Biografi Erich Fromm: Teori Orang Yang Produktif

Berbeda dari tokoh psikologi lainnya, Erich Fromm melihat kepribadian sebagai suatu budaya masyarakat yang berlaku saat itu.

Tokoh4913 Views

Logos Indonesia Berbeda dari tokoh psikologi lainnya, Erich Fromm melihat kepribadian sebagai suatu budaya masyarakat yang berlaku saat itu. Asumsinya, kepribadian individu dapat di lihat dari sejarah manusia. Faktor sosio – biologis, ekonomi dan kelas soal menjadi landasan teori Fromm. Hal itu menjadi ciri khas teorinya Fromm. Fromm juga tidak melihat kepribadian individu secara personal. Melainkan secara umum sesuai dengan kondisi budaya saat individu itu hidup. Fromm menjelaskan pandangannya tentang manusia menggunakan evolusioner humanistis. Bahwa manusia saat ini terpisah dari alam. Karena itu, manusia tidak berevolusi seperti binatang pada umumnya. Akibatnya, manusia kehilangan insting bertahan hidup layaknya seorang binatang. Manusia berevolusi dengan adanya peningkatan dalam perkembangan otaknya, yaitu berpikir rasional. Namun, karena kita sebagai manusia terpisah dari alam, maka konsekuensi yang kita terima adalah perasaan terisolasi. Fromm menyebutkan dilema manusia.

Baca Artikel Kami Lainnya: Sejarah dan Fenomena Konseling Online Indonesia.

Kata kunci dari teori Fromm adalah, bagaimana situasi dari kebudayaan saat itu? Apakah damai? Atau sedang bermusahan seperti peperangan?

Menurut Fromm masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang bisa mengembangkan rasa kepercayaan satu sama lain, toleransi, produktif dan kreatif. Sedangkan masyarakat yang tidak sehat adalah masyarakat yang menciptakan permusuhan, ketidakpercayaan satu sama lain, dan berperilaku agresi.

Intinya adalah, masyarakat yang sehat merupakan masyarakat yang tentram dan produktif. Sedangkan masyarakat yang tidak sehat, akan merusak segala sesuatu yag ada di hadapannya. Berikut akan dibahas biografi Erich Fromm secara lengkap.

biografi Erich Fromm
Biografi Erich Fromm

Masa Kecil Fromm

Erich Fromm lahir pada tanggal 23 Maret 1900 di Frankfurt, Jerman. Fromm merupakan anak tunggal dari keluarga Yahudi Ortodoks kelas menengah. Ayahnya bernama Naphtali Fromm, merupakan anak dari seorang Rabi (guru). Ibunya bernama Rosa Krause Fromm.

Masa kecil Fromm berada di lingkungan keluarga yang neurotik atau toxic. Ia menganggap ayahnya sering terlihat cemas dan murung. Sedangkan ibunya mengalami depresi yang berat. Selain itu, di masa tersebut merupakan zaman kapitalis modern. Hanya keluarganya yang masih memegang faham Yahudi Ortodoks. Namun karena perbedaan itu, membuat Fromm kecil mampu melihat suatu fenomena dari kedua sudut pandang itu.

Ketika Fromm berusia 12 tahun, terdapat berita bahwa seorang artis perempuan yang memilih bunuh diri agar bisa bersama dengan ayahnya yang baru saja meninggal. Peristiwa itu, membingungkan dan di luar nalar Fromm. Fromm tidak mengerti, kenapa wanita itu memilih bunuh diri dari pada melanjutkan hidupnya yang sudah sukses.

Ketika Fromm berusia, 14 tahun. Peramg Dunia I terjadi. Fromm masih tidak mengerti, kenapa harus membunuh banyak orang ketika menginginkan perdamaian. Menurut Fromm kedua peristiwa itu, tidak rasional. Bagaimana bisa seorang manusia yang mampu berpikir rasional harus bertindak irasional seperti itu. Sejak kedua kejadian tersebut, Fromm terus mencari jawaban dari pertanyaan itu.

Baca Artikel Kami Lainnya: Biografi Alfred Adler: Karir & Pemikirannya.

Masa Remaja Fromm

Selama remaja, Fromm terus belajar untuk mencari jawaban dari tindakan irasional orang-orang. Selama kuliah, Fromm tekun mempelajari ilmu psikologi, filsafat dan sosiologi di University of Heidelberg. Namun Fromm masih belum menemukan jawabannya.

Awal Karir Fromm

Setelah banyak mempelajari bidang ilmu pengetahuan. Barulah ia tertarik dengan psikoanalisis Freud. Fromm yakin bisa menemukan jawabnnya di psikoanalisis. Awalnya Fromm memahami penjelasan dari kedua peristiwa irasional itu menurut psikoanalisis. Tapi tidak berlangsung lama, Fromm menyadari jawabannya memiliki kekurangan. Akhirnya Fromm mengembangkan pemikirannya sendiri menjadi teori yang bisa menjawab pertanyaannya sejak kecil. Setelah sekian lama akhirnya terjawab sudah rasa penasaran Fromm terkait perilaku irasional manusia. Masyarakat dalam budaya tertentu menggambarkan kepribadian individu itu sendiri. Jika budaya masyarakatnya sehat, maka individu di dalamnya juga sehat. Sebaliknya, jika budaya masyarakatnya sakit, maka individu di dalamnya juga ikut sakit. Sebagai contoh, saat terjadi Perang Dunia I, lingkungan budaya adalah saling membunuh satu sama lain dan egois. Karena lingkungannya tidak memungkinkan untuk individu di dalamnya bertidak baik.

Baca Artikel Kami Lainnya: Biografi Tokoh Psikologi Analisis, Carl Jung.

Pernikahan Fromm

Fromm menikah sebanyak 3 kali selama hidupnya. Pertama, Fromm menikahi Friede Reichmann yang lebih tua 10 tahun darinya pada tahun 1926. Menurut Knalp (1989), Fromm menikahi Reichmann karena rasa ketergantungan kepada kasih saya seorang ibu. Reichmann terlihat lebih cocok mejadi ibunya Fromm, bahkan secara fisikpun mirip dengan ibunya. Pernikahan pertama Fromm tidak bertahan lama. Pada tahun 1930, mereka bercerai.

Pernikahan kedua Fromm pada tahun 1944. Fromm menikahi Henny Gurland yang lebih muda dua tahun darinya. Gurland sangat menyukai hal yang mistis dan keagamaan. Hal ini yang mempengaruhi Fromm menyukai Buddhisme Zen. Sayangnya, Gurland meninggal pada tahun 1952.

Pernikahan ketiga Fromm pada tahun 1953. From menikahi Annis Freeman. Namun kesehannya menurun karena terkena serangan jantung. Sampai akhirnya, Fromm meninggal pada tanggal 18 Maret 1980.

Sumber: Feist, J., Feist, G. J., & Roberts, T. (2017). Teori kepribadian: Theories of. Personality. Buku 1, Edisi 8. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Artikel oleh: Logos Indonesia.

Comment