Apa Saja Sih yang Dibahas dalam Psikologi Lingkungan Perkotaan?

Nah, di sini kita akan membahas mengenai psikologi lingkungan perkotaan. Apa saja sih yang dibahas dalam topik ini?

Relationship, Sosial1897 Views

Logos IndonesiaSeiring dengan pertumbuhan populasi dan perkembangan zaman. Begitu banyak orang yang mulai bermigrasi ke kota-kota besar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Keadaan ini mengakibatkan perkotaan menjadi semakin padat dan kompleks. Nah, di sini kita akan membahas mengenai psikologi lingkungan perkotaan. Apa saja sih yang dibahas dalam topik ini?

Psikologi lingkungan mempelajari bagaimana kita, sebagai manusia, berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan kita, termasuk lingkungan perkotaan. Ada beberapa aspek yang dibahas dalam psikologi lingkungan ini, mari kita simak!

Kesehatan Mental dan Emosional

Salah satu hal yang penting dibahas dalam psikologi lingkungan perkotaan adalah bagaimana lingkungan perkotaan memengaruhi kesejahteraan mental dan emosional kamu. Contohnya, terlalu banyak gangguan suara atau polusi udara mungkin bisa membuat kamu merasa stres atau agitasi. Selain itu, tingkat kejahatan yang lebih tinggi di daerah perkotaan juga bisa membuat kamu merasa tidak aman atau cemas.

Interaksi Sosial dan Hubungan

Saat kamu berada di sebuah kota besar, ada satu hal yang tidak bisa diabaikan: banyaknya orang. Di setiap sudut. Baik di halte bus, di taman, maupun di kafe. Kamu akan selalu bertemu dengan orang lain. Kehidupan perkotaan seringkali punya ritme yang cepat dan padat. Sehingga interaksi sosial seringkali menjadi sesuatu yang sifatnya kilat dan permukaan.

Tinggal di kota besar juga membuat kita melihat berbagai jenis orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Budaya, etnis, agama, dan cara pandang yang berbeda saat bertemu di kota besar. Hal ini dapat menjadi peluang untuk belajar dan menerima keberagaman. Di sisi lain, jumlah orang yang banyak dan keberagaman ini dapat mempengaruhi cara kita menjalin hubungan.

Kamu mungkin merasa sulit untuk membangun hubungan yang dekat dan hangat dengan orang lain. Kenapa? Karena tingginya jumlah populasi, kita cenderung menjadi lebih selektif dalam memilih dengan siapa kita menjalin hubungan. Kamu akan lebih selektif dalam menentukan siapa yang layak mendapatkan waktu dan energi kamu, dan ini bukan hal yang buruk. Namun, tinggal di kota dapat memberikan rasa anonimitas yang lebih besar. Di mana kamu bisa merasa sendirian meski dikelilingi banyak orang.

Mobilitas dan Transportasi

Bergerak dari satu tempat ke tempat lain adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Dalam konteks perkotaan, mobilitas ini menjadi sesuatu yang sangat penting. Kota-kota besar biasanya punya infrastruktur yang mendukung mobilitas, seperti sistem transportasi umum yang baik dan jaringan jalan yang luas. Jadi, kemana pun kamu ingin pergi, seharusnya mudah bukan?

Di sisi lain, kota juga datang dengan tantangan mobilitasnya sendiri. Misalnya, siapa yang tidak frustasi dengan kemacetan lalu lintas? Atau, pernahkah kamu merasa kesal karena tidak menemukan tempat parkir? Dalam jangka panjang, hal ini bisa berpotensi menambah tingkat stres kamu.

Baca Artikel Kami Lainnya: Kenapa Negara Maju Memilih Tidak Punya Anak?

Mobilitas perkotaan tidak hanya soal seberapa cepat kamu bisa sampai ke tujuan, tetapi juga tentang bagaimana perjalanan itu mempengaruhi kesejahteraanmu. Misalnya, berjam-jam duduk di dalam kemacetan bisa membuat kita merasa lelah dan tertekan, tidak mencapai produktivitas. Kemudian  kurang waktu untuk bersantai atau menjalani hobi, bahkan mempengaruhi kesehatan jasmani kita.

Namun, di sisi lain, mobilitas perkotaan juga bisa memberikan dampak positif. Misalnya, berjalan atau bersepeda ke tempat kerja bisa menjadi olahraga rutin yang baik untuk Kesehatan. Kemudian berinteraksi dengan orang-orang di dalam transportasi umum. Yang bisa menjadi cara untuk membangun empati dan memahami berbagai latar belakang yang ada di sekitar kita.

Ruang Publik dan Akses Ke Alam

Ruang publik seperti taman kota atau bahkan ruang terbuka seperti lapangan bisa menjadi ‘paru-paru kota’. Tempat seperti ini tidak hanya menyediakan udara yang lebih segar di tengah polusi yang mungkin ada. Tetapi juga menjadi tempat untuk kita melepaskan penat. Kita bisa membaca buku, berjogging, bermain dengan anak-anak, bahkan hanya duduk dan menikmati pemandangan.

Sayangnya, di banyak kota, ruang hijau dan ruang publik seperti ini seringkali terbatas. Keberadaan gedung-gedung tinggi dan beton-beton kota bisa membuat kita merasa seperti terkurung. Kurangnya akses ke alam bisa membuat kita mudah merasa jenuh dan stres. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk melestarikan lebih banyak ruang publik dan akses ke alam di perkotaan.

Adaptasi dan Perubahan

Kota-kota adalah tempat yang selalu berubah. Dari segi fisik, bangunan-bangunan baru terus bermunculan. Sedangkan beberapa yang lama mungkin saja diruntuhkan. Sementara dari segi sosial, kita bisa melihat adanya perubahan demografi, urbanisasi, hingga gentrifikasi. Di samping itu, perubahan iklim dan tekanan ekonomi juga menjadi tantangan yang harus kita hadapi.

Adaptasi dan perubahan adalah dua kata yang sering kita dengar dalam kehidupan perkotaan. Bagaimana kita menyikapi dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan ini bisa sangat memengaruhi kesejahteraan dan kualitas hidup kita.

Misalnya, bagaimana kamu menyesuaikan diri jika kota tempat kamu tinggal mulai dikuasai oleh perusahaan besar. Sehingga harga properti menjadi sangat tinggi (gentrifikasi). Atau bagaimana kamu menjaga kesehatan dan kehidupan sosial kamu saat pandemi? Bagaimana kamu merespons ketika cuaca di kota kamu berubah menjadi lebih panas atau lebih dingin akibat perubahan iklim?

Pada akhirnya, memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan baik terhadap berbagai perubahan di perkotaan adalah kunci dari kebahagiaan dalam hidup di kota. Bukan berarti kita harus pasrah dan menerima semua perubahan yang ada. Tapi kita juga perlu belajar bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah ini dan berusaha menjadi bagian dari solusinya.

Baca Artikel Kami Lainnya: Bagaimana Jika Suatu Negara Tidak Memiliki Generasi Muda? Mengulik Dampak Psikologisnya

Artikel oleh: Logos Indonesia.