Ini Penyebab Seseorang Mengalami Gangguan Panik dengan Agorafobia

Gangguan panik dan agorafobia cukup banyak dialami oleh masyarakat. Tapi tidak semua orang tahu apa penyebab dari gangguan tersebut.

Klinis1111 Views

Logos IndonesiaPernahkah kamu merasa takut berlebihan sampai panik, namun tidak bisa menentukan apa yang membuatmu merasa takut? Atau mungkin kamu merasa begitu takut sampai tidak mau keluar rumah karena takut akan panik dan merasa terancam? Jika ya, bisa jadi kamu mengalami apa yang disebut dengan gangguan panik dan agorafobia. Sebelum kita menelusuri lebih jauh, mari kita mengenal kedua istilah ini.

Gangguan panik adalah kondisi ketika seseorang merasa panik yang berlebihan dan sering kali tiba-tiba datang tanpa sebab yang pasti. Orang yang mengalami gangguan panik biasanya merasa takut dan cemas berlebih tanpa alasan yang jelas. Sedangkan agorafobia adalah rasa takut berlebihan terhadap tempat atau situasi yang membuat seseorang merasa terjebak, malu, atau tidak memiliki bantuan. Kedua kondisi ini bisa sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan, sekolah, dan hubungan sosial.

Baca Artikel Kami Lainnya: Ini Perbedaan Dan Persamaan Agorafobia dan Fobia Sosial

Data menunjukkan bahwa gangguan panik dan agorafobia cukup banyak dialami oleh masyarakat. Meski banyak dijumpai, tidak semua orang tahu apa yang menjadi penyebab dari gangguan tersebut. Jadi, pada artikel ini kita akan membahas apa saja yang bisa menjadi penyebab gangguan panik dan agorafobia.

Penyebab Gangguan Panik dengan Agorafobia

Faktor Biologis

Beberapa kasus seseorang yang mengalami gangguan panik dengan agrofobia dari factor turunan. Hal ini karena orangtuanya yang juga mengalami hal sama. Selain ‘warisan’ genetik, gangguan panik dan agorafobia juga bisa disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan kimia di otak kita. Jadi, otak kita itu tuh punya bahan kimia khusus yang mengontrol mood atau suasana hati kita. Nah, kalo ada ‘gangguan’ pada bahan kimia tersebut, bisa jadi kita merasa panik atau takut secara berlebihan.

Terakhir, stres juga bisa menjadi pemicu gangguan ini. Kita tahu kan bahwa stres itu bisa membuat kita jadi mudah cemas atau takut. Nah, bayangkan jika tubuh terus menerus berada dalam kondisi stres, bisa bikin badan kita jadi ‘kaget’ dan reaksi ‘lari atau lawan’ kita jadi mudah terpicu.

Faktor Psikologis

Eits, tapi jangan kira hanya bahan kimia atau gen saja yang menjadi penyebab. Ada faktor lagi nih yang bisa memicu gangguan panik dan agorafobia, yaitu faktor psikologis.

Pertama, bisa jadi kamu punya kondisi kesehatan mental lainnya yang ‘mengundang’ gangguan ini datang. Misalnya, jika kamu memiliki gangguan kecemasan lain, bisa jadi gangguan panik dan agorafobia ingin ‘ikut meramaikan’. Jadi, penting buat kita untuk memastikan kesehatan mental kita tetap seimbang, Sobat!

Bukan hanya itu, trauma atau pengalaman buruk bisa jadi biang keroknya. Jadi, jika kamu punya kenangan atau pengalaman yang menakutkan, bisa jadi pengalaman itulah yang membuat kamu merasa panik atau takut berlebihan.

Terakhir, kepribadian yang cenderung cemas atau ‘waspada’ juga bisa menjadi pemicu. Jadi, jika kamu merasa bahwa diri kamu itu cenderung ‘khawatir’, cobalah untuk ‘berdamai’ dan belajar mengendalikan perasaan tersebut.

Faktor Sosial

Nah, terakhir, ada faktor sosial. Lingkungan kerja atau lingkungan rumah yang tidak nyaman bisa jadi membuat kita menjadi mudah panik atau takut. Jadi, pastikan Sobat semua memiliki lingkungan yang nyaman, aman dan mendukung ya!

