Apa Itu Client Center Therapy Dari Carl Rogers?

Apa itu client center therapy dari Carl Rogers? Terapi yang memfokuskan pada memutuskan sendiri masalahnya yang dibimbing oleh terapis.

Konseling, Tokoh291 Views

Logos Indonesia Carl Rogers merupakan toko psikologi yang berasal dari Amerika. Teorinya mengenai psikoterapi berdasarkan pengalaman pasiennya selama bertahun-tahun.

Asumsi dari Client Centered Therapy

Perbedaan Eustress dan Distress

Asumsi mengenai client center therapy ini dilandaskan pada 5 poin ciri khas manusia dari Carl Rogers. Kelima poin tersebut sebagai berikut.

Melihat Permasalahan Dari Fenomenologis Seseorang

Manusia dapat dipahami melalui persepsi dan perasaannya sendiri yaitu dunia fenomenologisnya. Untuk memahami seseorang, kita perlu melihat cara orang tersebut menghadapi peristiwa tersebut, bukan berfokus pada peristiwa itu sendiri. Karena setiap orang memberikan reaksi yang berbeda-beda pada peristiwa yang sama. Ciri khas seseorang ini dalam menghadapi permasalahan yang menjadi fokus dalam terapi. Jadi dalam menerapkan Client Centered Therapy ini, kita tidak bisa menyamaratakan Tiap orang yang mengalami permasalahan yang sama.

Setiap Orang Menyadari Tindakannya Sendiri

Pada dasarnya orang yang memiliki permasalahan menyadari tindakannya itu sendiri. Mereka secara sadar permasalahan yang mereka hadapi. Pada terapi ini akan menitikberatkan pada motif dari permasalahan itu.

Seseorang Yang Sehat Akan Memilih Melakukan Secara Efektif

Seseorang yang sehat secara alami akan memilih melakukan secara efektif. Namun apabila terjadi pembelajaran yang salah, seseorang itu cenderung menjadi lebih tidak efektif.

Setiap Orang Memiliki Tujuan

Setiap orang memiliki tujuan yang diarahkan pada fokus tertentu. Seseorang tidak mudah langsung terpengaruh oleh lingkungan secara pasif atau dorongan dari dalam diri. Hal ini karena adanya tujuan yang terarah, membuat seseorang teguh pada pilihannya.

Pengambilan Keputusan Atas Dasar Diri Sendiri Bukan Orang Lain

Client Centered Therapy ini sangat berbeda dengan terapi psikoanalisis Freudian. Teknik terapi Freud, cenderung memanipulasi peristiwa bagi individu. Menurut Rogers, sebaiknya menciptakan kondisi yang memudahkan orang tersebut mengambil keputusan secara mandiri. Ketika keputusan itu berdasarkan keinginan diri sendiri tanpa ada tuntutan dari orang lain. Orang tersebut secara alami mampu mengaktualisasikan dirinya melalui keputusan tersebut.

Apa Itu Client Centered Therapy Rogers?

Penanganan Generalized Anxiety Disorder

Client Centered Therapy adalah jenis terapi yang memfokuskan pada klien untuk memutuskan sendiri masalahnya yang dibimbing oleh terapis. Menurut Rogers dalam mempraktekkan terapi ini adalah menciptakan kondisi bagi klien untuk dapat kembali ke ciri-ciri dasarnya dan mampu menilai Sisi hidup mana yang memuaskan baginya.

Terapi ini sangat berbeda dengan jenis terapi psikoanalisis lainnya. Hal ini karena pada terapi Freudian, terapis menetapkan tujuan bagi kliennya. Sedangkan terapi Rogers, lebih memfokuskan pada tujuan yang dipilih sendiri oleh klien.

Ketika klien itu memutuskan sendiri permasalahannya yang ia hadapi. Maka dirinya cenderung merasa lebih produktif, lebih merasa bahagia, menjadi orang yang baik dan beradab.

Baca Artikel Kami Lainnya: Biografi Roger, Teori Yang Berpusat Pada Pribadi.

Menurut Rogers, dan pandangan humanistik dan eksistensial lainnya, setiap orang harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Bahkan masalah yang sedang dihadapi saat ini. Walaupun begitu, cukup sulit bagi klien untuk memutuskan secara mandiri.

Bagi terapis juga sulit untuk tidak memberikan nasihat kepada klien yang tidak mampu memutuskan sendiri. Namun dalam client centered therapy ini, kita harus berpegang teguh pada keputusan yang dibuat klien secara mandiri.

Melalui kondisi terapi yang dikondisikan kepada klien, berupa kehangatan, penuh perhatian, dan penerimaan tanpa syarat (unconditional positif regard), client dengan sendirinya mampu menentukan keputusan yang akan ia ambil. Unconditional positive regard adalah penerimaan tanpa syarat, terapis menerima keadaan klien apa adanya. Jenis kasih sayang penerimaan diri ini, biasanya ada dalam kasih sayang orang tua kepada anaknya apa adanya.

Baca Artikel Kami Lainnya: Asosiasi Bebas, Teknik Terapi Psikoanalisis.

Namun kebanyakan orang melakukan conditions of worth, yaitu “saya akan menyayangimu jika…..” Rasa kasih sayang dengan syarat atau ada alasan. Seorang terapis harus mengedepankan pada unconditional positif regard. Terapi harus sangat peduli dan menghargai klien apapun alasannya yang sedang ia bicarakan. Terapis harus menyadari bahwa kliennya saat ini sedang berjuang untuk tumbuh dan mencari tujuan hidup.

Client centered therapy ini memang tidak memiliki teknik yang spesifik. Namun terdapat satu strategi yang digunakan yaitu menggunakan empati. Menurut Egan (1975), terdapat dua tipe empati yang menjadi strategi dalam client centered therapy ini, yaitu empati primer dan empati interpretatif.

Empati Primer

Empati primer ini memfokuskan pada pemahaman dan menerima trapis terhadap apa yang klien pikirkan. Empati primer ini dapat berupa pengulangan kata yang dipikirkan atau dirasakan klien.

Empati Tingkat Lanjut (Interpretatif)

Empati tingkat lanjut merupakan penyimpulan pikiran dan perasaan klien yang tidak tersirat oleh kata. Terapis akan mengatakan perasaan klien yang tidak disadari oleh klien itu sendiri. Kemudian menyimpulkan permasalahan itu sebagai hipotesis tentang penyebab sebenarnya penderitaan klien. Karena itu empati ini merupakan empati yang bersifat interpretatif dari permasalahan yang dialami oleh klien yang tidak disadari.

Perlu diingat bahwa klien yang merasa tidak mampu mengatasi permasalahan merupakan cara pandang yang tidak produktif. Karena itu, melalui empati interpretatif ini, klien mampu membuat suatu pandangan baru tentang fenomenologisnya untuk membuat tujuan baru.

Baca Artikel Kami Lainnya: Kenalan Yuk Dengan Terapi Fobia Yang Biasa Dilakukan Oleh Terapis.

Davison, G. C., Neale, J. M., Kring, A. M. (2017). Psikologi Abnormal Edisi Ke-7. Depok: PT Raja Grafindo Persada.

Artikel oleh: Logos Indonesia.