Gangguan Kecemasan : Ini Dia Pengertian Dari Agoraphobia

Agoraphobia atau agorafobia merupakan salah satu dari bagian anxiety disorder yang ditandai dengan perasaan takut atau kecemasan berlebih jika berapa pada lingkungan yang membuat pengidap kesusahan untuk pergi atau meminta bantuan dari orang lain.

Klinis1913 Views

Logos Indonesia – Cemas merupakan kondisi dimana seseorang merasa takut secara berlebihan terhadap sesuatu atau kondisi tertentu. Perasaan cemas merupakan respon alami tubuh saat berada pada situasi yang menurut kita berbahaya. Dengan demikian, perasaan cemas itu sendiri cukup normal dan bisa dialami oleh siapa saja.

Perasaan cemas yang umum misalnya, kamu merasa cemas sebelum melakukan presentasi di depan kelas. Setelah presentasi selesai, kamu akan merasa legah dan tidak merasakan kecemasan itu lagi. Tentu saja kondisi itu merupakan kondisi yang normal.

Sayangnya, kecemasan tidak selalu normal. Pada kondisi yang parah, kecemasan dapat menjadi sebuah gangguan mental atau yang disebut dengan anxiety disorder. Gangguan kecemasan atau anxiety disorder merupakan salah satu gangguan mental yang membuat penderitanya merasa cemas atau ketakutan yang berlebihan.

Dalam DSM-V, anxiety disorder sendiri merupakan bagian dari beberapa gangguan mental lainnya. Salah satu gangguan mental dari anxiety disorder adalah agoraphobia atau agorafobia. Untuk penjelasan lebih detailnya, pada artikel ini akan kami jelaskan mengenai apa itu agoraphobia, gejala agoraphobia, penyebab agoraphobia, hingga penanganan terhadap pengidap agoraphobia.

Apa Itu Agoraphobia?

Apa Itu Agoraphobia
Apa Itu Agoraphobia

Agoraphobia atau agorafobia merupakan salah satu dari bagian anxiety disorder yang ditandai dengan perasaan takut atau kecemasan berlebih jika berapa pada lingkungan yang membuat pengidap kesusahan untuk pergi atau meminta bantuan dari orang lain.

Penderita agoraphobia umumnya akan merasa takut dan cemas secara berlebih saat berada di public area, seperti di transportasi umum. Mereka juga takut berada di tempat tertutup seperti mengunjungi pusat perbelanjaan dan bioskop, atau tempat terbuka seperti, jembatan dan area parkir yang luas. Tempat-tempat tersebut dirasa tidak aman, berbeda saat mereka berada di rumahnya.

Akibat dari perasaan takut berlebih ini, pengidap agoraphobia akan mengalami hambatan dengan kegiatan sosialnya, seperti sekolah, bekerja, atau bahkan sekedar membangun pertemanan di lingkup sosial.

Jika dilihat sekilas dari pengertiannya, kamu mungkin bertanya-tanya apakah agoraphobia sama dengan fobia sosial? Jawabannya tidak. Pada agoraphobia, ketakutannya terletak pada tempat atau lingkungannya, sedangkan pada fobia sosial ketakutannya terletak pada interaksi sosialnya.

Gejala Agoraphobia

Gejala Agoraphobia
Gejala Agoraphobia

Agoraphobia atau agorafobia umumnya ditandai dengan beberapa gejala sebagai berikut:

Gejala berdasarkan kondisi

Penderita agoraphobia akan merasa ketakutan berlebih saat meninggalkan rumah. Bagi mereka, rumah merupakan tempat teraman. Selain itu, mereka juga takut berada pada ruang terbuka yang luas, seperti lapangan parkir dan jembatan. Ruangan tertutup juga sangat ditakut, seperti bioskon dan pusat perbelanjaan.

Kondisi ini tentu akan sangat menghambat interaksi sosial mereka. Terlebih lagi, mereka takut untuk menggunakan transportasi umum, dan lebih memilih untuk berbelanja dengan memanfaatkan media online.

Baca Artikel Kami Lainnya : Gangguan Kecemasan : Apa Itu Generalized Anxiety Disorder?

Gejala fisik

Perasaan takut atau cemas yang berlebihan pada penderita agoraphobia membuat mereka mengalami beberapa gejala fisik, yaitu nyeri dada, jantung berdebar cepat, nafas menjadi cepat (hiperventilasi), gemetaran, mati rasa, atau kesemutan, tubuh terasa panas dan berkeringat, sakit kepala ringan atau pusing, sakit perut, mual, atau diare, kesulitan menelan atau tersedak, hingga perasaan tidak sehat atau seperti akan pingsan.

Gejala kognitif

Selain gejala fisik, seorang penderita agoraphobia juga merasakan berbagai gejala kognitif, seperti perasaan malu atau terlihat bodoh di hadapan orang lain, gugup dan gemetar ketika ditatap oleh orang, merasa tidak bisa melarikan diri dari suatu tempat atau situasi saat terjadi serangan panik, tidak bisa berpikir jernih saat berada di tempat umum, hingga mengalami serangan panik yang dapat membuat sesak napas atau jantung berhenti berdetak.

Gejala perilaku

Pengidap agoraphobia juga menunjukkan gejala perilaku, seperti menghindari situasi atau lokasi yang dianggap dapat menimbulkan serangan panik, menghindari bepergian ke luar rumah dalam waktu yang lama, selalu membutuhkan teman untuk pergi ke luar rumah, hingga perasaan takut untuk keluar rumah.

Penyebab Agoraphobia

Penyebab Agoraphobia
Penyebab Agoraphobia

Hingga saat ini belum bisa ditentukan secara pasti penyebab dari agoraphobia. Namun, gangguan ini sangat sering dikaitkan dengan panic disorder. Dengan demikian, seseorang yang mengalami agoraphobia umumnya juga memiliki komplikasi dengan panic disorder.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang membuat seseorang kemungkinan besar mengidap agoraphobia, seperti faktor genetik, stress yang tinggi, pengalaman belajar yang buruk, adanya riwayat panic disorder dan fobia lainnya, pengalaman traumatis, hingga memiliki gangguan kecemasan.

Agoraphobia  juga umumnya dapat menyebabkan berbagai gangguan lain, seperti depresi, penyalahgunaan alkohol atau narkoba, hingga gangguan mental lainnya, termasuk gangguan kecemasan atau gangguan kepribadian.

Penanganan Terhadap Pengidap Agoraphobia

Penanganan Terhadap Pengidap Agoraphobia
Penanganan Terhadap Pengidap Agoraphobia

Jika kamu merasa merasakan beberapa gejala dari agoraphobia di atas, ada baiknya melakukan konsultasi dengan Psikolog atau Psikiater. Kamu bisa mengunjungi puskesmas, rumah sakit, atau Klinik Konsultasi Psikologi. Kamu juga bisa melakukan Konseling Online jika masih ragu untuk bertatapan langsung dengan Psikolog.

Setelah mendapatkan diagnosis, Psikolog umumnya akan memberikan beberapa terapi psikologi seperti cognitive behavioral therapy (CBT), terapi pemaparan, terapi relaksasi, atau terapi psikologi lainnya. Sedangkan Psikiater biasanya akan meresepkan beberapa obat, seperti obat penghambat serotonin, benzodiazepine, atau obat-obatan lainnya yang dibutuhkan. Tentu saja untuk mengkonsumsi obat-obatan tersebut harus melalui resep dari dokter.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca Artikel Kami Lainnya : Gangguan Kecemasan : Mengenal Panic Disorder dan Kapan Harus Ke Psikolog