Begitu juga dengan dukungan sosial. Jangan meremehkan kekuatan dari teman atau orang terdekat ya! Karena tidak adanya dukungan sosial juga bisa memicu munculnya rasa panik tersebut. Jadi, pastikan Sobat punya teman atau orang terdekat yang bisa diandalkan dan bisa jadi tempat berbagi cerita.

Proses Bagaimana Gangguan Panik Dapat Memicu Agorafobia

Ketika kita mengalami gangguan panik, proses yang terjadi bisa memicu agorafobia. Mari kita bahas langkah demi langkah bagaimana ini bisa terjadi:

  1. Keengganan untuk berhadapan dengan situasi yang memicu panik: Kita mungkin sering merasa khawatir atau cemas ketika berada di tempat atau situasi yang sebelumnya pernah memicu gangguan panik. Karena itu, kita cenderung menghindari situasi tersebut agar tidak merasa panik kembali.
  2. Menghindari tempat atau situasi yang dianggap tidak aman: Agar merasa lebih aman, kita terkadang memutuskan untuk menghindari tempat-tempat atau situasi yang kita anggap berisiko menyebabkan serangan panik. Sebagai contoh, kita mungkin memilih untuk tidak bepergian keluar rumah atau menghindari tempat-tempat ramai seperti pusat perbelanjaan dan stasiun kereta api.
  3. Ketergantungan pada orang lain untuk menghadapi tantangan: Dalam beberapa kasus, kita mungkin merasa lebih nyaman jika ada seseorang yang menemani kita saat menghadapi situasi yang menyebabkan rasa cemas. Ketergantungan pada orang lain ini bisa menguatkan rasa takut kita terhadap situasi atau tempat yang dianggap tidak aman ketika kita sendirian.

Dalam proses ini, kita mungkin tidak menyadari bahwa keengganan menghadapi situasi yang memicu panik dan menghindari tempat yang dianggap tidak aman. Hal ini justru memperkuat rasa takut kita. Akhirnya, ketakutan ini bisa berkembang menjadi agoraphobia. Yang membuat kita sulit untuk menghadapi situasi di luar rumah atau tempat yang kita anggap aman.

Pengaruh Agorafobia Pada Pengalaman Gangguan Panik

Agorafobia tentu saja berpengaruh besar pada pengalaman seseorang yang memiliki gangguan panik. Dampak tersebut bisa jadi fisik dan psikis. Mari kita lihat apa saja dampak tersebut:

  1. Tertekan dan tidak bisa berkonsentrasi: Agorafobia bisa membuat kamu merasakan tekanan yang besar. Rasa takut yang konstan terhadap kondisi atau situasi tertentu bisa membuatmu terus-menerus cemas dan ini bisa berdampak pada konsentrasi. Jika kamu terus merasakan hal ini, kemampuanmu untuk fokus pada tugas atau pekerjaan bisa terganggu.
  2. Fisik yang lemah dan mudah stres: Stres tidak hanya mempengaruhi pikiran kita, tapi juga tubuh. Ketika kita terus-menerus cemas dan merasa takut, tubuh kita berada dalam kondisi siaga yang tinggi. Hal ini bisa membuat kita merasa lelah dan lemah, serta mudah merasa stres.
  3. Dampak pada kualitas hidup : Agorafobia juga bisa berdampak signifikan pada kualitas hidup. Kita bisa merasa terisolasi, kesulitan menjalin hubungan sosial, atau merasa sulit untuk menghadiri kegiatan sehari-hari. Hal ini tentunya bisa menurunkan kualitas hidup kita secara keseluruhan.

Untuk mengatasi ini, sangat penting untuk meminta bantuan. Kamu bisa mencari dukungan dari ahli kesehatan mental, terapis, atau grup dukungan. Dengan bantuan, kamu bisa belajar cara mengelola gejala agorafobia dan merasa lebih baik dalam menghadapi situasi yang menimbulkan ketakutan.

Baca Artikel Kami Lainnya: Pahami Pengertian Fobia Sosial dan Contohnya

Artikel oleh: Logos Indonesia.