Kenali Quarter Life Crisis Pada Usia 20 Tahunan

Quarter Life crisis atau disingkat QLC, merupakan istilah dalam psikologi perkembangan dalam menjelaskan krisis di sepertengah tahun hidup.

Perkembangan1305 Views

Logos Indonesia Setelah selesai SMA, mau kuliah atau langsung bekerja? Setelah lulus kuliah, mau kemana? Silakan teman-teman jawab.

Karena itu beberapa pertanyaan yang sering di alami pada masa dewasa awal. Pertanyaan itu merujuk pada pilihan hidup. Jika kamu bisa menjawab pertanyaan itu, artinya kamu sudah mengetahui tujuan hidupmu. Tapi, jika kamu belum bisa menjawabnya, tidak apa-apa. Karena pertanyaan itu bisa terjawab seiring berjalannya waktu.

Tau kah kamu, kenapa saya bertanya seperti itu? Karena pembahasan kita kali ini mengenai mencari tujuan hidup di usia dewasa awal. Atau istilah psikologinya adalah Quarter Life Crisis. Rasa kebingungan atas pilihan hidup merupakan salah satu ciri dari Quarter Life Crisis. Hal ini disebabkan oleh individu yang tidak memahami diri sendiri. Ia tidak tahu kelebihan dan minat yang disukainya.

Quarter Life Crisis wajar dirasakan oleh seseorang di usia 20 tahunan atau seseorang yang baru memasuki dunia masyarakat luas. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh LinkedIn (2017), sebanyak 75% usia 25-33 tahun merasa pernah mengalami Quarter Life Crisis. Permasalahan yang paling banyak dirasakan mereka adalah seputar karir.

Quarter Life Crisis

Apa Itu Quarter Life Crisis?

Quarter Life crisis atau disingkat QLC, merupakan istilah dalam psikologi perkembangan dalam menjelaskan krisis di sepertengah tahun hidup. Menurut Fischer (2008), Quarter Life Crisis adalah masa eksplorasi akibat ketidaktauan antara karir, finansial dan pencapaian identitas diri, dan hubungan sosial di usia 20 tahunan.

Sedangkan dalam penelitian Agustin (2012) tentang Quarter Life Crisis. Ia menjelaskan ciri-ciri seseorang mengalami Quarter Life Crisis, yaitu sulit mengambil keputusan, merasakan putus asa, menilai diri secara negatif, merasa terjebak pada situasi yang menyulitkan, mengkhawatirkan hubungan interpersonal, sering muncul perasaan cemas dan tertekan.

Baca Artikel Kami Lainnya: Apa itu NEET? Kenapa Bisa Meningkat di Indonesia Selama Pandemik.

Namun, tiap orang memiliki intensitas yang berbeda-beda terhadap pengalaman Quarter Life Crisis mereka. Ada yang merasakan masa Quarter Life Crisis mereka yang mudah dan ada juga yang merasa kesulitan. Perbedaan ini memiliki banyak faktor.

Peyebab Quarter Life Crisis

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya Quarter Life Crisis. Kebanyakan dari mereka memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap pencapaian diri di masa depan. Tapi secara kenyataannya tidak sesuai dengan yang diharapkannya yang memunculkan perasaan gagal dan kecewa.

Seorang yang baru saja lulus kuliah, biasanya sangat semangat untuk memulai karirnya. Ia memiliki harapan yang tinggi terhadap hasil pekerjaan yang dilamarnya. Kenyataannya tidak mudah mencari pekerjaan. Ketika sudah berkali-kali gagal. Perasaan cemas dan tertekan mulai menghantuinya.

Salah satu alasan banyak sekali seseorang yang baru lulus mengalami kegagalan mencari pekerjaan adalah sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Di sekolah kita tidak menekankan pada keterampilan sosial dan hanya berfokus pada pembelajaran menghafal. Selain itu, syarat yang di minta kebanyakan perusahaan terlalu tinggi untuk seseorang yang baru lulus dari pendidikannya.

Baca Artikel Kami Lainnya: Konseling Online untuk Karyawan Perusahaan.

Kemudian tuntutan sosial yang terus menekan mereka untuk segera mendapatkan pekerjaan atau menikah. Masyarakat Indonesia masih erat memandang pernikahan adalah jalan keluar dari setiap permasalahan di usia 20 tahunan. Banyak sekali orang yang memilih menikah karena tidak tau lagi apa yang ingin ia lakukan setelah menyelesaikan pendidikannya. Bahkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih memandang negatif, seorang wanita yang belum menikah di usia 30 tahunnya.

Saat seseorang tidak memahami dirinya sendiri, maka ia akan kebingungan atas hidup sendiri. Setelah menyelesaikan pendidikan, akan banyak sekali pilihan hidup yang membingungkan. Banyak cara untuk menjadi sukses. Banyak jalan untuk mencapai kebahagiaan. Namun itu semua haruslah di mulai memahami diri sendiri dahulu. Dengan begitu kamu mudah mencapai kesuksesan dan bahagia sesuai dengan kelebihan dan minat yang kamu sukai.

Baca Artikel Kami Lainnya: Tips Agar Terhindar FOMOGA, Merasa Khawatir Pada Pencapain Orang Lain.

Sehingga, mereka yang berada di usia 20 tahunan harus bisa beradaptasi dengan harapan dan tuntutan dalam masyarakat.

Cara Mengatasi Quarter Life Crisis

Salah satu cara mengatasi Quarter Life Crisis adalah dengan mengenal diri sendiri. Temukan bakat dan minat yang menjadi kelebihan kamu. Latihlah hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stepleton (2012) mengenai Quarter Life Crisis. Menurutnya, cara yang paling efektif dalam mengatasi Quarter Life Crisis adalah meningkatkan rasa kepercayaan diri melalui peningkatan pemahaman diri.

Sebagian besar orang yang mengalami Quarter Life Crisis mempertanyakan terkait harapan dan impian, kehidupan karir, pendidikan lanjutan, identitas diri dalam masyarakat, hub interpersonal yang semakin sedikit, dan keyakinan beragama.

Itulah penahanan terkait Quarter Life Crisis. Setelah mengetahui Quarter Life Crisis, kamu tidak perlu merasa sendirian merasakannya. Karena yang kamu rasakan saat ini adalah hal wajar. Jadi ayo mulailah memahami diri sendiri ya teman-teman.

Artikel oleh: Logos Indonesia.

Comment