6 Proses Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dan Contohnya

Terdapat 6 Proses Acceptance and Commitment Therapy (ACT) yang dapat membantu menemukan nilai yang berharga bagi dirimu.

Klinis, Konseling1927 Views

Logos IndonesiaAcceptance and Commitment Therapy (ACT) adalah bentuk terapi perilaku yang berfokus pada penerimaan dan pengembangan komitmen untuk tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai yang penting bagi seseorang. ACT terdiri dari 6 proses, yaitu:

Acceptance. Menerima dan mengamati pengalaman internal (seperti pikiran, emosi, dan sensasi fisik) tanpa menilai atau mencoba mengendalikan mereka. Tujuannya adalah untuk membantu individu belajar untuk tetap menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan, tanpa terjebak dalam siklus negatif dari perlawanan dan penderitaan.

Cognitive Defusion. Membantu melihat pikiran-pikiran tersebut sebagai sekadar peristiwa mental, bukan realitas objektif. Hal ini membantu individu untuk tidak terjebak dalam pikiran-pikiran yang merugikan dan mengurangi efek negatif dari pikiran tersebut.

Baca Artikel Kami Lainnya: Kelebihan dan Kekurangan dari Acceptance and Commitment Therapy (ACT).

Mindfulness. Mengembangkan kesadaran tentang pengalaman saat ini tanpa menilai atau memprosesnya. Mindfulness membantu menangani stres dan ketegangan secara lebih efektif.

Self-as-Context. Melihat diri sebagai pengamat. Sehingga mampu melihat masalah secara lebih objektif. Hal ini membantu untuk lebih membedakan diri dari pikiran, emosi, dan sensasi fisik yang alami.

Values. Menemukan nilai-nilai yang penting bagi dirimu dan menggunakan nilai-nilai tersebut sebagai panduan untuk tindakan yang sesuai. Hal ini membantu individu untuk menemukan arti dan tujuan dalam hidup mereka dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai tersebut.

Committed Action. Mengambil tindakan konkret dan konsisten untuk mencapai tujuan berdasarkan nilai-nilai yang penting bagimu.

Contoh Pelaksanaan ACT

Untuk lebih mudah memahami ACT ini, maka akan diberikan ilustrasi pelaksanaan ACT secara umum. Percakapan antara pasien dan terapis ini hanyalah gambaran besar untuk memahami 6 proses yang terdapat di ACT. Berikut ini adalah contoh interaksi antara pasien dan terapis dalam sesi ACT.

Terapis   : Selamat datang. Bagaimana kabarmu hari ini?

Pasien    : Saya merasa sangat cemas. Saya tidak bisa berhenti memikirkan semua kesalahan saya dan mungkin membuat saya gagal kedepannya.

Terapis   : Saya mengerti bahwa pikiran itu bisa sangat menakutkan. Apakah Anda ingin mengetahui pikiran itu hanya berada di pikiranmu saja, bukan berada di kenyataan saat ini?

Pasien    : Ya, saya rasa itu akan membantu.

Terapis   : Mari kita lakukan teknik difusi kognitif. Ketika pikiran muncul, bayangkan diri Anda melepaskan pikiran itu seperti balon. Biarkan pikiran itu terbang menjauh dari Anda dan kembali ke saat ini. Apa yang bisa Anda lakukan untuk tetap berada disini sekarang?

Pasien    : Saya bisa bernapas dalam-dalam dan fokus pada hal-hal yang ada di sekitar saya.

Terapis   : Bagus. Sekarang mari kita bicarakan tentang nilai-nilai yang Anda anggap paling berharga di hidup Anda. Apa yang paling penting dalam hidup Anda?

Pasien    : Keluarga saya dan pekerjaan saya.

Terapis   : Baik, jadi bagaimana Anda bisa menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai itu, bahkan ketika pikiran dan emosi negatif muncul?

Pasien    : Saya bisa tetap berhubungan dengan keluarga saya dan mencoba melakukan yang terbaik di tempat kerja saya, meskipun saya merasa cemas.

Terapis   : Sangat bagus. Sekarang mari kita diskusikan tindakan yang konkret yang dapat Anda lakukan untuk mencapai nilai-nilai itu, bahkan ketika Anda merasa cemas. Apa yang bisa Anda lakukan hari ini?

Pasien    : Saya bisa menelepon orang tua saya dan mengatur pertemuan dengan atasan saya untuk membicarakan proyek baru.

Terapis   : Terdengar hebat. Mari kita tetap berkomitmen pada nilai-nilai Anda dan mengambil tindakan sesuai dengan nilai-nilai itu, bahkan ketika pikiran dan emosi negatif muncul.

Baca Artikel Kami Lainnya: Abram Amsel dan Teori Frustrative Nonreward (FNR).

Dari contoh percakapan tersebut, maka dapat diidentifikasi 6 proses terapetik ACT. Dimulai dari penerimaan diri atas semua kecemasan yang dirasakannya, hingga menemukan tujuan hidup dan menerapkannya secara komitmen.

  • Acceptance (penerimaan), terjadi ketika pasien menerima bahwa dia merasa cemas dan tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal negatif.
  • Tahap Cognitive Defusion (defusi kognitif), terapis mengajarkan teknik defusi kognitif, di mana pasien memandang pikiran negatif sebagai hanya pikiran dan membiarkan pikiran itu pergi.
  • Tahap Mindfulness (kesadaran). Terapis membantu pasien untuk fokus pada momen sekarang, dengan bernapas dalam-dalam dan memperhatikan hal-hal di sekitarnya.
  • Tahap Self-as-Context (diri sebagai konteks). Terapis mengajarkan pasien untuk memandang dirinya sebagai pengamat dari pengalaman hidupnya, dan bukan terperangkap oleh pengalaman itu sendiri.
  • Tahap Values. Terapis menanyakan nilai-nilai penting pasien (keluarga dan pekerjaan), dan mengajak pasien untuk menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai itu.
  • Committed Action (tindakan yang berkomitmen). Terapis membantu pasien untuk membuat tindakan konkret yang konsisten dengan nilai-nilai pentingnya (menelepon orang tua dan mengatur pertemuan dengan atasan)

Baca Artikel Kami Lainnya: Mengapa Menerima Kesedihan itu Penting?

Dalam contoh tersebut, ACT membantu pasien untuk menerima perasaan sedih dan kehilangan, emosi yang tidak nyaman, mengatasi pemikiran negatif, dan fokus pada momen sekarang. ACT juga membantu pasien untuk mengidentifikasi nilai-nilai penting dalam hidupnya dan membuat tindakan konkret yang konsisten dengan nilai-nilai itu, bahkan ketika dia merasa sedih dan kehilangan. Dengan demikian, pasien dapat merespon dengan baik terhadap situasi hidup yang sulit dan menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan hidupnya.

Artikel oleh: Logos Indonesia.