Apa Sebenarnya yang Terjadi di Otak Penderita Kleptomania?

Kleptomania adalah gangguan kontrol impuls, yang berarti penderita merasa hampir tidak mungkin untuk menahan diri dari mencuri.

Biopsikologi, Klinis1699 Views

Logos IndonesiaBetapa menyenangkannya rasanya saat kita berhasil menemukan barang yang kita inginkan di toko, membawanya ke kasir. Dan dengan bangga merogoh dompet untuk membayar. Tapi bagaimana jadinya jika tiba-tiba kita merasa dorongan kuat untuk mencuri barang tersebut? “Tidak mungkin,” pikir kamu. Well, percayalah, ada orang-orang di luar sana yang mengalami kondisi ini setiap hari. Tanpa memiliki niat balas dendam, atau berniat mengambil keuntungan dari barang curian. Mereka mencuri karena dorongan tak terkendali yang berasal dari dalam diri mereka sendiri. Ini adalah dunia pikiran yang dialami oleh penderita kleptomania.

Baca Artikel Kami Lainnya: Kleptomania dan Stigma yang Menyertainya

Kleptomania bukanlah sekedar hobi mencuri atau tindakan sembrono yang dilakukan tanpa berpikir. Ini adalah gangguan kontrol impuls, yang berarti penderita merasa hampir tidak mungkin untuk menahan diri dari mencuri. Kamu mungkin bertanya-tanya, “Apa yang sebenarnya terjadi di otak mereka? Kenapa mereka tidak bisa ‘hanya berhenti’ melakukan itu sepert kita?”

Banyak dari kita yang mungkin tidak mengerti bagaimana perasaan yang dialami oleh penderita kleptomania. Ini bukanlah karena mereka kurang berusaha untuk mengontrol diri mereka. Tetapi karena otak mereka bekerja dengan cara yang berbeda dari kita. Bagian otak yang seharusnya mengendalikan tindakan impulsif dan mengevaluasi konsekuensi dari tindakan tersebut mungkin tidak bekerja seefisien otak kita. Jadi, apa sebenarnya yang terjadi di otak penderita kleptomania? Mari kita coba cari tahu lebih lanjut.

Struktur dan Fungsi Otak yang Terlibat dalam Kleptomania

Otak kita rumit. Itu adalah pusat pengendali dari segala macam tugas, mulai dari bernapas, berjalan, hingga membuat keputusan. Termasuk menahan diri untuk tidak mencuri barang yang kamu sukai di toko. Ini pada dasarnya adalah tumpukan besar direktur alami yang ikut campur dalam segala hal.

Jadi, bagian mana dari otak kita yang benar-benar terlibat dalam kontrol impuls dan keputusan? Kunci utamanya ada di frontotemporal cortex. Gimana orang tua kita bilang “jaga sikap”, ya bahasa kerennya adalah mengontrol impuls. Prefrontal cortex berada di bagian depan otak dan berfungsi penting dalam berbagai tugas kognitif tingkat tinggi. Seperti pengambilan keputusan, perencanaan, dan kontrol sosial. Sementara itu, sistem limbic, termasuk amygdala dan hippocampus, berfungsi dalam mengendalikan emosi, perilaku, motivasi, dan ingatan jangka panjang.

Kleptomania tampaknya berhubungan dengan area otak ini. Bagian otak ini berkaitan dengan gratifikasi, kenikmatan, dan kontrol impuls. Pada orang dengan kleptomania, area ini mungkin tidak berfungsi seefisien pada orang tanpa kondisi tersebut. Ini berarti bahwa mereka mungkin merasa dorongan yang kuat untuk mencuri, yang sangat sulit untuk dikendalikan. Mereka mungkin juga merasa senang saat melakukan tindakan mencuri tersebut, yang dapat memperkuat perilaku tersebut di kemudian hari. Jadi, sepertinya otak penderita kleptomania bekerja sedikit berbeda, tidak sepenuhnya sama dengan otak kita.

