Konformitas yang Tidak Sehat itu Seperti apa? Kenali Dampak Negatifnya

Salah satu dampak negatif lainnya dari konformitas yang tidak sehat adalah fenomena yang disebut 'Groupthink'.

PIO, Sosial1971 Views

Logos IndonesiaPernah nggak sih, kamu merasa seperti tidak bisa bertindak sesuai dengan keinginanmu dalam memilih sesuatu? Kamu harus mengikuti panduan, mengikuti tren di sekitarmu agar dirimu bisa dikatakan diterima dalam suatu kelompok. Nah, jika pernah, ada baiknya kita kenali apa yang disebut konformitas. Dan lebih penting lagi, bagaimana dampak negatif jika konformitas yang kita lakukan justru membuat kita kehilangan jati diri. Pada artikel kali ini, kita akan membahas apa itu Konformitas yang Tidak Sehat itu Seperti apa? Kenali Dampak Negatifnya. Semoga kita jadi lebih paham dan bisa bersikap lebih bijaksana dalam menjalani hidup.

Baca Artikel Kami Lainnya: Peran Konformitas dalam Pembentukan Identitas Remaja

Konformitas bukanlah hal yang selalu buruk. Sebab pada dasarnya konformitas adalah proses di mana kita menyesuaikan diri. Beberapa caranya dengan menyesuaikan cara berpikir, sikap, dan perilaku yang diterima oleh sekelompok orang. Sebagai manusia, kita memang perlu untuk beradaptasi dengan lingkungan. Dan konformitas sering kali membantu kita bertahan dan menjalin hubungan yang lebih baik. Namun, apa jadinya jika konformitas yang kita lakukan justru mengenyampingkan prinsip dan nilai pribadi kita?

Dalam artikel ini, kita akan mengupas dampak negatif dari konformitas yang tidak sehat. Beberapa ciri atau karakteristik konformitas yang tidak sehat yang akan kita bahas antara lain: Menghambat kreativitas, menoerobos_groupthink, dan melanggengkan keseragaman yang menekan kebebasan diri. Yuk, simak pembahasan lebih lanjut mengenai konformitas yang tidak sehat dan kenali dampak negatifnya.

Konformitas yang Tidak Sehat itu Seperti apa?

Konformitas yang tidak sehat itu sebenarnya seperti apa sih? Nah, umumnya ada beberapa ciri atau karakteristik yang perlu kamu kenali. Konformitas yang tidak sehat biasanya muncul ketika tekanan sosial yang meminta kita meniru dan mengikuti tren atau pandangan yang popular. Justru membuat kita melawan keyakinan dan prinsip-prinsip pribadi kita. Tekanan tersebut bisa sampai menghambat fungsi kita sebagai individu yang unik dan penuh kreativitas.

Misalnya, kamu merasa harus mengenakan pakaian dengan label atau merek tertentu agar diterima oleh teman-teman sekelilingmu. Sebenarnya, kamu tidak merasa nyaman atau bahagia mengenakan baju tersebut, tetapi kamu tetap melakukannya demi diterima. Atau, contoh lainnya ketika kamu bekerja dan merasa harus menyetujui ide yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai pribadi kamu. Kamu terpaksa melakukan demikian, hanya agar tak merasa teralienasi atau dianggap ‘berbeda’ oleh rekan kerja.

Intinya, konformitas yang tidak sehat selalu menyertai rasa tertekan dan hilangnya kebebasan dalam mengekspresikan diri. Jadi, penting bagi kita untuk menyadari hal ini. Supaya kita bisa bersikap bijak dan menjaga keseimbangan antara konformitas yang wajar dengan keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Dampak Negatif Konformitas Berlebihan

Berikut beberapa dampak negative dari konformitas yang berlebihan.

A.    Hilangnya Kreativitas.

Ada banyak dampak negatif ketika kita terlalu sering atau berlebihan berkonformitas. Salah satunya adalah menghambat kreativitas. Jadi jika kita terus-terusan mengikuti apa yang populer atau yang diterima oleh banyak orang. Maka kemampuan kita untuk berpikir ‘di luar kotak’ atau menciptakan ide-ide baru jadi terkubur. Kenapa bisa seperti itu?

Coba bayangkan, jika kita sejak awal mengarahkan pikiran kita untuk selalu ‘menyamakan’ dengan apa yang orang lain pikirkan atau lakukan. Kapan kita punya kesempatan buat mencari alternatif yang mungkin justru lebih baik? Contohnya, saat ada proyek di tempat kerja. Dan tiap anggota tim enggan mengungkapkan ide baru karena khawatir dikritik atau tidak di-setujui oleh rekan kerja lain. Maka, apa yang terjadi? Kreativitas yang seharusnya bisa membuat proyek tersebut lebih unik dan beda. Malah terpendam dan tidak tergali.

Sekilas memang terlihat sepele. Tapi dalam jangka panjang, konformitas berlebihan ini bisa meredupkan potensi dan kemampuan kita sendiri. Jadi, penting buat kita untuk menjaga keseimbangan antara konformitas dan kebebasan dalam berkreasi ya!

B.    Risiko Groupthink

Salah satu dampak negatif lainnya dari konformitas berlebihan adalah fenomena yang disebut ‘Groupthink’. Jadi, Groupthink itu adalah suatu keadaan di mana sebuah kelompok menjadi sangat terobsesi dengan keinginan untuk selalu sepakat dan sejalan. Bahkan sampai-sampai mereka lupa untuk berpikir kritis dan mempertimbangkan alternatif lain.

Nah, bayangin seperti ini, kau dan teman-temanmu sedang berdiskusi tentang suatu topik. Semua orang sepertinya sepakat dengan satu pendapat dan kau malah merasa ragu. Tapi, karena tidak ingin merusak keselarasan grup. Kau memilih untuk mengiyakan saja. Nah, itu salah satu contoh Groupthink yang sebenarnya berpotensi merugikan.

Misalnya, banyak perusahaan yang gagal karena keputusan manajemen yang didasari oleh keinginan untuk tetap konformitas dibandingkan dengan menganalisis secara kritis. Akibatnya, inovasi menjadi stagnan atau berhenti dan keputusan yang dihasilkan bisa berisiko bahkan berbahaya.

Jadi, penting juga nih untuk kita belajar ‘berani’ berbeda dan berpikir kritis, meski harus melawan arus pendapat mayoritas. Siapa tahu, idemu itulah yang sebenarnya bisa membawa perubahan besar, kan?

Baca Artikel Kami Lainnya: Apa Itu Konformitas Dan Contoh Di Kehidupan Seharinya

Artikel oleh: Logos Indonesia.