Fobia Sosial: Kenapa Seseorang Takut Berinteraksi dengan Orang Lain?

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih jauh tentang fobia sosial. Mengapa seseorang bisa mengembangkan rasa takut berinteraksi ini.

Klinis, Sosial3975 Views

Logos IndonesiaAda saat-saat di mana kita merasa gugup ketika berbicara dengan orang baru atau tampil di depan banyak orang, itu wajar. Tapi, bagaimana kalau rasa gugup ini justru berlebihan hingga membuatmu takut berinteraksi dengan orang lain? Itu adalah salah satu karakteristik utama dari fobia sosial. Fobia sosial bukanlah sekadar rasa malu atau canggung, tetapi sebenarnya adalah sebuah gangguan kesehatan mental yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Baca Artikel Kami Lainnya: Kenali Perbedaan Orang Yang Fobia Dan Rasa Takut Biasa

Di Indonesia, walaupun sulit mendapatkan data yang akurat, namun diperkirakan sekitar 7-8% penduduk Indonesia menderita fobia sosial menurut beberapa penelitian. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih jauh tentang fobia sosial. Mengapa seseorang bisa mengembangkan rasa takut berinteraksi ini. Dan bagaimana caranya mengelola serta mengobati fobia sosial.

Pengertian Fobia Sosial

Nah, sebenarnya apa sih fobia sosial itu? Fobia sosial, atau yang dikenal juga dengan istilah social anxiety disorder, adalah sebuah gangguan kesehatan mental. Orang dengan fobia sosial biasanya memiliki rasa takut yang sangat intens terhadap situasi sosial. Mereka merasa diperhatikan dan dihakimi oleh orang lain. Jadi sama seperti bermain di sebuah panggung raksasa di mana semua penontonnya memfokuskan pandangan mereka padamu.

Tapi kata “fobia” di sini tak boleh kita anggap remeh, ya. Ini bukan sekedar rasa grogi atau malas-malasan. Fobia sosial bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan bisa membuat seseorang memilih untuk menghindari situasi sosial sepenuhnya.

Mendalami Jenis-jenis Fobia Sosial

Memahami lebih lanjut tentang jenis-jenis fobia sosial ini bisa membantu kita untuk lebih mengenal dan memahami kondisi ini. Yuk, kita telusuri lebih dalam lagi mengenai jenis-jenis fobia sosial.

Fobia terhadap Situasi Khusus

Saat kita membicarakan fobia terhadap situasi khusus. Maka kita sedang merujuk pada rasa takut dan kecemasan yang intens yang hanya muncul dalam situasi-situasi tertentu. Contoh paling umum, seperti yang sudah kita sebut sebelumnya, adalah public speaking. Tapi, bukan cuma itu saja. Contoh lain bisa jadi seperti menyanyi di depan orang lain. Berbicara dengan orang yang baru dikenal, atau bahkan menelepon seseorang. Ini adalah situasi-situasi yang mungkin dianggap ‘biasa’ oleh banyak orang. Tapi bagi mereka yang memiliki fobia sosial jenis ini, situasi-situasi ini bisa jadi menakutkan dan sangat menantang.

Fobia Sosial Umum

Nah, sekarang mari kita bicara tentang fobia sosial umum. Jika fobia sosial situasional terfokus pada situasi-situasi tertentu. Maka fobia sosial umum melibatkan rasa takut dan kecemasan dalam hampir semua situasi sosial. Bayangkan saja, merasa cemas dan takut setiap kali harus pergi ke toko, menghadiri acara keluarga, hingga makan di tempat umum. Bagi kita yang tidak mengalami fobia sosial, mungkin agak sulit membayangkan betapa beratnya hal ini. Namun, bagi mereka yang mengidapnya, ini adalah realitas yang dihadapi setiap hari.

Sungguh, bisa jadi cukup melelahkan bagi mereka, ‘kan? Makanya, semakin kita memahami tentang fobia sosial ini, semakin banyak pula yang bisa kita lakukan untuk membantu. Jadi, yuk terus simak dan belajar bersama-sama tentang fobia sosial ini.

Sebab-Sebab Fobia Sosial

Sekarang, kita pasti penasaran, ‘kenapa sih ada orang yang bisa mengalami fobia sosial ini?’ Ada beberapa faktor yang bisa membuat seseorang mengembangkan fobia sosial. Yuk, kita lihat apa saja faktor-faktor tersebut.

Faktor Genetik

Pertama, ada faktor genetik. Kamu tahu, kan, bahwa gen kita punya peran besar dalam membentuk siapa kita sekarang? Nah, para peneliti telah menemukan bahwa fobia sosial juga bisa diturunkan dari orang tua ke anaknya. Jadi, jika ada anggota keluarga kamu yang memiliki fobia sosial, mungkin saja kamu memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya juga.

Lingkungan dan Pengalaman Traumatis

Faktor kedua adalah lingkungan dan pengalaman traumatis. Beberapa orang mungkin mengalami acara yang membuat mereka sangat malu atau takut pada masa lalu. Pengalaman ini bisa membuat mereka menjadi lebih berisiko mengembangkan fobia sosial.

Faktor-faktor Psikologis

Selain itu, ada juga faktor-faktor psikologis. Orang dengan rasa percaya diri yang rendah atau yang sangat perfeksionis biasanya lebih berisiko mengembangkan fobia sosial. Mereka merasa terus-menerus diperhatikan dan dihakimi. Yang pada akhirnya membuat mereka takut berinteraksi dengan orang lain.

Pengaruh Media dan Teknologi

Terakhir, faktor modern yang mungkin tak kita sadari: pengaruh media dan teknologi. Dengan banyaknya waktu yang kita habiskan di dunia maya, interaksi sosial kita di dunia nyata bisa jadi berkurang. Ini bisa membuat kita menjadi tidak terbiasa, dan akhirnya merasa cemas, ketika berinteraksi langsung dengan orang lain.

Banyak, ‘kan, faktor yang bisa berpengaruh? Tapi, ingat, mengenal penyebab adalah langkah awal untuk bisa mengatasinya. Terus ikut kita yuk jelajahi lebih jauh tentang fobia sosial ini.

Baca Artikel Kami Lainnya: Aphantasia: Apa yang Terjadi Ketika Otak Tidak Bisa Berimajinasi

Artikel oleh: Logos Indonesia.