Apa itu NEET? Kenapa Bisa Meningkat di Indonesia Selama Pandemik

NEET merupakan kata lain dari orang yang pengangguran. Selama pandemik berlangsung, NEET ini semakin meningkat.

Logos Indonesia – Selama pandemik covid-19 ini, banyak hal yang berubah. Mulai dari kebiasaan sehari-hari, perubahan situasi, perubahan ekonomi dan lainnya. Selama pandemik ini kita diwajibkan untuk menetapkan protokol kesehatan yang sudah diterapkan oleh pemerintah.

Seperti, diwajibkan untuk melakukan vaksinasi 1, vaksinasi 2 dan vaksin booster untuk memberikan daya tahan tubuh terhadap virus covid-19. Walaupun sudah melakukan vaksinasi-pun, kita diwajibkan untuk menggunakan masker 3 lapis, dan menjaga kebersihan dalam menjalani aktivitas luar rumah.

Di awal perubahan situasi ini, memunculkan perasaan kecemasan yang berlebih pada virus covid-19. Akhirnya, aktivitas di luar rumah semakin lama semakin berkurang. Dalam dunia pekerjaan, pekerjaan yang mengharuskan masuk ke tempat kerja untuk bisa bekerja sangat dirugikan, seperti buruh pabrik.

Jam kerja mereka akan berkurang. Bahkan ketika lockdown diterapkan, ini yang menjadi permasalahan mereka. Pihak perusahaan harus mengambil tindakan agar tidak terjadi kerugian besar. Mau tidak mau, pemangkasan karyawan bisa menjadi solusi untuk mengatasinya.

Permasalahan selama pandemik ini, membuat pengangguran usia produktif di Indonesia meningkat. Berdasarkan data statistik yang dijelaskan oleh ANTARA. Menurut Femmy, jumlah NEET di Indonesia semakin meningkat selama tahun 2020-2021.

Pada tahun 2020, terdapat NEET sebanyak 21,77%. Pada tahun 2021, usia produktif antara usia 16-30 tahun, mengalami kenaikan angka NEET menjadi 26,64%. Pernyataan Femmy ini banyak menyebutkam kata “NEET”. Sebenernya apa itu NEET? Mari kita bahas.

Baca Artikel Kami Lainnya: Apa Itu Xenophobia Dan Dampaknya Bagi Pendidikan Anak.

Pengertian NEET

Perasaan NEET adalah kehampaan
Perasaan NEET adalah kehampaan

NEET memiliki arti yang sama dengan pengangguran. Not Employment, Education, or Training (NEET) adalah individu usia produktif dan sehat secara fisik maupun psikisnya yang sedang tidak bersekolah, bekerja ataupun mengikuti pelatihan. Usia produktif ini berkisar usia 16-35 tahun.

NEET pertama kali diperkenalkan di Inggris pada tahun 90-an. Namun, sekarang lebih terkenal di Jepang. Berdasarkan informasi dari dafunda, dalam penyebutan NEET di jepang yaitu Mugyousha, yaitu orang yang tidak memiliki pekerjaan atau pengangguran. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang kaya. Sangat berbeda dengan di negara lainnya, pengangguran lebih banyak pada kalangan menengah ke bawah.

NEETERS merupakan sebutan bagi orang yang melakukan NEET. Umumnya, NEETERS tidak menyadari bahwa yang dilakukannya merupakan tindakan protes. Namun, NEETERS menyadari bahwa yang dilakukanya itu karena rasa kekecewaan.

Baca Artikel Kami Lainnya: Tips Agar Bisa Memaafkan Seseorang Yang Mengkhianatimu.

Apa Penyebab Munculnya NEET?

Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Seperti perubahan tatanan masyarakat, pola asuh dan permasalahan di sekolah. Tiap orang memiliki penyebab yang berbeda-beda.

Pertama, perubahan tatanan masyarakat. Di masa pandemik ini, banyak sekali pengangguran karena di PHK oleh perusahaannya. Kemudian, lebih banyaknya orang yang menganggur dari pada kebutuhan atas lapangan pekerjaan juga menjadi kontribusi terhadap NEET. Sehingga NEETERS stres akibat merasa ketidakberdayaannya, merasa putus asa.

Kedua, akibat pola asuh. Perbedaan yang jelas antara pola asuh sekarang dan zaman dulu adalah metalitas daya juang. Pola asuh zaman dulu, menenkankan pada metalitas yang kuat. Anak di dorong lebih keras oleh orangtuanya. Walaupun memiliki kelemahan yaitu bersifat satu arah, yaitu orangtua tidak mau menerima pendapat anaknya.

Sedangkan pola asuh zaman sekarang lebih memiliki metalitas yang cenderung lembek. Karena sedari kecil sudah dimanja, tidak mengenal makna dari proses kerja kertas dari motivasi internalnya. Sisi positifnya adalah orangtua mau menampung pendapat anaknya. Namun kembali lagi. Jika anak tidak di ajarkan sikap mandiri sejak awal, maka kedepannya anak selalu mengeluh dan mudah menyerah ketika menemukan kegagalan.

Ketiga, masalah di sekolah. Salah satu ciri seorang NEETERS adalah tidak sekolah atau putus sekolah. Alasan ini, bisa jadi karena lingkungan sekolah yang kurang nyaman. Seperti anak yang sering di bully oleh teman sekelasnya atau memiliki permasalahan akademik. Di Indonesia, anak yang putus sekolah banyak di sebabkan karena masalah ekonomi yang rendah.

Baca Artikel Kami Lainnya: Mau Hari Mu Lebih Bermakna? Ini Tips Dari Kami

Jenis NEET

Berdasarkan Dafunda, terdapat 4 jenis NEET, yaitu:

Yankee Kata

Jenis NEET ini, hanya mau bersenang-senang saja dan tidak mau bekerja. NEETERS ini menjadi benalu bagi orangtuanya. Biasanya, jenis NEETERS ini lebih banyak di jepang dengan keluarga yang kaya raya.

Hikikomori Kata

Jenis NEETERS ini lebih suka mengurung diri di kamar dari pada bersosialisasi di luar rumah. NEETERS ini lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain games atau melakukan aktivitas di dalam kamar saja. Beberapa dari NEETERS ada yang mengakhir hidupnya dengan bunuh diri. Karena merasa hampa, bosan dalam hidupnya.

Tachisukumu Kata

NEETERS ini banyak sekali di masa pandemik yang baru lulus pendidikannya dan ingin mencari pekerjaan. NEETERS masih ragu-ragu dalam memutuskan masa depannya ingin menjadi apa.

Tsumazuki Kata

NEETERS jenis ini berasal dari kegagalanya dalam mencapai impiannya. Ia sudah melakukan usaha semampunya untuk menggapai impiannya itu, tapi gagal. Akibat kegagalanya itu, ia memilih untuk menjadi pengangguran.

Artikel oleh: Logos Indonesia