Analis Psikologis: Kenapa Beberapa Orang Lebih Rentan Terhadap Doktrin Terorisme?

Doktrin terorisme adalah prinsip yang disampaikan oleh organisasi teroris dengan tujuan merekrut dan mempengaruhi orang-orang.

Islam, Sosial1716 Views

Logos IndonesiaKetika mendengar kata “terorisme”, apa yang terlintas di pikiran kamu? Sebagian besar dari kita mungkin langsung teringat berita tentang serangan bom atau penembakan massal yang menggemparkan dunia. Namun, di balik pemberitaan yang mengejutkan dan menakutkan tersebut, ada sesuatu yang perlu kita pahami bersama. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dan mengapa ada orang yang mudah terpengaruh pada doktrin terorisme ini? Sebelum kita menggali lebih dalam, mari kita bahas dulu apa itu terorisme. Secara umum, terorisme adalah penggunaan kekerasan yang disengaja untuk mencapai tujuan politik, agama, atau ideologis.

Mungkin kamu pernah bertanya, apa yang mendorong seseorang untuk tunduk pada doktrin terorisme? Apa yang membuat mereka rela meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan memilih jalan kekerasan? Disinilah analisis psikologis berperan dalam memahami fenomena ini. Dengan bantuan pendekatan psikologis, kita dapat menggali lebih dalam sebab-sebab yang melatarbelakangi perilaku teroris. Sehingga dapat mengungkap alasan mengapa beberapa orang lebih rentan terhadap doktrin terorisme.

Baca Artikel Kami Lainnya: Kamu ISFJ? Tipe kepribadian MBTI merasa nggak enakan jika harus menolak orang lain

Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa poin penting terkait dengan psikologi terorisme. Seperti, apa itu doktrin terorisme, bagaimana hal itu bekerja, serta peran penting psikologi dalam memahami semuanya. Tujuan utama artikel ini adalah memberikan pengetahuan dan wawasan yang mendalam bagi kita semua. Mengapa beberapa orang lebih rentan terhadap doktrin terorisme?

Apa itu doktrin terorisme?

Sebelum kita membahas lebih lanjut, penting bagi kita untuk memahami apa itu doktrin terorisme. Doktrin terorisme adalah serangkaian ajaran atau prinsip yang disampaikan oleh organisasi teroris dengan tujuan merekrut dan mempengaruhi orang-orang. Sehingga orang mau mendukung atau bergabung dalam aksi terorisme demi mencapai tujuan mereka.

Umumnya, doktrin terorisme mencakup pemikiran serta kepercayaan yang didasarkan pada ideologi tertentu, seperti politik, agama, atau kekerasan. Tujuan utama doktrin terorisme adalah untuk menjaga agar pemikiran terorisme tetap hidup dan berkembang, serta mendorong orang-orang untuk beraksi. Doktrin ini bisa sangat efektif dalam mempengaruhi individu yang rentan. Sehingga mereka merasa terpanggil untuk melakukan tindakan kekerasan demi mencapai “tujuan mulia” yang diyakini oleh kelompok terorisme tersebut.

Bagaimana doktrin terorisme disebarkan / diterapkan?

Doktrin terorisme biasanya disebarkan melalui berbagai cara, mulai dari pengajaran langsung, media, internet, rekaman audio/video, hingga selebaran dan poster. Teknik-teknik yang digunakan dalam menyampaikan doktrin terorisme. Bertujuan untuk mempengaruhi dan membentuk opini serta perilaku calon penganut terorisme. Salah satunya adalah dengan memanipulasi emosi dan mengeksploitasi ketakutan atau kebencian terhadap kelompok tertentu.

Contoh-contoh kasus nyata doktrin terorisme

Beberapa contoh kasus nyata doktrin terorisme meliputi perekrutan oleh kelompok teroris seperti Al-Qaeda, ISIS, dan Boko Haram. Mereka seringkali melakukan rekrutmen secara sistematis, menargetkan individu yang rentan seperti orang-orang yang merasa terpinggirkan atau mengalami kesulitan ekonomi. Lalu, memberikan mereka harapan dan keyakinan bahwa bergabung dalam kelompok teroris akan memberi mereka identitas, kekuatan, dan tujuan hidup.

Melalui contoh-contoh di atas, kita bisa melihat betapa kuatnya pengaruh doktrin terorisme bagi seseorang yang rentan dan tertarik dengan ideologi tersebut. Kita perlu terus meningkatkan pemahaman tentang doktrin terorisme dan bekerja bersama untuk mencegah penyebaran doktrin berbahaya ini.

Faktor-Faktor yang Membuat Seseorang Lebih Rentan Terhadap Doktrin Terorisme

A. Faktor Pribadi dan Psikologis

Ada kalanya kondisi pribadi dan psikologis seseorang membuat mereka lebih rentan terhadap doktrin terorisme. Misalnya, kamu mungkin pernah mendengar kasus seseorang yang mengalami masalah mental atau emosional. Hal ini membuat mereka mudah terpengaruh oleh ideologi yang radikal dan berbahaya. Mereka mungkin mencari pengakuan atau makna di tempat yang salah. Dalam hal ini, organisasi teroris. Mereka merasa bahwa melakukan tindakan terorisme adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan apa yang mereka cari.

B. Faktor Lingkungan dan Sosial

Lingkungan dan situasi sosial juga memegang peranan penting. Misalnya, orang-orang yang hidup di zona konflik atau daerah dengan kekerasan tinggi lebih rentan terhadap doktrin terorisme. Demikian pula, jika kita berada di lingkungan yang penuh dengan diskriminasi, permusuhan, atau kebencian terhadap kelompok tertentu. Hal ini kemungkinan besar kita juga bisa lebih mudah terpengaruh oleh doktrin terorisme.

C. Faktor Politik dan Ideologis

Politik dan ideologi juga bisa mempengaruhi seseorang untuk lebih rentan terhadap doktrin terorisme. Misalnya, jika seseorang merasa bahwa pemerintah atau sistem politik tidak memberikan keadilan. Maka mereka bisa jadi lebih mudah menerima opini radikal dan setuju untuk melakukan tindakan ekstrem seperti terorisme.

D. Faktor Sosioekonomi

Faktor lainnya yang bisa membuat seseorang lebih rentan terhadap doktrin terorisme adalah kondisi sosioekonomi. Orang yang hidup dalam kemiskinan, pengangguran, atau penindasan sosial bisa merasa terdesak. Kemudian melihat terorisme sebagai jalan keluar untuk mengubah kondisinya.

Dengan memahami berbagai faktor tersebut, kita bisa membuat langkah proaktif untuk mencegah dan melindungi diri dari pengaruh negatif ini.

Baca Artikel Kami Lainnya: Bagaimana Berpikir Katakstrofik atau Berpikir Negatife Bisa Muncul dalam Kehidupan Sehari-hari

Artikel oleh: Logos Indonesia.