Ini Alasan Korban Pelecehan Seksual Tidak Mampu Mengungkapkan Hal Yang Dialaminya

Ini alasan korban pelecehan seksual tidak mampu mengungkapkan hal yang dialaminya. Isu seksual yang tabu di masyarakat.

Klinis168 Views

Logos Indonesia Sulit bagi korban pelecehan seksual untuk mengungkapkan kebenaran di balik peristiwa yang ia alami. Korban pelecehan seksual yang berusia dewasa saja sangat sulit untuk menceritakan ke orang lain sebagai ungkapan kebenaran. Apalagi jika korban yang menjadi pelecehan seksual itu adalah anak-anak. Kamu bisa bayangkan betapa sulitnya situasi yang mereka hadapi.

Perbedaan usia anak yang menjadi pelaku pelecehan seksual memiliki perbedaan kesulitan mengungkapkan kejadian tersebut. Namun memiliki tingkat kesulitan yang sama besarnya. Usia anak yang lebih kecil, tidak mengerti apa yang sedang ia alami. Sedangkan usia anak yang lebih besar, sudah memahami apa yang ia alami. Perbedaan karakteristik usia ini memberi rujukan perbedaan cara agar korban membuka suara ke orang dewasa atau pihak hukum yang terkait dalam menangani kasus ini.

Baca Artikel Kami Lainnya: Dampak Pelecehan Seksual Pada Anak Dan Pencegahannya.

Dalam artikel ini akan dibahas mengenai beberapa alasan korban pelecehan seksual pada anak yang tidak mampu untuk mengungkapkan kejadian yang sebenarnya. Banyak faktor yang mempengaruhi kesulitan korban untuk mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

Faktor dari lingkungan masyarakat, kesadaran orang tua, psikologis anak, hukum yang berlaku menjadi faktor sulitnya anak untuk mengungkap kebenaran yang terjadi pada dirinya. Berikut ini alasan korban pelecehan seksual sulit mengungkapkan kebenaran berdasarkan faktor tersebut.

Isu Seksual Yang Dianggap Tabu Dalam Masyarakat

Pada masyarakat Indonesia, isu seksual menjadi sangat tabu untuk dibicarakan. Karena itu kebanyakan orang tua tidak memberikan seks edukasi pada anaknya sejak dini. Program pembelajaran di sekolah juga tidak diberikan secara maksimal mengenai penyuluhan seks edukasi di tingkat sekolah dasar. Tanpa ada kesadaran dari orang dewasa mengenai pentingnya pemahaman pendidikan seks bagi anak. Anak tidak memiliki informasi mengenai pelecehan seksual dan cara menghadapinya.

Anak yang mengalami pelecehan seksual, tidak tahu bagaimana cara merespon tindakan orang dewasa sebagai pelaku pelecehan seksual. Namun mereka menyadari bahwa yang dialaminya ini merupakan masalah yang sangat sensitif dan sangat jarang dibicarakan oleh kebanyakan orang. Karena itu, perasaan malu dan takut ketika mengungkapkan hal yang ia alami.

Karena alasan itu juga, anak memilih untuk tidak melaporkan tindakan si pelaku. Hal yang ia alami menjadi aib bagi dirinya dan keluarganya ketika kebenaran terungkap. Adanya pandangan negatif mengenai dirinya saat orang lain tahu tentang pelecehan seksual ini. Sehingga menurut korban lebih aman untuk tidak mengatakan kebenaran tersebut.

Respon Orang Tua Terhadap Cerita Anaknya Yang Mengalami Pelecehan Seksual

Respon orang tua yang acuh dan tidak percaya tentang ucapan si anak juga menjadi alasan anak memilih untuk diam. Pada anak yang tidak memahami apa yang ia alami, atau pada bayi. Hal yang ia rasakan adalah kesakitan dan ketidaknyamanan dari perlakuan orang dewasa yang menjadi pelaku pelecehan seksual. Terkadang, orang tua tidak menyadari keluhan sakit yang anak alami akibat pelecehan seksual.

Psikologis Anak Setelah Mengalami Pelecehan Seksual

Bagi seorang anak, sulit sekali untuk menceritakan pelecehan seksual kepada orang tuanya. Karena psikis anak yang sudah mulai terganggu akibat pelecehan seksual itu. Terlebih jika pelakunya adalah orang terdekat dari si korban. Perasaan malu, cemas, tidak berharga, hingga depresi mungkin saja terjadi. Karena kejadian yang ia alami merupakan kejadian traumatik.

Hubungan Pelaku Dan Korban Pelecehan Seksual

Salah satu alasan sulit sekali untuk menceritakan kepada orang tuanya tentang kejadian pelecehan seksual yang ia alami adalah pelakunya adalah orang terdekat bahkan keluarganya sendiri. Betapa ketakutannya anak tersebut untuk menceritakan bahwa dirinya dilecehkan oleh pamannya sendiri atau kakeknya sendiri kepada ibunya. Lebih mengerikan lagi jika pelakunya adalah ayahnya sendiri.

Pelaku yang memiliki hubungan keluarga dengan korban akan memicu konflik keluarga. Apalagi jika pelakunya adalah ayahnya sendiri, konflik batin bagi ibunya untuk memilih kebaikan anaknya atau mengabaikannya demi keberlangsungan hidup.

Hal ini karena, Ayah merupakan sosok yang dominan dan ditakuti dalam rumah tangga. Seorang ibu akan memikirkan kesulitan memenuhi kehidupan jika si Ayah berada di penjara atau pergi meninggalkan mereka.

Baca Artikel Kami Lainnya: Apa Itu Dyslexia? Kesulitan Mengenali Beberapa Kata Untuk Dibaca.

Terlebih jika ayah merupakan sosok yang temperamental. Tindakan kekerasan bagi anak dan istrinya mungkin saja terjadi. Karena itu, perlu adanya bantuan dari pihak luar untuk mengatasi permasalahan pelecehan seksual ini. Pelecehan seksual dalam bentuk apapun dan bagi siapapun harus ditanggapi secara serius. Dampak secara fisik maupun mental juga harus dipertimbangkan dalam mengatasi permasalahan pelecehan seksual ini.

Pelecehan Seksual Pada Anak, Biasanya Tidak Meninggalkan Bukti Fisik

Kebanyakan kasus dari pelecehan seksual pada anak-anak tidak meninggalkan bukti fisik misalnya selaput darah yang robek. Mereka juga tidak memperlihatkan perilaku cemas atau depresi setelah mengalami pelecehan seksual karena takit ketakutan. Walaupun sebenarnya di dalam hati mereka sangat takut dan menyalahkan dirinya sendiri. Karena itu, bukti utama dari pelecehan seksual adalah cerita dari si korban itu sendiri. Namun kebanyakan dari mereka memilih untuk diam dan tidak melaporkan ke pihak berwajib.

Baca Artikel Kami Lainnya: Mengenal 4 Jenis Luka Pada Inner Child Dan Contohnya.

Davison, G. C., Neale, J. M., Kring, A. M. (2017). Psikologi Abnormal Edisi Ke-7. Depok: PT Raja Grafindo Persada.

Artikel oleh: Logos Indonesia.