Hal ini dapat menciptakan perasaan kosong dan kesepian. Mereka yang memiliki ‘figur keterikatan’ yang kuat dapat merasa lebih aman dan kurang kesepian.

2.     Teori Interaksi Sosial (Social Interaction Theory)

Menurut teori ini, kesepian timbul dari kurangnya interaksi sosial yang berarti atau memuaskan. Ini bukan hanya soal berapa sering seseorang berinteraksi. Tetapi juga tentang seberapa memuaskan dan berarti interaksi itu baik secara emosional maupun sosial.

Pada lansia, mobilitas yang berkurang, isolasi fisik, atau kegagalan dalam menjalin interaksi sosial. Yang bermakna bisa membuat mereka merasa tidak puas dengan kehidupan sosial mereka. Ini pada akhirnya dapat meningkatkan perasaan kesepian. Oleh karena itu, membantu lansia untuk menjalin dan menjaga konektivitas sosial yang berarti adalah penting untuk meredakan kesepian.

3.     Teori Komparasi Sosial (Social Comparison Theory)

Teori ini, yang pertama kali diusulkan oleh psikolog sosial Leon Festinger. Menunjukkan bahwa individu sering mengevaluasi diri mereka sendiri dengan membandingkan diri mereka dengan orang lain. Bagi lansia, mereka mungkin membandingkan diri mereka dengan rekan-rekan sebaya lainnya. Bahkan membandingkan diri mereka sekarang dengan diri mereka di masa lalu.

Kesepian pada lansia mungkin timbul dari bebera situasi. Seperti jika mereka merasa kurang mampu, kurang dihargai, atau kurang dicintai dibandingkan dengan orang lain di lingkungan sosial mereka. Ini mungkin diperparah jika mereka merasa diri mereka kini lebih kurang berguna atau berharga. Mereka mungkin sering membandingkan dengan diri mereka di masa lalu dengan saat ini.

Dengan memahami teori-teori ini secara lebih mendalam, kita dapat lebih baik dalam mengidentifikasi dan merespon sumber kesepian pada lansia. Sehingga kita dapat membantu mereka menjalani kehidupan yang lebih bahagia dan memuaskan.

Dampak Kesepian pada Psikologi Lansia

 

Kesepian pada lansia bukan hanya menyedihkan, tapi juga bisa berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis mereka. Dampak tersebut di antaranya:

1.     Depresi dan Kecemasan

Kesepian dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan pada lansia. Individu yang merasa kesepian mungkin akan merasa tidak bahagia, murung, dan tidak bersemangat. Mereka juga bisa merasa cemas tentang masa depan dan merasa tidak nyaman dengan hidup mereka saat ini.

2.     Rasa Tidak Aman

Tanpa dukungan emosional dan sosial yang cukup, lansia mungkin merasa tidak aman. Hal ini berarti mereka bisa merasa lebih rentan dan khawatir tentang kondisi kesehatan mereka. Tentang masa depan mereka, atau tentang risiko yang mungkin mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

3.     Peningkatan Stres

Kesepian juga dapat meningkatkan stres pada lansia. Tanpa teman yang dapat diajak berbagi, lansia mungkin merasa kewalahan dengan tekanan dan tantangan sehari-hari. Stres yang berkepanjangan dan tidak teratasi ini kemudian bisa berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental mereka.

4.     Menurunnya Harga Diri dan Kepercayaan pada Diri Sendiri

Kesepian bisa mempengaruhi persepsi lansia tentang diri mereka sendiri. Mereka mungkin merasa tidak penting, tidak berharga, atau tidak mampu. Ini bisa menurunkan harga diri dan kepercayaan pada diri sendiri. Yang bisa berdampak negatif pada kesejahteraan emosional dan mental mereka, serta meningkatkan risiko masalah kesehatan mental lainnya.

Untuk membantu mengurangi efek negatif ini, penting untuk memberikan dukungan emosional dan sosial kepada lansia. Baik itu dari keluarga, teman, maupun profesional kesehatan mental.

Baca Artikel Kami Lainnya: Mengapa Seseorang Tidak Bisa Menangis dan Apa Artinya?

Artikel oleh: Logos Indonesia.