Miskonsepsi tentang Agorafobia dan Fobia Sosial yang muncul di Masyarakat

Namun sayangnya, berbagai miskonsepsi tentang Agorafobia dan Fobia Sosial masih saja beredar di masyarakat.

Klinis, Sosial2990 Views

Logos IndonesiaSaat kita mendengar kata ‘fobia’, apa yang pertama kali terlintas di pikiran kamu? Dalam bahasa yang paling awam, fobia bisa diartikan sebagai takut. Ada banyak jenis fobia, tapi kali ini, kita akan membahas dua di antaranya, yaitu Agorafobia dan Fobia Sosial. Tunggu, apakah kamu tahu apa itu Agorafobia dan Fobia Sosial? Atau malah kamu salah kaprah dalam memahami dua fobia ini? Tenang, kamu tidak sendiri. Banyak dari kita yang masih memiliki miskonsepsi tentang kedua fobia tersebut.

Baca Artikel Kami Lainnya: Kenali Perbedaan Orang Yang Fobia Dan Rasa Takut Biasa

Agorafobia dan Fobia Sosial bukanlah sekadar ‘takut’. Jauh lebih kompleks dari itu. Dua fobia ini adalah kondisi nyata yang mempengaruhi hidup orang-orang di sekitar kita setiap hari. Bahkan mungkin seseorang yang kamu kenal. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk memahami sejauh mana dampak Agorafobia dan Fobia Sosial. Tidak hanya untuk meringankan penderitaan mereka yang terkena, tetapi juga untuk menghapus miskonsepsi yang salah tentang masalah kesehatan mental ini.

Namun sayangnya, berbagai miskonsepsi tentang Agorafobia dan Fobia Sosial masih saja beredar di masyarakat. Miskonsepsi ini muncul karena kurangnya pengetahuan atau pemahaman yang tepat tentang dua kondisi ini. Biasanya, stereotip dan pengetahuan yang salah diperoleh dari media massa atau berdasarkan pengalaman pribadi yang mungkin tidak akurat.

Miskonsepsi Umum Tentang Agorafobia

Pertama-tama, mari kita bahas tentang apa itu Agorafobia. Jika kamu mengira bahwa ini hanya tentang takut berada di keramaian. Maka kamu harus membaca penjelasan berikut. Agorafobia adalah gangguan kecemasan yang muncul saat seseorang merasa takut dan cemas yang berlebihan terhadap situasi atau tempat yang mungkin membuatnya merasa terjebak, malu, atau tidak dapat mendapat pertolongan. Bukan hanya ruang terbuka loh. Ini juga bisa mencakup tempat-tempat tertentu seperti pusat perbelanjaan, kendaraan umum, atau bahkan lift.

Jika kita bicara tentang simptom dan gejala. Maka orang dengan Agorafobia biasanya merasa sangat cemas atau panik ketika berada di situasi-situasi yang ditakutinya tersebut. Bisa jadi, mereka akan merasa takut berada di tempat tersebut sendirian, takut kehilangan kendali, hingga merasa akan mengalami serangan panik. Sedangkan penyebab dan faktor risikonya? Meski tidak ada yang pasti, faktor genetik dan lingkungan diperkirakan berperan dalam mengembangkan Agorafobia ini.

Sekarang kita beralih ke miskonsepsi umum tentang Agorafobia. Salah satu yang paling sering kita dengar adalah “Orang dengan Agorafobia hanya takut pada kerumunan atau tempat terbuka saja.” Tapi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Agorafobia tidak hanya tentang ketakutan berada di ruang terbuka atau keramaian. Ini melibatkan rasa takut yang berlebihan terhadap berbagai situasi atau tempat yang memicu rasa panik atau merasa terjebak.

Lalu, alasan mengapa kesalahpahaman ini berbahaya? Sederhana saja. Jika kita salah memahami apa itu Agorafobia. Maka kita mungkin melewatkan tanda dan gejala di dalam diri kita sendiri atau orang lain. Sehingga membuat diagnosis menjadi lebih sulit dan penanganannya menjadi terlambat. Jadi, kenali dan pahami, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk membantu orang lain juga.

Miskonsepsi Umum Tentang Fobia Sosial

Jangan langsung berpikir bahwa “Ah, itu pasti takut bertemu orang.” Ada lebih dari itu. Fobia Sosial, juga dikenal sebagai gangguan kecemasan sosial. Fobia sosial adalah ketakutan yang irasional dan berlebihan terhadap situasi sosial. Ini bukan hanya rasa malu yang biasa, lho. Orang dengan Fobia Sosial sering merasa sangat khawatir berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Sebelum acara sosial dan bisa merasakan kecemasan yang intens hingga mengganggu kehidupan sehari-harinya.

Soal gejala, kamu mungkin melihat seseorang dengan Fobia Sosial mencoba untuk menghindari situasi sosial. Seperti bertemu teman atau berbicara di depan umum. Jantung berdebar-debar, gemetar, merasa mual, bahkan pusing. Ini adalah beberapa gejala fisik yang mungkin mereka alami. Sedangkan penyebab dan faktor risiko, sejauh ini masih belum jelas. Namun perpaduan antara faktor genetik, lingkungan dan kimia otak dipercaya memiliki peran penting.

Gimana dengan miskonsepsi seputar Fobia Sosial? Nah, banyak yang berpikir “Orang dengan Fobia Sosial hanya pemalu dan harus berusaha lebih keras untuk bergaul.” Sayangnya, miskonsepsi ini jauh dari kenyataan. Fobia Sosial bukan tentang keberanian untuk ‘bergaul’, ini adalah kondisi medis yang serius dan membutuhkan penanganan profesional.

Miskonsepsi ini sangat berbahaya. Karena ketika seseorang memahaminya sebagai sesuatu yang dapat diatasi ‘dengan berusaha lebih keras’. Maka bisa menjadikan orang yang memiliki Fobia Sosial merasa bersalah dan frustrasi. Padahal, apa yang mereka butuhkan adalah perawatan dan pemahaman, bukan tekanan untuk ‘bisa berubah’. Dengan lebih memahami apa itu Fobia Sosial, kita bisa menjadi lebih empati dan memberi dukungan yang dibutuhkan.

Dampak Miskonsepsi Bagi Penderita

Stigma masyarakat juga berdampak pada penderita Agorafobia dan Fobia Sosial. Penderita seringkali dianggap ‘lebay’ atau disuruh untuk ‘berusaha lebih keras untuk bergaul’. Stigma ini tidak hanya tidak membantu tetapi sebenarnya memperburuk kondisi mereka, membuat mereka merasa tidak dihargai dan tidak didukung.

Dampak mental dan emosional bagi penderita pun sangat signifikan. Terlepas dari stigma masyarakat, penderita mungkin merasa cemas, frustrasi, atau depresi karena gagal mengatasi semuanya sendirian. Stres ini bisa menumpuk dan memperparah kondisi mereka. Bahkan menyebabkan mereka menghindari pencari bantuan profesional karena takut akan diskriminasi dan stigma.

Edukasi diri dan orang sekitar. Usahakan diskusi yang terbuka dan jujur. Jangan biarkan miskonsepsi dan stigma menghalangi kita untuk membantu mereka yang membutuhkan. Hanya dengan saling paham, kita bisa bersama-sama membangun lingkungan yang empati dan mendukung.

Baca Artikel Kami Lainnya: Aphantasia: Apa yang Terjadi Ketika Otak Tidak Bisa Berimajinasi

Artikel oleh: Logos Indonesia.