Sejarah Psikologi Modern: Dari Strukturalisme-Fungsionalisme

Psikologi modern adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental manusia. Mari kita bahas sejarah psikologi modern.

Tokoh4009 Views

Logos IndonesiaPsikologi modern adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental manusia. Psikologi modern memiliki sejarah yang panjang dan beragam, mulai dari zaman Yunani kuno hingga abad ke-21. Dalam sejarahnya, psikologi modern mengalami berbagai perkembangan pemikiran dan aliran yang mempengaruhi cara pandang dan metode penelitiannya.

Salah satu titik awal sejarah psikologi modern adalah pendirian laboratorium psikologi pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig, Jerman pada tahun 1879. Wundt dianggap sebagai bapak psikologi modern karena ia memisahkan psikologi dari filsafat dan fisiologi, serta mengembangkan metode introspeksi untuk mengukur pengalaman batin manusia. Wundt juga merupakan tokoh utama dari aliran strukturalisme, yang berusaha menguraikan struktur jiwa manusia dari elemen-elemen dasarnya.

Strukturalisme

Strukturalisme adalah aliran psikologi yang berlandaskan pada struktur, yang berarti sistem transformasi. Struktur ini yang mengandung kaidah sebagai sistem (sebagai lawan dari sifat unsur-unsur). Yang kemudian melindungi diri atau memperkaya diri melalui peran transformasi-transformasinya. Namun tanpa keluar dari batas-batasnya atau menyebabkan kontradiksi. Jadi strukturalisme mencoba menganalisis jumlah total pengalaman sejak lahir hingga dewasa.

Strukturalisme dipelopori oleh Wilhelm Wundt, yang mendirikan laboratorium psikologi pertama di Leipzig pada tahun 1879. Wundt dan rekan-rekannya bekerja dan menyelidiki struktur kesadaran. Kemudian mengembangkan hukum-hukum pembentuknya. Wundt dan rekannya berpendapat bahwa pengalaman mental yang kompleks itu memiliki struktur yang terdiri dari keadaan mental yang sederhana.

Wundt percaya bahwa jiwa terbentuk dari elemen-elemen, seperti sensasi, perasaan, dan gambaran mental. Elemen-elemen ini dapat diklasifikasikan berdasarkan kualitas, intensitas, durasi, dan jelasnya. Elemen-elemen ini juga memiliki mekanisme penting yang menghubungkan antar elemen kejiwaan sehingga membentuk struktur jiwa yang utuh dan disebut asosiasi.

Baca Artikel Kami Lainnya: Pahami Perbedaan Ketidakwarasan dan Penyakit Mental dalam Bidang Hukum.

Metode yang digunakan oleh Wundt dan pengikutnya adalah introspeksi. Metode ini yaitu dengan meminta seseorang untuk menceritakan kembali pengalaman masa lalunya atau perasaannya setelah dia melakukan sesuatu. Sensasi digambarkan seperti manis, pahit, dimana dapat diidentifikasi menggunakan introspeksi.

Tokoh lain yang mewakili aliran strukturalisme adalah Edward Bradford Titchener, yang merupakan murid dari Wundt. Titchener ingin kembali ke Oxford namun ditolak karena tidak sejalan dengan pandangan dari Wundt. Kemudian dirinya berpindah ke Amerika Serikat dan mengembangkan strukturalisme di Universitas Cornell.

Titchener lebih menekankan pada analisis unsur-unsur kesadaran daripada hubungan antara unsur-unsur tersebut. Ia juga memperluas cakupan elemen-elemen kesadaran menjadi tiga kategori utama, yaitu sensasi (pengalaman indrawi), gambaran (pengalaman mental), dan afeksi (pengalaman emosional). Ia juga menambahkan beberapa atribut lain untuk menggolongkan elemen-elemen tersebut, seperti ekstensitas (ukuran spasial) dan protensitas.

Fungsionalisme

Fungsionalisme adalah aliran psikologi yang menekankan pada fungsi dan adaptasi jiwa manusia terhadap lingkungannya. Fungsionalisme berlawanan dengan strukturalisme, yang lebih fokus pada analisis unsur-unsur kesadaran. Fungsionalisme juga dipengaruhi oleh pragmatisme, sebuah filsafat yang menganggap bahwa kebenaran tergantung pada hasil praktis dari suatu ide.

Fungsionalisme dipelopori oleh William James, seorang filsuf dan psikolog Amerika Serikat yang dikenal sebagai bapak psikologi Amerika. James menulis buku Principles of Psychology pada tahun 1890, yang menjadi salah satu karya klasik dalam psikologi. James mengkritik pendekatan introspeksi yang digunakan oleh Wundt dan Titchener, dan mengusulkan pendekatan yang lebih luas dan fleksibel untuk mempelajari fenomena psikologis.

James berpendapat bahwa jiwa manusia adalah sebuah aliran kesadaran yang terus-menerus berubah dan tidak dapat dibagi menjadi elemen-elemen tetap. Ia juga berpendapat bahwa jiwa manusia memiliki fungsi adaptif, yaitu untuk membantu manusia bertahan hidup dan berkembang dalam lingkungan yang kompleks dan dinamis. Ia juga menekankan pada peran kehendak bebas, emosi, dan kepercayaan dalam perilaku manusia.

Tokoh-tokoh lain yang mewakili aliran fungsionalisme antara lain adalah John Dewey, James Rowland Angell, dan James McKeen Cattell. Mereka semua berasal dari Universitas Chicago, yang menjadi pusat perkembangan fungsionalisme di Amerika Serikat. Mereka juga mengembangkan bidang-bidang baru dalam psikologi, seperti psikologi pendidikan, psikologi industri, psikologi sosial, dan psikologi tes.

Karakteristik Fungsionalisme

Fungsionalisme memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu:

– Fungsionalisme menekankan pada proses mental dan perilaku sebagai aktivitas atau operasi dari organisme dalam hubungan fisiknya dengan lingkungan fisik.
– Fungsionalisme menekankan pada fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan organisme itu.
– Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran dan perilaku. Dengan demikian, hubungan antara manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
– Fungsionalisme menekankan pada aksi dari gejala psikis dan jiwa seseorang yang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri psikis dan sosial.

Fungsionalisme adalah salah satu aliran pertama yang mencoba menyatukan teori dan praktik dalam disiplin yang sama. Meskipun tidak pernah menjadi cabang psikologi yang lengkap. Ia meletakkan dasar bagi banyak gerakan. Terutama behaviorisme dan psikologi kognitif-perilaku.

Artikel oleh: Logos Indonesia.