Perbedaan Pandangan Konsep Aktualisasi Carl Roger dan Abraham Maslow

Meskipun keduanya memiliki pandangan yang serupa tentang aktualisasi diri dan teori motivasi. Tetapi ada beberapa perbedaan.

Kerpibadian, Tokoh5741 Views

Logos IndonesiaCarl Rogers dan Abraham Maslow adalah dua tokoh utama dalam bidang psikologi humanistik. Meskipun keduanya memiliki pandangan yang serupa tentang aktualisasi diri dan teori motivasi. Tetapi ada beberapa perbedaan dalam pendekatan mereka.

Carl Rogers berpendapat bahwa setiap individu memiliki dorongan bawaan untuk mencapai aktualisasi diri. Menurut Rogers proses pengembangan potensi pribadi yang unik dan mencapai keseimbangan psikologis yang positif. Rogers menekankan pentingnya pengalaman subjektif individu dan pemahaman diri yang mendalam sebagai kunci untuk mencapai aktualisasi diri. Menurut Rogers kondisi-kondisi tertentu harus dipenuhi untuk mendukung pertumbuhan individu. Seperti penerimaan tanpa syarat, keaslian, dan empati dari orang lain. Rogers juga mengemukakan konsep “self” (diri), yaitu persepsi individu tentang dirinya sendiri. Konsep Self ini berkembang melalui interaksi sosial dan pengalaman pribadi.

Baca Artikel Kami Lainnya: Apa Itu Small Talk? Membangun Hubungan Akrab dengan Percakapan Ringan.

Di sisi lain, Abraham Maslow mengembangkan teori hierarki kebutuhan yang dikenal sebagai “Piramida Kebutuhan Maslow”. Menurut Maslow, individu memiliki serangkaian kebutuhan yang harus dipenuhi dalam urutan hierarkis. Pada tingkat terendah, terdapat kebutuhan fisiologis seperti makanan, air, dan tempat tinggal. Kemudian, individu mencari keamanan, hubungan sosial, harga diri, dan akhirnya mencapai aktualisasi diri sebagai kebutuhan puncak. Aktualisasi diri dalam pandangan Maslow mencakup pengembangan potensi pribadi, pemahaman diri, kreativitas, dan pencapaian pribadi.

Perbedaan utama antara pandangan Rogers dan Maslow terletak pada penekanan mereka dalam menjelaskan proses aktualisasi diri dan teori motivasi. Rogers lebih menekankan pengalaman subjektif individu, penerimaan tanpa syarat, dan pemahaman diri sebagai faktor penting dalam mencapai aktualisasi diri. Sementara itu, Maslow menyoroti hierarki kebutuhan. Jadi menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan dasar terlebih dahulu sebelum mencapai aktualisasi diri.

Meskipun ada perbedaan pendekatan, tapi kedua tokoh ini memberikan kontribusi yang penting dalam memahami potensi manusia. Bahwa pentingnya pemenuhan kebutuhan serta pengembangan pribadi dalam mencapai kehidupan yang memuaskan.

Perbedaan Teori Aktualisasi Diri Dari Carl Roger dan Abraham maslow

Carl Rogers dan Abraham Maslow adalah dua tokoh terkenal dalam psikologi humanistik yang mengembangkan pemahaman tentang aktualisasi diri. Meskipun keduanya memiliki pandangan yang mirip tentang pentingnya aktualisasi diri. Tapi ada beberapa perbedaan. Berikut adalah perbedaan-perbedaan utama di antara keduanya:

Konsep Self

Rogers berpendapat bahwa self (diri) adalah konsep sentral dalam pemahamannya. Menurutnya, self adalah persepsi individu tentang dirinya sendiri. Mencakup kesadaran diri, pengalaman diri, dan gambaran diri ideal. Rogers percaya bahwa aktualisasi diri terjadi ketika individu mengalami keselarasan antara self aktual (diri aktual) dan self ideal (gambaran diri yang diinginkan). Nah, jika tidak seimbang, akan mengalami gangguan secara psikologis.

Berbeda dengan Rogers, Freud memiliki pandangan yang berbeda dengan Rogers. Meskipun Maslow juga mengakui pentingnya self, pandangannya lebih berfokus pada konsep aktualisasi diri dan kebutuhan manusia yang lebih luas. Bagi Maslow, aktualisasi diri adalah proses pengembangan dan pemenuhan potensi-potensi individu yang paling tinggi. Freud melihat self sebagai bagian dari proses aktualisasi diri. Tetapi tidak begitu menekankan konsep self seperti yang dilakukan Rogers.

Hierarki Kebutuhan

Rogers tidak mengembangkan hierarki kebutuhan seperti yang dilakukan Maslow. Ia lebih menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan psikologis dasar. Seperti kebutuhan akan penerimaan, penghargaan, dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

Sedangkan, Maslow mengembangkan hierarki kebutuhan dalam teorinya tentang aktualisasi diri. Menurutnya, individu memiliki hierarki kebutuhan yang berkembang secara berurutan. Dimulai dari kebutuhan fisik dasar (misalnya, makanan, air, dan tempat tinggal) hingga kebutuhan psikologis yang lebih tinggi. Seperti kebutuhan akan cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri.

Fokus Terapi

Rogers menekankan pendekatan terapi yang dikembangkan oleh Rogers sendiri. Pendekatan terapi ini dikenal sebagai Terapi Kepribadian Berpusat pada Klien (Client-Centered Therapy). Terapi ini berfokus pada menciptakan lingkungan terapeutik yang menerima, empatik, dan tidak menghakimi. Sehingga individu dapat mengembangkan dan mewujudkan potensi mereka.

Sedangkan Maslow tidak mengembangkan pendekatan terapi khusus seperti Rogers. Namun, konsep aktualisasi diri yang dikembangkan olehnya memberikan dasar bagi terapi-terapi humanistik. Terapi maslow ini berorientasi pada pertumbuhan pribadi dan pemenuhan potensi individu.

Pemahaman tentang Manusia

Rogers melihat manusia sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan alami untuk pertumbuhan. Dan setiap individu memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri untuk mencapai potensi penuhnya. Rogers meyakini bahwa setiap orang memiliki dorongan bawaan untuk menjadi diri yang sejati. Menjadi individu yang berkembang secara positif jika diberikan kondisi yang mendukung.

Sedangkan Maslow juga melihat manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk pertumbuhan dan aktualisasi diri. Namun, ia menekankan bahwa individu perlu memenuhi kebutuhan dasar terlebih dahulu. Seperti kebutuhan fisik dan keamanan sebelum mereka dapat mencapai tingkat aktualisasi diri yang lebih tinggi.

Meskipun ada perbedaan dalam pendekatan mereka. Baik Rogers maupun Maslow memberikan kontribusi penting dalam mendorong proses aktualisasi diri manusia. Keduanya memiliki keyakinan bahwa setiap individu memiliki potensinya masing-masing. dyan dapat mencapai pemenuhan pribadi melalui pertumbuhan, pengembangan, dan eksplorasi diri yang positif.

Baca Artikel Kami Lainnya: Deep Talk dalam Lingkungan Kerja.

Artikel oleh: Logos Indonesia.