Perbedaan antara Transferens Balik dan Transferens dalam Konseling

Transferens melibatkan perasaan pasien terhadap terapis. Sementara transferens balik melibatkan perasaan terapis terhadap pasien.

Konseling1058 Views

Logos IndonesiaDalam proses konseling, interaksi antara konselor dengan pasien tidak selalu sebatas pertukaran kata-kata. Terkadang, muncul fenomena menarik yang melibatkan perasaan dan emosi yang tersembunyi di antara kedua belah pihak. Dalam konteks ini, terdapat dua istilah yang sering digunakan, yaitu transferens dan transferens balik.

Ketika kita memasuki dunia konseling, ada hal menarik yang terjadi di antara hubungan terapis dan pasien. Transferens, yang mengacu pada perasaan yang dialami pasien terhadap terapis. Hal ini bisa menjadi faktor penting dalam proses pemulihan. Misalnya, pasien mungkin mengalami perasaan cinta atau kemarahan yang kuat terhadap terapis. Namun yang sebenarnya merupakan cerminan dari hubungan masa lalu si pasien miliki. Transferens ini membantu membuka pintu untuk memahami konflik internal dan pemulihan emosional.

Namun, transferens bukanlah satu-satunya fenomena yang terjadi di sesi konseling. Terapis juga mengalami pengalaman emosional yang disebut transferens balik. Jadi, apa bedanya dengan transferens?

Transferens balik terjadi ketika terapis merespons secara emosional terhadap pasien berdasarkan pengalaman pribadi mereka sendiri. Ini berarti terapis bisa membawa perasaan mereka sendiri ke dalam hubungan terapeutik. Pemahaman yang jelas tentang perbedaan antara transferens dan transferens balik itu sangat penting. Hal ini karena untuk memastikan keseimbangan dan objektivitas dalam proses konseling.

Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang perbedaan antara transferens dan transferens balik. Maka kita akan dapat melihat bahwa kedua fenomena ini memiliki peran yang berbeda dalam konteks konseling. Transferens melibatkan perasaan pasien terhadap terapis. Sementara transferens balik melibatkan perasaan terapis terhadap pasien. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi perbedaan antara transferens dan transferens balik. Kemudian, mengapa kedua konsep ini memiliki peran yang berbeda dalam proses konseling

Apa Itu Transferens Balik?

Di sisi lain, transferens balik adalah perasaan yang dialami oleh terapis atau konselor terhadap pasien. Transferens balik terjadi ketika terapis merespons secara emosional terhadap pasien. Terapis merespon berdasarkan pengalaman atau asosiasi pribadi mereka sendiri. Misalnya, terapis mungkin merasa terganggu, terintimidasi, atau bahkan terpikat oleh pasien. Transferens balik bisa dipahami sebagai cerminan dari transferens pasien yang tercermin pada terapis. Terapis perlu menyadari dan mengelola transferens balik ini. Tujuannya agar tidak mempengaruhi objektivitas dan keprofesionalan mereka dalam memberikan konseling.

Jadi, perbedaan mendasar antara transferens dan transferens balik adalah arah perasaan yang dialami. Transferens adalah perasaan pasien terhadap terapis. Sementara transferens balik adalah perasaan terapis terhadap pasien. Keduanya merupakan fenomena yang penting dalam konseling. Dan dapat memberikan wawasan berharga untuk proses penyembuhan dan pemahaman diri.

Contoh Dari Transferens Balik Dan Transferens

Berikut ini adalah contoh sederhana untuk membantu memahami perbedaan antara transferens dan transferens balik:

Contoh Transferens

Dalam sebuah sesi konseling, seorang pasien mungkin mengalami transferens terhadap terapisnya. Misalkan pasien tersebut memiliki hubungan yang rumit dengan ayahnya di masa lalu. Yang sering kali bersikap otoriter dan kritis terhadapnya. Saat berinteraksi dengan terapis, pasien mungkin secara tidak sadar mengembangkan perasaan takut dan ketidakpercayaan terhadap terapis. Bahkan jika terapis sebenarnya tidak memiliki karakteristik yang sama dengan ayahnya. Pasien mengalami transferens dari hubungan masa lalu ke dalam hubungan terapeutik saat ini.

Contoh lainnya, Dalam sesi konseling, seorang pasien yang mengalami masalah kepercayaan diri. Dia mungkin mengembangkan perasaan cinta dan ketergantungan terhadap terapis mereka. Pasien ini mungkin secara tidak sadar memproyeksikan citra sosok yang diidamkan dari masa lalu ke terapis. Sehingga menganggap terapis sebagai sosok orang tua yang perhatian dan mendukung. Meskipun hubungan ini sebenarnya bersifat profesional. Tapi Transferens ini memungkinkan pasien untuk menjalani pengalaman emosional baru. Hal ini terkait dengan masalah mereka. Dan terapis dapat membantu menggali dan memahami konflik internal yang mendasarinya.

Contoh Transferens Balik

Sekarang, mari kita melihat contoh transferens balik. Seorang terapis merespons secara emosional terhadap pasien berdasarkan pengalaman pribadi mereka sendiri. Misalkan terapis tersebut memiliki pengalaman pribadi yang traumatis terkait dengan kehilangan orang yang dicintai. Ketika mereka mendampingi seorang pasien yang juga mengalami kehilangan serupa. Maka terapis merasa sangat terpukul dan sedih. Mereka dapat merasakan transferens balik dari pengalaman pribadi mereka ke dalam hubungan terapeutik saat ini.

Baca Artikel Kami Lainnya: Apa Itu Zona Nyaman? Rutinitas Harian Tanpa Resiko.

Contoh lainnya, Dalam sebuah sesi konseling. Terdapat seorang terapis yang merasakan perasaan frustrasi terhadap pasien yang tampaknya tidak antusias untuk mengubah perilaku merokoknya. Walaupun si pasien memang menyadari dampak negatif dari merokoknya itu. Terapis ini merasa seolah-olah telah gagal. Ataupun merasa si pasien tidak mempercayai si konselor. Perasaan frustrasi ini mungkin dipicu oleh pengalaman pribadi terapis dengan anggota keluarga yang tidak bisa berhenti merokok. Sehingga mencerminkan transferens balik terapis terhadap pasien mereka. Terapis perlu mengenali perasaan ini. Kemudian memisahkan pengalaman pribadi dari interaksi profesional dengan pasien. Tujuannya agar dapat tetap objektif dan membantu pasien dengan efektif.

Kedua contoh tersebut mengilustrasikan bagaimana transferens dan transferens balik dapat muncul dalam konteks konseling. Transferens melibatkan perasaan yang dialami oleh pasien terhadap terapis. Sedangkan transferens balik melibatkan perasaan yang dialami oleh terapis terhadap pasien. Kedua istilah tersebut berdasarkan pengalaman pribadi mereka sendiri. Keduanya merupakan aspek yang penting untuk dipahami dan dielaborasi dalam proses konseling.

Baca Artikel Kami Lainnya: Bagaimana Cara Melangkah Keluar Dari Zona Nyaman?

Artikel oleh: Logos Indonesia.

Comment