Terkadang Kita Perlu Menentang Konformitas yang Tidak Sehat

Kapan sebenarnya kita perlu melawan konformitas ini? Apalagi  jika konformitas tersebut telah membawa dampak yang tidak sehat bagi kita.

PIO, Tips dan Trik1731 Views

Logos IndonesiaSeiring dengan bertambahnya usia, sering kali kita menemui tuntutan untuk beradaptasi dengan berbagai norma dan aturan sosial. Ya, pertumbuhan bukan hanya berarti bertambah tinggi atau bertambah berat badan. Tapi juga berarti bertambah kompleksnya lingkungan sosial yang kita hadapi. Seperti teka-teki, kita belajar memposisikan diri dalam lingkaran-lingkaran sosial. Merangkai kepingan identitas diri kita agar sesuai dengan norma dan aturan tak tertulis yang ada. Mengakui atau tidak. Kita semua pernah merasakan adanya tekanan untuk ber-“konformitas”.

Baca Artikel Kami Lainnya: Peran Konformitas dalam Pembentukan Identitas Remaja

Konformitas sendiri bisa dibilang sebagai serangkaian ‘panduan’ yang membantu kita berinteraksi dengan baik di berbagai lingkaran sosial. Mulai dari cara berpakaian, berbicara, hingga berpikir pun sering kali disesuaikan agar kita bisa lebih mudah ‘diterima’. Namun pernahkah kamu merasa tertekan dengan ‘panduan’ ini? Atau merasa sulit mengekspresikan diri karena takut bertentangan dengan apa yang dianggap normal atau diterima? Nah, di situlah kita mulai bicara soal konformitas yang tidak sehat.

Artikel ini hadir untuk mengajakmu merefleksikan jenis konformitas yang tidak sehat. Sebab, terlalu lama berada dalam zona nyaman konformitas, bisa membuat kita lupa bahwa kita punya hak untuk menjadi diri sendiri. Dan terkadang, menjadi diri sendiri itu artsinya harus berani menentang arus. Kita boleh menolak konformitas yang selama ini membuat kita merasa tidak bebas. Kita akan bahas lebih jauh mengenai hal tersebut.

Kapan Kita Perlu Menentang Konformitas yang Tidak Sehat?

Setelah mendalami apa itu konformitas yang tidak sehat dan dampak negatifnya, sekarang marilah kita beralih ke pertanyaan penting selanjutnya: Kapan sebenarnya kita perlu melawan konformitas ini? Ada beberapa situasi di mana kita perlu lebih kritis dan berani untuk menentang arus konformitas. Apalagi  jika konformitas tersebut telah membawa dampak yang tidak sehat bagi kehidupan kita. Ada beberapa momen penting yang bisa kita jadikan penanda, loh.

A.    Menyadari signifikansi kerugian pribadi atau kelompok

Pertama, saat kita sadar bahwa konformitas tersebut membawa kerugian untuk diri kita atau kelompok. Pada titik ini, muncul tanda merah bahwa kita butuh berani menentang. Contohnya, merasa tertekan hanya karena ingin ‘cocok’ di lingkungan sosial kita. Padahal dampaknya malah lebih buruk untuk kondisi emosional kita daripada sekedar berpakaian sesuai dengan apa yang kita sukai.

B.    Pentingnya mempertahankan integritas dan nilai-nilai pribadi

Kedua, saat konformitas merusak integritas dan nilai-nilai kita. Nah, jika kamu merasa konformitas mulai bentrok dengan prinsip dan keyakinanmu. Mungkin saatnya untuk lebih mandiri dan menentang norma yang ada. Bayangkan situasi di mana atasanmu meminta untuk melakukan sebuah tugas yang jelas-jelas melanggar etika kerja professional. Bukankah di titik itu kamu perlu membela nilai pribadimu dan menolak tugas tersebut?

Bagaimana Cara Menentang Konformitas yang Tidak Sehat?

Sebagai langkah awal dalam melawan konformitas yang tidak sehat, kita perlu paham beberapa hal yang bisa membantu kita, antara lain:

A.    Jangan malu untuk mengobrol soal kekhawatiran dan pandanganmu.

Coba mulai terbuka membicarakan perasaan dan pandanganmu kepada teman atau kerabat. Siapa tahu mereka juga merasakan hal yang sama dan bahkan bersedia untuk mendukung perubahan yang lebih positif.

B.    Tunjukkan sikap tegas dan respek dalam menyampaikan perbedaan pendapat.

Kamu boleh kok berbeda pandangan, asal kita bisa mengungkapkannya dengan sopan. Biarpun perbedaan itu ada, jangan lupa untuk tetap menegaskan sikapmu dengan baik.

C.    Cari dukungan dari orang-orang yang sejalan.

Ada baiknya kita mencari teman seperjuangan agar kita tidak sendirian dalam menghadapi konformitas yang tidak sehat. Temukan pihak lain yang punya pemikiran segar dan berani untuk mengkritik norma yang ada.

Jadi, kita bisa coba cara-cara tersebut di atas untuk bersama-sama berjuang melawan konformitas yang merugikan kita. Toh, hidup nggak melulu soal mengikuti tren, kan? Tapi, juga untuk saling menghargai keunikan masing-masing.

Kasus Nyata Menentang Konformitas yang Tidak Sehat

Di kehidupan sosial, terkadang kita melihat individu yang berani mengambil langkah non konformis. Seperti berkarya dalam bidang yang tidak konvensional atau mengambil keputusan hidup yang tidak umum. Itu penting untuk menghargai dan mentolerir kebebasan individu dalam melawan norma yang tidak sehat.

Di tempat kerja, etos kerja yang efisien dan etika profesional yang kuat sering dikaitkan dengan keberanian untuk menyerukan perubahan. Kita bisa menyuarakan pendapat yang berbeda. Suatu proyek bisa berhasil karena ada orang yang berani menolak konformitas, dan mencari solusi lebih baik.

Jadi, kemandirian adalah pengingat bagi kita bahwa kita adalah individu yang unik dan memiliki kelebihan masing-masing. Konformitas dalam ketepatan seimbang bisa menciptakan harmoni dalam kelompok, tetapi konformitas yang tidak sehat harus kita hindari.

Melawan konformitas yang tidak sehat bukanlah tindakan anarkis. Ini adalah cara kita menjaga diri, menjadi lebih unggul. Sehingga menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk diri kita dan orang di sekitar. Jadi, cobalah untuk lebih kritis dalam pembahasannya dan jangan ragu menentang konformitas yang tidak sehat.

Baca Artikel Kami Lainnya: Apa Itu Konformitas Dan Contoh Di Kehidupan Seharinya

Artikel oleh: Logos Indonesia.

Comment