Aphantasia: Bagaimana Rasanya Tidak Bisa Membayangkan?

Mereka tidak bisa melihat gambaran apel di dalam pikiran mereka. Kata 'aphantasia' sendiri berarti 'tanpa imajinasi'.

Biopsikologi921 Views

Logos Indonesia – Kita semua sering berimajinasi, bukan? Entah itu membayangkan suasana pantai yang indah saat sedang di kantor. Atau wajah orang yang kita cintai saat mereka sedang tidak ada di dekat kita. Tapi, bagaimana rasanya jika kamu tidak bisa melakukannya? Sulit dibayangkan, bukan? Tapi sebagian orang yang kita sebut memiliki ‘aphantasia’ mengalami hal ini setiap harinya.

Aphantasia adalah kondisi di mana seseorang tidak memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan gambar dalam pikiran mereka. Ya, sesederhana saat kita diminta untuk membayangkan sebuah apel. Mereka tidak bisa melihat gambaran apel di dalam pikiran mereka. Kata ‘aphantasia’ sendiri berasal dari Bahasa Yunani yang berarti ‘tanpa imajinasi’.

Apa Itu Aphantasia?

Jadi, kita sudah punya gambaran kasar apa itu aphantasia, tapi lebih detilnya apa sih itu? Singkatnya, aphantasia adalah kondisi di mana kita benar-benar tidak bisa membayangkan. Bukan cuma visual loh, bisa melibatkan semua indera. Jadi, bukan hanya gambaran visual yang hilang, bisa juga suara, aroma, bahkan sensasi fisik. Jadi, kalau orang kebanyakan bisa memutar ulang lagu favorit mereka dalam pikiran. Atau merasakan rasa manis coklat saat membayangkan makan coklat. Maka orang dengan aphantasia tidak bisa melakukan itu.

Bagaimana Kamu Bisa Tahu Bahwa Kamu Mungkin Memiliki Aphantasia?

Bagaimana sih caranya tahu kalau kita memiliki aphantasia? Nah, berikut beberapa gejala yang bisa jadi pertanda kamu memiliki aphantasia:

  1. Ketidakmampuan Membayangkan Visual: Kalau kamu diminta untuk membayangkan apapun. Mulai dari wajah ibu kamu, anak anjing yang lucu, sampai lukisan Monet sekalipun. Kamu tidak bisa menciptakan gambaran itu di pikiran kamu.
  2. Kesulitan Mengingat Masa Lalu dalam Bentuk Gambaran: Orang dengan aphantasia biasanya merasa sulit jika diminta untuk mengingat kembali kenangan dalam bentuk gambaran visual. Jadi, tidak seperti kita yang bisa “menonton ulang” kenangan kita layaknya film di pikiran, mereka tidak bisa melakukannya.
  3. Kesulitan dalam Merencanakan Masa Depan secara Visual: Sama halnya dengan mengingat masa lalu, merencanakan atau membayangkan masa depan. Hal ini juga sering kali menjadi tantangan bagi mereka yang memiliki aphantasia.

Nah, tapi perlu diingat nih, bahwa aphantasia ini bisa berbeda-beda tingkatannya antara satu orang dengan orang lainnya.

Antara Tidak Bisa Membayangkan dan Kesulitan Membayangkan

Tapi tunggu dulu, apa bedanya orang dengan aphantasia dan orang yang hanya kesulitan membayangkan? Nah, ini bedanya.

Yang namanya kesulitan membayangkan berarti kamu tetap bisa merasakan sensasi memvisualisasikan sesuatu dalam pikiran kamu. Hanya saja gambaran itu mungkin tidak begitu jelas atau tidak detail. Misalnya, saat kamu diminta untuk membayangkan wajah sahabat kamu. Kamu mungkin bisa merasakan wajah mereka secara kasar. Tapi mungkin kamu sulit untuk membayangkan detail seperti bentuk alis atau lesung pipinya.

Tapi, kalau kamu memiliki aphantasia, maka saat diminta untuk membayangkan hal yang sama. Pikiran kamu akan kosong. Kamu benar-benar tidak bisa menghasilkan gambaran apapun. Itu yang menjadi perbedaan utama antara aphantasia dan hanya kesulitan membayangkan.

Perasaan dan Pengalaman Seseorang dengan Aphantasia

Sejauh ini, kita sudah bicara tentang apa itu aphantasia dari sudut pandang ilmiah dan bagaimana gejalanya. Tapi, bagaimana ya perasaan dan pengalaman seseorang yang punya aphantasia? Gimana cara mereka mengerjakan tugas sehari-hari yang mungkin membutuhkan kemampuan membayangkan?

Ada beberapa orang dengan aphantasia yang merasa tidak terganggu sama sekali dengan kondisi mereka dan bisa menjalani hidup seperti biasa. Ada juga yang merasa sedikit kesulitan, terutama dalam hal yang berhubungan dengan memori dan visualisasi.

Baca Artikel Kami Lainnya: Gangguan Mental yang Sering Dialami Orang Kaya

Misalnya, saat kita membaca buku. Biasanya kan kita bisa “melihat” adegan yang dijabarkan oleh penulis di pikiran kita, seperti mini film gitu. Nah, untuk yang punya aphantasia, mereka tidak bisa “melihat” adegan tersebut. Mungkin inilah alasan kenapa beberapa orang dengan aphantasia lebih suka film dibanding buku.

Kadang, ada juga yang merasa sedikit kesulitan saat menceritakan kembali momen atau memori. Karena mereka tidak bisa “melihat” kenangan tersebut dalam pikiran mereka. Namun, biasanya mereka bisa menemukan cara mereka sendiri untuk mengatasi tantangan tersebut.

Aphantasia, Mental Blindness, dan Alexithymia: Apa Bedanya?

Seperti yang kita tahu, dalam dunia kedokteran, ada banyak sekali istilah dan kondisi yang mungkin terdengar mirip tapi sebenarnya berbeda. Nah, aphantasia, mental blindness, dan alexithymia nih, adalah tiga di antaranya.

Aphantasia, seperti yang sudah kita bahas, adalah ketidakmampuan untuk memvisualisasikan gambar dalam pikiran. Orang dengan aphantasia kalau diminta membayangkan sesuatu, mereka benar-benar tidak bisa “melihat” apa-apa di pikiran mereka.

Sedangkan, Mental Blindness ini lebih ke arah ketidakmampuan untuk mengenali atau memahami pikiran dan perasaan sendiri atau orang lain. Orang dengan kondisi ini bisa saja bisa memvisualisasikan gambar dalam pikiran. Tapi mereka mungkin kesulitan untuk memahami apa makna atau pesan dari gambar tersebut.

Lalu, ada Alexithymia. Kondisi ini adalah ketidakmampuan untuk mengenali atau menjelaskan perasaan sendiri. Jadi, walaupun mereka mungkin bisa memvisualisasikan gambar dalam pikiran, mereka mungkin kesulitan untuk memahami atau mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

Jadi, walaupun ketiga kondisi ini mungkin terdengar mirip, sebenarnya beda lho.

Baca Artikel Kami Lainnya: Tips Membentuk Mental Yang Kuat: Agar Tidak Mudah Merasa Cemas Saat Menghadapi Permasalahan

Artikel oleh: Logos Indonesia.