Psikologi Lingkungan Perkotaan dan Teori Perilaku Terencana

Salah satu teori yang membahas hubungan antara manusia dan lingkungannya adalah 'Teori Perilaku Terencana' yang diusung oleh Icek Ajzen.

Relationship, Sosial1788 Views

Logos IndonesiaKamu pasti sudah familiar dengan istilah psikologi, yaitu ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia. Nah, psikologi ini tidak hanya berfokus pada aspek individu, tetapi juga hubungannya dengan lingkungan sekitar, termasuk lingkungan perkotaan. Salah satu teori yang digunakan banyak orang untuk membahas hubungan antara manusia dan lingkungannya adalah ‘Teori Perilaku Terencana’ yang diusung oleh Icek Ajzen.

Apa Itu Teori Perilaku Terencana?

Dalam bahasa asing dikenal sebagai ‘Theory of Planned Behavior’ (TPB). Jadi, TPB ini menjelaskan bahwa perilaku kita sebenarnya adalah hasil dari rencana, bukan semata-mata spontanitas. Dalam teori ini ada tiga komponen utama yang mempengaruhi perilaku terencana, yaitu Sikap, Norma Subjektif, dan Kontrol Perilaku yang Dirasakan.

1. Sikap

Sikap adalah pendirian yang kita miliki terhadap suatu hal atau ide. Misalnya, kamu jadi berpikir kalau naik sepeda ke kantor itu lebih baik daripada naik mobil. Hal ini karena kamu mungkin memiliki sikap positif terhadap gaya hidup sehat dan ramah lingkungan.

2. Norma Subjektif

Norma subjektif adalah tekanan sosial yang kita rasakan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku. Bayangkan kalau rekan-rekan kantor kita juga lebih menyukai naik sepeda. Maka, kita pun bisa merasa termotivasi untuk bersepeda ke kantor, karena kita tidak ingin “diluar” grup.

3. Kontrol Perilaku yang Dirasakan

Ini adalah sejauh mana kita merasa mampu dan memiliki kontrol untuk melakukan perilaku tersebut. Misalnya, kalau untuk naik sepeda ke kantor, kamu perlu punya sepeda dan jarak rumah ke kantormu tidak terlalu jauh dan aman untuk ditempuh dengan sepeda.

Teori Perilaku Terencana dalam Konteks Perkotaan

Kini, balik lagi ke psikologi lingkungan perkotaan. Lalu, bagaimana teori ini berlaku di lingkungan perkotaan?

Perkotaan merupakan area yang padat dan kompleks, dengan berbagai pilihan perilaku yang bisa kita lakukan. Misalnya soal cara kita bepergian, apa yang kita konsumsi, bagaimana kita membuang sampah, dan sebagainya. Dalam mengambil keputusan tersebut, TPB bisa menjadi panduan bagus.

Contohnya, kita mungkin jadi memilih untuk menggunakan transportasi publik atau berjalan kaki ke kantor, bukan karena kebetulan tetapi karena rencana dan pertimbangan kita berdasarkan tiga komponen di atas. Atau, kita mungkin jadi lebih sering memilah sampah untuk didaur ulang, bukan sekadar karena lihat orang lain lakukan, tetapi karena kita mempertimbangannya secara serius.

Contoh Penerapan Teori Perilaku Terencana Dalam Konteks Kehidupan Perkotaan

Tahukah kamu bahwa setiap keputusan kita dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya adalah hasil dari serangkaian pertimbangan yang kompleks dan bukan semata-mata tindakan spontan? Yak, hal ini dijelaskan oleh Teori Perilaku Terencana, sebuah konsep dalam psikologi yang menyatakan bahwa sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan berperan besar dalam merencanakan perilaku kita.

Nah, teori ini tak cuma berlaku di lingkup pribadi, tapi juga dalam konteks kehidupan kota yang ramai dan dinamis. Lho, kok bisa? Yuk, kita telusuri lebih lanjut melalui beberapa contoh penerapan Teori Perilaku Terencana dalam konteks kehidupan perkotaan. Misalnya, saat kita memilih untuk menggunakan transportasi publik daripada mobil pribadi, atau ketika kita memutuskan untuk mulai memilah sampah. Kita akan melihat betapa kompleksnya proses di balik keputusan tersebut, yang ternyata tak sekadar sembarangan, lho!

Penggunaan Kendaraan Pribadi vs Transportasi Publik

Sikap: Kamu mungkin memiliki sikap positif terhadap penggunaan transportasi publik karena lebih ramah lingkungan dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi.

Norma subjektif: Teman-temanmu juga menggunakan transportasi publik dan ini membuat kamu merasa transportasi publik adalah pilihan yang baik.

Kontrol perilaku yang dirasakan: Kamu tinggal dekat stasiun kereta atau halte bus, jadi kamu merasa mudah untuk menggunakan transportasi publik.

Dengan ketiga komponen ini, kamu kemudian memutuskan untuk menggunakan transportasi publik sebagai sarana berpindah tempat sehari-hari, bukan karena alasan spontan, tetapi berdasarkan rencana dan pertimbangan yang matang.

Pemilahan Sampah

Sikap: Kamu memiliki pandangan positif terhadap pemilahan sampah karena berkontribusi untuk mengurangi sampah dan menyelamatkan lingkungan.

Norma subjektif: Lingkungan sekitarmu juga melakukan pemilahan sampah, membuatmu merasa bahwa perilaku ini adalah hal yang benar.

Baca Artikel Kami Lainnya: Yuk Belajar tentang Psikologi Lingkungan Perkotaan!

Kontrol perilaku yang dirasakan: Kamu memiliki pengetahuan dan wadah khusus untuk memilah sampah, oleh karena itu, kamu merasa mampu untuk melakukan pemilahan sampah di rumah.

Dari ketiga komponen ini, kamupun memutuskan untuk memilah sampah di rumah. Keputusan ini bukanlah tindakan spontan tetapi berdasarkan pertimbangan dan rencana yang telah dipikirkan sebelumnya.

Dengan memahami Teori Perilaku Terencana, kita dapat lebih memahami bagaimana cara kerja kita dalam membuat keputusan dan merencanakan perilaku kita, terutama dalam konteks lingkungan perkotaan. Semoga penjelasan ini memberikan gambaran lebih jelas untuk kamu!

Baca Artikel Kami Lainnya:  Ternyata Perbedaan Iklim Mampu Mempengaruhi Perilaku Manusia

Artikel oleh: Logos Indonesia.