Apa yang Terjadi di Otak Penderita Kleptomania

Otak saat bermeditasi.

Menelusuri lebih dalam, kajian neurobiologis tentang kleptomania telah mengungkapkan beberapa perubahan yang menarik dalam neurotransmitter. Neurotransmitter adalah subtansi kimia di otak yang bertanggung jawab atas transmisi pesan antar sel otak. Dua neurotransmitter yang paling sering jadi pembicaraan dalam konteks kleptomania adalah serotonin dan dopamine.

Serotonin akrab dengan kita sebagai neurotransmitter yang membantu mengatur mood, tidur, dan nafsu makan. Sedangkan dopamine biasanya dikaitkan dengan perasaan senang atau puas. Jadi bagaimana keduanya bermain dalam kleptomania? Penelitian menunjukkan bahwa pada orang dengan kleptomania, serotonin mungkin berperan lebih sedikit. Sedangkan peran dopamine tampaknya semakin penting dalam aktivitas otak mereka.

Ketidakseimbangan neurotransmitter ini, terutama peran yang lebih menonjol dari dopamine, bisa mempengaruhi kontrol impuls. Mengapa? Karena dopamine berperan dalam memberikan rasa puas atau senang. Jadi, saat seseorang dengan kleptomania mencuri, dopamine dilepaskan, dan mereka merasa senang. Ini bisa mendorong otak untuk terus mendorong perilaku tersebut, meskipun mereka tahu itu salah. Dorongan ini dapat menjadi sangat kuat, hampir sulit untuk ditahan.

Jelas, otak penderita kleptomania bekerja sedikit berbeda dengan otak kita yang ‘normal’. Otak mereka sangat terpengaruh oleh keadaan ini dan mempengaruhi kontrol impuls mereka. Yang bisa memicu perilaku mencuri mereka.

Perbandingan dengan Otak Orang yang Tidak Menderita Kleptomania

Dalam otak individu yang tidak menderita kleptomania. Sistem dan struktur otak yang terlibat dalam kontrol impuls dan pengambilan keputusan biasanya berfungsi dengan baik dan seimbang. Ketika kita berada di toko dan melihat sesuatu yang kita inginkan, misalnya, rangkaian proses berikut kemungkinan terjadi:

1.     Prefrontal cortex

Prefrontal cortex kita, yang berfungsi dalam penalaran dan pengambilan keputusan. Mulai mengevaluasi situasi. Ini memberitakan kita tentang konsekuensi potensial dari mencuri barang tersebut. Kita mungkin akan ditangkap. Kita akan merusak reputasi kita. Itu melanggar nilai-nilai kita, dan seterusnya.

2.     Tahap Emosi

Sistem limbic kita akan merespons dengan emosi yang sesuai, seperti rasa takut atau rasa bersalah jika kita mencuri. Emosi ini mempengaruhi keputusan kita dan sebagian besar mendorong kita untuk tidak mencuri.

3.     Tahap Kontrol Impuls

Otak kita kemudian mempengaruhi kontrol impuls kita. Dengan kata lain, bagian otak kita yang bertanggung jawab untuk menghentikan kita melakukan tindakan impulsif atau merugikan. Sehingga bekerja dengan baik dan mencegah kita dari mencuri.

4.     Tahap Reward/Gratifikasi

Melalui proses ini, kita justru merasa puas atau gratifikasi karena telah berhasil menahan diri dan membuat pilihan yang benar.

Sederhananya, otak kita melalui serangkaian proses dan interaksi yang rumit. Tujuannya untuk memastikan kita berperilaku dengan cara yang paling menguntungkan bagi kita. Dengan kata lain, otak kita bekerja untuk menjaga kita tetap berada dalam jalur yang benar dan jujur.

Baca Artikel Kami Lainnya: Menggali Dampak Kleptomania pada Kehidupan Sehari-hari dan Hubungan Sosial Seseorang

Artikel oleh: Logos Indonesia.