Fakta Tentang Bunuh Diri

Fakta tentang bunuh diri. Tindakan bunuh diri merupakan tindakan yang kompleks. Karena itu tidak bisa disimpulkan dengan satu motif saja.

Klinis, Sosial2986 Views

Logos Indonesia Bunuh diri sering dilakukan oleh orang-orang yang mengalami depresi ataupun orang yang mengalami gangguan bipolar. Hal ini karena mereka memiliki pikiran untuk mencoba bunuh diri. Ketika tidak ada orang yang mengawasinya ataupun memperhatikannya, maka mungkin saja percobaan bunuh diri itu berhasil dilakukannya. Maka dari itu, ketika terdapat seseorang yang berada di dekatmu menunjukkan gejala depresi atau keputusan, akan lebih baik untuk selalu diperhatikan dan diawasi agar tidak memicu perilaku yang merugikan dirinya sendiri.

Baca Artikel Kami Lainnya: Lakukan Ini Jika Orang Terdekat Mu Berniat Melakukan Bunuh Diri.

Menurut Hendriksson dan rekannya (1993), menjelaskan bahwa hampir lebih dari separuh orang-orang yang mencoba melakukan bunuh diri mengalami depresi dan putus asa. Selain itu, sebanyak 15% orang yang telah didiagnosis depresi mayor memilih mengakhiri hidupnya. Walaupun berdasarkan data, bunuh diri berkaitan erat dengan orang yang mengalami depresi, bipolar dan putus asa. Tapi pada kenyataannya, orang yang tidak mengalami depresi mampu melakukan bunuh diri juga, khususnya seseorang yang terdiagnosis mengalami gangguan kepribadian ambang.

Menurut Roy (1982), sebanyak 13% seseorang yang terdiagnosis menderita skizofrenia cenderung melakukan bunuh diri. Data-data tersebut menunjukkan bahwa perilaku bunuh diri berkaitan dengan buruknya mental pada diri seseorang. Namun kecenderungan orang untuk melakukan bunuh diri merupakan tindakan yang kompleks. Maksudnya adalah, tidak ada satu teori yang dapat menjelaskannya secara keseluruhan tentang bunuh diri itu sendiri.

Fakta-Fakta Tentang Bunuh Diri

 

Karena itu, bunuh diri menjadi topik yang sensitif di kalangan masyarakat, terlebih di masyarakat Indonesia yang sangat menekankan unsur religius. Di beberapa negara Asia meyakini bahwa tindakan bunuh diri memiliki pandangan yang sangat buruk di masyarakat, terutama negara Indonesia. Mereka dianggap sebagai orang yang sangat dibenci ketika mengetahui kematiannya akibat bunuh diri.

Hal ini karena bunuh diri merupakan dosa besar dalam beberapa agama besar seperti islam. Namun pada kenyataannya, perilaku bunuh diri ini tidak berkaitan dengan tingkat religius seseorang. Perilaku bunuh diri ini berkaitan erat dengan kesehatan mental mereka. Berikut ini terdapat fakta-fakta tentang bunuh diri.

Baca Artikel Kami Lainnya: 4 Cara Menemukan Makna Hidup.

Separuh dari mereka yang berhasil bunuh diri, pernah mencoba melakukan bunuh diri setidaknya satu kali sebelum berhasil. Namun seseorang yang hanya mencoba-coba melakukan bunuh diri, tidak akan pernah melakukannya lagi setelah mendapatkan perhatian dari orang lain. Tentu saja orang yang benar-benar ingin bunuh diri dan hanya mencoba-coba saja memiliki karakteristik yang berbeda.

Orang yang hanya mencoba-coba melakukan bunuh diri mayoritas adalah perempuan dan berusia lebih muda, sekitar usia anak-anak dan remaja. Metode yang digunakan pun tidak sepatah orang yang benar-benar ingin bunuh diri. Biasanya mereka akan menggunakan pil, memotong urat nadi yang tidak beresiko.

Hal ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian dari orang di sekitarnya. Mereka berharap pada seseorang yang menolongnya. Dan mereka akan merasa senang karena telah diselamatkan. Kemudian mereka akan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi setelah diberikan penanganan lebih lanjut.

Baca Artikel Kami Lainnya: Viktor Frankl, Mencari Makna Hidup Di Kamp Konsentrasi Nazi.

Kemudian diagnosis yang umum terjadi pada orang yang hanya berupaya bunuh diri yaitu seseorang yang terdiagnosis gangguan distimik, gangguan kepribadian ambang dan skizofrenia. Emosi yang dominan ketika melakukan bunuh diri adalah depresi yang disertai dengan kemarahan.

Berbeda dengan orang yang benar-benar ingin bunuh diri, emosi yang dominan saat melakukan bunuh diri adalah depresi yang disertai dengan keputusan. Dan tujuan mereka melakukan itu adalah untuk mati dan tidak ingin diselamatkan. Kebanyakan orang yang benar-benar ingin meninggal setelah melakukan bunuh diri biasanya terdiagnosis gangguan mood mayor dan alkoholisme.

Karena itulah, metode yang digunakan memiliki risiko yang sangat tinggi, seperti menggunakan senjata api dan melompat dari gedung yang tinggi. Jika berdasarkan usia, tentu saja kebanyakan dari mereka memiliki usia yang lebih tua dibandingkan orang yang hanya mencoba bunuh diri tanpa berkeinginan untuk meninggal. Selain itu kebanyakan dari orang yang benar-benar berkeinginan untuk bunuh diri mayoritas laki-laki daripada perempuan.

Karena itulah, laki-laki memiliki kemungkinan 4-5 kali lebih besar dibandingkan perempuan untuk melakukan bunuh diri yang memicu kematian. Salah satu alasan paling banyak orang melakukan bunuh diri, karena bercerai atau menjadi janda atau duda, sebanyak 4-5 kali lebih besar orang tersebut melakukan bunuh. Hal ini karena ketika seseorang baru saja bercerai atau sudah lama menjadi janda atau duda, mereka tidak memiliki dukungan sosial seperti sebelumnya.

Terdapat fakta bahwa bunuh diri menempati urutan ke-9 penyebab kematian yang terjadi pada orang dewasa di Amerika Serikat. Tidak ada perbedaan tingkat bunuh diri antara sosial ekonomi yang tinggi maupun sosial ekonomi yang rendah. Bunuh diri bisa terjadi di segala tingkatan sosial dan ekonomi.

Davison, G. C., Neale, J. M., Kring, A. M. (2017). Psikologi Abnormal Edisi Ke-7. Depok: PT Raja Grafindo Persada.

Artikel oleh: Logos Indonesia.