Mengapa Remaja Lebih Impulsif daripada Orang Dewasa?

Mengapa Remaja Lebih Impulsif daripada Orang Dewasa? Remaja adalah fase perkembangan. Dimana individu mulai mencari identitas diri.

Logos Indonesia –Seringkali kita dengar ungkapan ‘remaja itu labil’. Seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari fase pertumbuhan ini. Tapi, pernahkah kamu bertanya, kenapa sih remaja cenderung lebih labil dan impulsif? Apakah ada dasar ilmiahnya? Atau memang sudah seharusnya seperti itu saja dan kita sebagai orang dewasa hanya perlu memberikan pengertian? Tahukah kamu bahwa pertanyaan-pertanyaan ini punya jawabanannya secara teoritik. Sehingga bisa membantu kita semua memahami lebih dalam tentang diri kita atau orang di sekitar kita. Kita akan mulai dengan memahami apa itu perilaku impulsif.

Apa Itu Perilaku Impulsif?

Tips agar tidak berbelanja implusif.

Kamu pernah belanja online secara tiba-tiba tanpa mengevaluasi keuanganmu? Atau pernah menggosip teman karena situasi lagi emosional? Nah, konsep inilah yang disebut sebagai perilaku impulsif. Artinya, suatu tindakan yang kamu lakukan dengan cepat dan tiba-tiba tanpa proses pemikiran atau pertimbangan yang matang sebelumnya. Biasanya, perilaku ini muncul sebagai respons spontan terhadap rangsangan emosional yang intens.

Masa Remaja. Tahap Perkembangan Psikologis

Remaja rentan alami kesehatan mental
Remaja rentan alami kesehatan mental

Beranjak pada teori psikologi perkembangan, remaja adalah fase perkembangan. Dimana individu mulai mencari identitas diri. Menurut teori Erick Erickson, psikolog perkembangan, remaja berada pada tahap “Identity vs Role Confusion”. Dimana mereka tengah mencari dan mencoba berbagai peran baru dalam hidupnya. Dalam proses penjelajahan identitas ini, remaja bisa lebih rentan terhadap emosi dan tekanan sosial yang bisa memicu perilaku impulsif.

Identity vs Role Confusion

Erik Erikson merupakan psikolog terkenal yang mengembangkan teori psikososial yang menggambarkan tahapan-tahapan perkembangan individu sepanjang hidup. Salah satu tahap dalam teorinya adalah “Identity vs Role Confusion”, yang biasanya dialami oleh remaja antara usia 12-18 tahun.

Pada tahap ini, remaja cenderung mencoba berbagai peran dan identitas yang berbeda untuk menemukan jati diri mereka. Mereka dapat mencoba berbagai hobi, gaya pakaian, sikap, dan nilai-nilai untuk melihat mana yang paling pas dengan diri mereka sendiri.

Proses ini penting untuk membentuk identitas diri yang kuat. Namun, jika remaja tidak berhasil membentuk identitas yang jelas, mereka mungkin akan merasa bingung tentang siapa mereka. Apa peran mereka dalam masyarakat? Perasaan kebingungan ini sering mendorong perilaku mencari identitas yang dapat menyebabkan remaja menjadi lebih impulsif

Mengapa Remaja Lebih Impulsif daripada Orang Dewasa?

Penyebab remaja lebih impulsif adalah karena otak mereka sedang dalam tahap perkembangan. Bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan impuls dan membuat keputusan, yaitu prefrontal cortex, belum sepenuhnya dewasa pada remaja. Penelitian menunjukkan bahwa bagian ini baru matang sepenuhnya pada pertengahan dua puluhan. Ini juga yang menjadi alasan mengapa remaja cenderung lebih suka mengambil risiko dan kurang mahir dalam merencanakan ke depan.

Ada beberapa alasan utama mengapa remaja cenderung lebih impulsif daripada orang dewasa.

Perkembangan Otak

Otak remaja masih dalam tahap perkembangan, terutama bagian prefrontal cortex yang mengatur impuls dan pengambilan keputusan. Bagian ini belum sepenuhnya matang pada remaja dan baru akan mencapai kematangan penuh pada awal usia dua puluhan. Karena itu, remaja kurang mampu untuk merencanakan, memprediksi konsekuensi, dan mengontrol dorongan mereka, yang menyebabkan kecenderungan untuk bertindak impulsif.

Perubahan Hormone

Hormon juga berpengaruh dalam perilaku impulsif remaja. Peningkatan hormon selama masa pubertas dapat menyebabkan perubahan emosional yang cepat dan fluktuasi suasana hati. Hal ini membuat remaja lebih rentan terhadap perilaku impulsif.

Lingkungan Sosial

Tekanan dari lingkungan sosial dan teman sebaya juga mempengaruhi perilaku impulsif remaja. Remaja sering mencari pengalaman baru dan mencoba berbagai identitas untuk “menemukan diri mereka”. Dalam proses ini merupakan tahap mereka untuk berkembang. Hal ini bisa membuat mereka lebih rentan terhadap perilaku impulsif.

Belajar Dari Pengalaman

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, orang dewasa cenderung menjadi lebih bijaksana dalam pengambilan keputusan dan mengontrol impuls mereka. Sementara itu, remaja belum memiliki sejumlah besar pengalaman yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang bijaksana dan meredam perilaku impulsif mereka.

Bagaimana Cara Kita sebagai Orang Dewasa Menanggapi Perilaku Impulsif Remaja?

Remaja Rentan Alami Gangguan Mental

Sebagai orang dewasa, penting untuk kita membantu remaja mengerti dan mengelola perilaku impulsif mereka, bukannya menghakimi. Beberapa caranya bisa dengan memberikan mereka kesempatan belajar dari kesalahan dan memberikan panduan dalam membuat keputusan. Selain itu, mendukung mereka dalam proses menemukan identitas diri. Menggunakan pendekatan empati dan pendengaran aktif bisa membuat perubahan signifikan.

Sebagai orang dewasa penting dari mendukung perkembangan mereka. Semoga dengan pengetahuan ini, kita bisa lebih sabar dan empati dalam memandu remaja. Buat kamu yang masih remaja, ingatlah bahwa fase ini adalah tahap belajar dan bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Kembali lagi pada pembahasan kita, memahami adalah langkah pertama untuk menerima. Dengan pemahaman ini, kita bisa membantu menjadikan proses perjalanan dari remaja ke dewasa menjadi pengalaman yang bermakna dan berharga. Baik bagi kita sendiri maupun untuk orang-orang di sekitar kita.

Baca Artikel Kami Lainnya: Psychology of Marketing: Bagaimana Iklan ‘Merayu’ Kita?
Baca Artikel Kami Lainnya: Inilah Strategi dan Dampaknya dari Psychological Pricing

Artikel oleh: Logos Indonesia.