Mengenal Labelling pada Anak dan Dampaknya Bagi Perkembangan Mental Anak

Labelling dalam ilmu psikologi merupakan pemberian label atau julukan atas perilaku dan sifat seseorang. Pemberian label ini dapat berpengaruh terhadap mental anak. Berikut dampak labelling bagi perkembangan mental anak.

Klinis, Perkembangan4192 Views

Logos Indonesia – Tanpa disadari, terkadang kita melakukan labelling pada orang lain, seperti: “pemalas kamu”, Perlu diketahui, istilah labelling atau pemberian label dalam ilmu psikologi merupakan pemberian cap, atribut atau julukan buruk pada pribadi orang lain. Ternyata, labelling ini berdampak negatif pada seseorang apalagi bagi perkembangan mental anak.

Oleh karena itu, labelling harus dihindari sejak dini. Ajarkan untuk tidak memberikan label buruk kepada anak supaya perkembangan mental anak sehat. Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sebenarnya labelling itu? Mengapa kita harus menghindari dan apa saja dampaknya? Simak informasi tentang labelling dalam bidang psikologi berikut ini.

Apa Itu Labelling?

Photo by Pixabay@Sabrina Eickhoff

Perlu diketahui, labelling dalam ilmu psikologi merupakan pemberian label, atribut, cap atau mendeskripsikan manusia berdasarkan sifat, tindakan, dan perilakunya. Labelling bisa terjadi oleh siapa saja dan dilakukan oleh siapa saja bahkan orangtua, guru sampai dengan teman bisa melakukan pemberian label ini.

Memang pemberian atribut ini terlihat sepele, namun dampaknya bisa berakibat fatal, apalagi untuk perkembangan mental anak. Hal tersebut karena anak akan berperilaku seperti atribut yang diberikan kepadanya. Contoh: ketika anak menjatuhkan benda dan orangtua langsung melabelinya ceroboh, selanjutnya anak akan ceroboh seterusnya. Oleh karena itu, hindari labelling.

Meski dampak labelling tergantung dari kepribadian anak, baik labelling positif maupun labelling negatif harus dihindari. Itu karena labelling positif akan menjadikan anak terlalu percaya diri. Sementara, labelling negatif dapat menyebabkan kepercayaan diri anak berkurang.

Baca artikel kami lainnya: Ingin Membentuk Karakter Positif pada Anak Sejak Dini? Ikuti 5 Tips Parenting Ini

Dampak Labelling Bagi Perkembangan Mental Anak

Setiap labelling memiliki dampak yang buruk pada perkembangan dan kesehatan mental anak. Sudah sepatutnya untuk dihindari. Adapun dampak labelling bagi perkembangan mental anak adalah sebagai berikut.

Menyebabkan Anak Mudah Menyerah

Bukan rahasia lagi, perkembangan mental anak dipengaruhi oleh pola asuh orangtua. Jika di masa tumbuh kembang anak, orangtua sudah memberikan label buruk kepada anak, maka anak akan mudah menyerah bahkan putus asa. Itu karena rasa percaya diri anak menurun, anak akan berpikir apa pun yang dilakukannya akan tetap salah di mata orangtuanya.

Jiwa Kreativitas Anak Terbatasi

Photo by Pixabay@ Aline Ponce

Pemberian label kepada anak dapat membatasi kreativitas anak. Pada dasarnya, jiwa kreativitas pada anak itu tumbuh secara alami. Namun, jika orangtua sudah memberikan label “pemalas’ pada anak, maka kreativitas anak menjadi terhambat. Pola pikir anak akan terbentuk menjadi seorang pemalas dan enggan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Sebaliknya, jika orangtua melabeli buah hatinya “anak rajin” juga bisa membuat anak tertekan dan menjadi tidak kreatif lagi. Hal tersebut karena tidak selamanya anak harus selalu rajin, ada waktunya ia merasa lelah dan istirahat sejenak untuk bersantai.

Menghambat Potensi Diri dan Perkembangan Mental Anak

Labelling bisa mempengaruhi potensi diri dan perkembangan mental anak. Pemberian label ini membuat pola pikir berubah-ubah. Perubahan pola pikir dapat berpengaruh pada kesehatan mental. Pastinya, mental yang kurang sehat dapat menghambat potensi diri pada perkembangan anak.

Tingkah Laku Anak Akan Mengalami Perubahan

Photo by Pixabay@Shlomaster

Perlu diingat, labelling baik atau buruk dapat mempengaruhi tingkah laku dan perilaku anak. Pemberian label, seperti “anak nakal” akan mengubah tingkah laku anak menjadi nakal terus hingga dewasa. Sementara, labelling baik, seperti: “anak rajin” dapat membuat anak tertekan jika sewaktu-waktu anak menjadi malas.

Oleh karena itu, hindari labelling apapun bentuknya. Utamakan komunikasi yang baik dengan anak supaya anak merasa lebih dihargai daripada memberikan atribut pada perilakunya.

Baca artikel kami lainnya: Tips Agar Anak Rajin Belajar Di Rumah

Tips Hindari Melakukan Labelling pada Anak

Berdasarkan dampak labelling yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan kesehatan mental anak. Ada tips tertentu supaya terhindar dari labelling baik kepada anak maupun orang lain. Berikut tips untuk menghindari labelling.

Berkomunikasilah dengan Anak Ketika Ia Berperilaku Menyimpang

Photo by Pixabay@Diana Cibotari

Komunikasi itu penting, apalagi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Di masa pertumbuhan dan perkembangan anak, memang sering terjadi perubahan perilaku, di sinilah orangtua harus berkomunikasi dengan anak. Jika anak berperilaku menyimpang, komunikasikan dengan baik dan tanyakan alasan ia berperilaku menyimpang.

Hindari mengambil jalan pintas, seperti: melabeli anak ketika anak mulai nakal dan bandel. Komunikasikan dengan hati ke hati supaya anak merasa lebih dihargai dan disayangi.

Fokuslah pada Perilaku Anak, Bukan pada Pelakunya

Photo by Pixabay@Dana

Memang belajar untuk bijaksana itu sulit. Namun, jika kita bersungguh-sungguh memaknai segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, pelan-pelan sikap bijaksana akan muncul. Hal tersebut juga berlaku dalam pola asuh anak.

Kembangkan pola asuh yang fokus pada perilaku anak, bukan pada si pelakunya. Dengan tips ini, kemungkinan akan terhindar dari labelling. Contoh: jika seorang anak “suka jahil” kepada temannya, jelaskan kepada anak bahwa jahil kepada teman adalah perilaku kurang baik. Hindari melabeli anak bahwa “dia adalah anak jahil”.

Berani Meminta Maaf, Jika Terlanjur Melabeli Anak

Photo by Pixabay@ skalekar1992

Bisa dibilang meminta maaf kepada orang lain apalagi anak, itu susah. Namun, untuk perkembangan mental anak, alangkah baiknya belajar meminta maaf kepada anak, jika terlanjur melabeli anak. Dengan tips ini, anak akan merasa dihargai dan intropeksi diri untuk memperbaiki kesalahan.

Meminta maaf merupakan salah satu pola asuh yang lembut. Tentunya, dengan kelembutan dan pola asuh yang bijaksana, perkembangan mental anak tumbuh dengan baik. Bisa jadi, anak akan menjadi pribadi yang bijaksana ketika ia dewasa nanti.