Biografi Tokoh Psikologi Analisis, Carl Jung

Carl Gustav Jung merupakan tokoh psikoanalisis selain Sigmund Freud. Teori terkenalnya adalah Ketidaksadaran kolektif dan arketipe.

Tokoh5662 Views

Logos Indonesia Carl Gustav Jung merupakan salah satu tokoh psikoanalisis selain Sigmund Freud. Tau kah kamu, kalo teori Jung ini beberapa kali digunakan oleh Bangtan Sonyeondan atau sering disebut BTS, boyband asal Korea ini dalam membuat lagunya.

Jika kamu sering mendengarkan lagu mereka dengan  berjudul, “Shadow”, “Persona”, “Ego” yang terdapat pada “Album Map Of The Soul: Persona“. Judul lagu tersebut merupakan beberapa arketipe yang di teori ketidaksadaran kolektif miliki Jung.

Secara ringkas, Carl Gustav Jung merupakan rekan kerja dari Sigmund Freud di awal karirnya. Namun karena ada perbedaan paham, akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah dan membuat teori mereka sendiri.

Oleh sebab itu, teori Jung dan Freud memiliki dasar yang sama yaitu teori mereka sama-sama berfokus pada  ketidaksadaran atau alam bawah sadar. Karena psikoanalisis identik dengan hal itu. Namun karena ada perbedaan pandangan, akhirnya terpecah. Perbedaan yang jelas antara pemahaman Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung adalah Freud menekankan pada ketidaksadaran personal, sedangkan Jung menekankan pada ketidaksadaran kolektif.

Selain itu, Feud terkenal dengan teori Id, ego dan super ego-nya. Dan disini, Freud menggambarkan “id” sebagai faktor utama dorongan atas tindakan yang di lakukan oleh manusia. Sedangkan Jung tidak menggunakan itu. Ia lebih menggunakan arketipe dalam teorinya.

Teori Jung berasumsi, bahwa fenomena yang berhubungan dengan kekuatan gaib atau magis, mempengaruhi kehidupan manusia. Jung meyakini, setiap orang lebih termotivasi pada pengalaman emosional yang dipengaruhi oleh para leluhur dibandingkan dengan pengalaman yang ditekan.

Mari kita mengenal Carl Gustav Jung. Berikut ini akan di sampaikan biografi lengkap tokoh Carl Gustav Jung dalam buku Feist, Feist & Roberts (2017).

Baca Artikel Kami Lainnya: Apa Itu Efek Barnum? Kepercayaan Pada Sugesti Ramalan.

carl gustav jung muda
Carl Gustav Jung Sewaktu Muda

Keluarga Carl Jung

Carl Gustav Jung lahir pada tanggal 16 Juli 1875 di Kesswil, Swiss. Kakeknya merupakan fisikawan terkenal di Basel. Sementara orangtua Jung sama-sama anak terakhir dari keluarganya.

Ayah Jung bernama Johann Paul Jung, seorang pejabat Swiss Reformed Church. Sedangkan ibunya bernama Emilie Preiswerk Jung, seorang ahli teologi.

Pandangan Jung Terhadap Orangtuanya

Jung merupakan anak kedua dari tiga orang bersaudara. Keluarga dari ibunya ini sangat kental sekali dengan tradisi spiritual dan mistik. Bahkan kakek dari pihak ibu yaitu Samuel Preiswerk merupakan penganut “occult“. Samuel mengaku bisa berbicara dengan orang yang sudah meninggal. Setiap hari, Samuel berbicara dengan istrinya yang sudah meninggal.

Jung menggambarkan sosok ayah bagi diringa adalah seorang yang idealis, sentimentil dengan keraguannya dalam meyakini agamanya. Kata “ayah” bagi Jung bermakna dapat dipercaya, namun tidak berkuasa.

Sedangkan, Jung menggambarkan ibunya sebagai sosok realistis, praktis, dan berhati hangat. Namun, di lain waktu juga, Jung juga menggambarkan ibunya sebagai seseorang yang tidak stabil, percaya dengan hal mistis, kuno dan keji. Secara umum, Jung lebih mengenalnya sebagai orang yang tidak stabil dan mistik.

Pada usia 3 tahun, Jung terpisah dengan ibunya. Hak ini karena ibunya harus menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa bulan. Pemisahan tersebut menimbulkan luka bagi Jung. Yang akhirnya, Jung mengasosiasikan “wanita”, sosok ibunya dengan sesuatu yang tidak bisa dipercaya.

Awal Karir Jung

Pada usia 16-19 tahun, Jung sudah merumuskan teori kepribadiannya yaitu introvert dan extrovert. Orang yang memiliki kepribadian extrovert, bisa menerima dunianya secara subjektif. Sedangkan introvert, melihat dunia secara subjektif. Selama masa sekolah Jung cenderung introvert. Akan tetapi, pada waktu pelakukan pekerjaannya, Jung cenderung extrovert.

Profesi pertamanya adalah Arkeologi. Ia juga tertarik dengan fisiologi, sejarah, filsafat, dan ilmu alam. Karena alasan biaya. Jung akhirnya berkuliah di Basel University, jurusan ilmu alam. Hal tersebut membuat Jung memutuskan untuk berkarir di bidang kedokteran, khususnya psikiatri.

Di tahun pertama Jung sekolah kedokteran, ayahnya meningal dunia. Setelah itu, diadakan pertemuan occult yang diselenggarakan oleh pihak keluarga ibunya untuk berkomunikasi dengan arwah. Kejadian ini dimanfaatkan oleh Jung untuk menjadi topik disertasi kedokterannya.

Baca Artikel Kami Lainnya: Mengulas Tragedi Kanjuruhan dari Kacamata Psikologi.

Awal Pertemuan Jung Dengan Freud

Pada tahun 1906, Jung dan Freud mulai saling mengirim surat satu sama lain yang berakhir kerja sama bisnis. Freud memganggap Jung sebagai seorang yang ideal menjadi pengganti dirinya suatu saat nanti.

Namun, hubungan mereka memburuk saat Freud tidak bisa mengartikan mimpi Jung. Terjadilah perdebatan pemahaman dalam menjelaskan arti dari mimpi Jung itu. Bahkan Jung menuliskan dalam bukunya, “Memoris Dreams, Reflection” (1961) bahwa Feud tidak mau membuka cerita kehidupan pribadinya secara detail. Pada tahun 1913, mereka berhenti mengirim surat satu sama lain.

Munculnya Teori Ketidaksadaran Kolektif

Jung menemukan teori utamanya ini di usia sekitar 30 atau 40 tahunan. Terdapat masa “creative illness“, perasaan kesepian dan keterasingan akibat perpisahannya dengan sosok ayah spiritualnya.

Jung berhasil masuk ke dalam alam bawah sadarnya melalui mimpi. Jung akan menuliskan, menganalisis dan mengikuti setiap mimpinya hingga menemukan ketidaksadaran kolektif berupa arketipe. Dalam mimpinya, ia mendengar suara feminim (anima), sisi buruknya (shadow), berbicara dengan orangtua bijak (wise old man), bertemu dengan ibu agung (great mother), dan mencapai keutuhan dirinya (individuasi atau self). Jung meninggal pada 6 Juni 1961 di Zurick di usia 85 tahu. Teorinya ini di kenal di seluruh dunia hingga sekarang.

Sumber: Feist, J., Feist, G. J., & Roberts, T. (2017). Teori kepribadian: Theories of. Personality. Buku 1, Edisi 8. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Artikel oleh: Logos Indonesia

Comment