Mengulik Fenomena Konformitas pada Seruan Aksi Bela Palestina

Tanpa sadar, seruan aksi bela Palestina ini seakan menjadi bagian dari fenomena konformitas sosial di kalangan masyarakat global.

Berita, Sosial1692 Views

Logos IndonesiaTak pernah habis diperbincangkan, konflik Israel dan Palestina masih jadi topik utama yang menarik perhatian dunia. Konflik yang sudah berlangsung lebih dari tujuh dekade ini tidak hanya melibatkan mereka yang berada di wilayah tersebut. Namun juga kita yang berada di penjuru dunia. Teriakan dukungan dan seruan aksi Bela Palestina pun bergema di berbagai negara. Tanpa sadar, seruan ini seakan menjadi bagian dari fenomena konformitas sosial di kalangan masyarakat global.

Seruan aksi Bela Palestina ini mencakup berbagai bentuk dukungan kepada rakyat Palestina. Seperti demonstrasi, kampanye di dunia maya, dan penggalangan dana. Melalui aksi-aksi ini, kita menyuarakan simpati, membantu mereka yang terkena dampak konflik, dan menuntut pelaku internasional untuk mengambil tindakan. Tapi kamu pernah menyadari nggak sih, dampak fenomena konformitas pada seruan aksi Bela Palestina?

Baca Artikel Kami Lainnya: Apakah Boleh Selalu Mengikuti Kata Hati? Kenali Dampaknya

Konformitas adalah suatu kecenderungan di mana kita mengubah opini, perilaku, atau sikap kita agar sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Bisa jadi, kamu terdorong untuk turut serta dalam aksi Bela Palestina karena pengaruh teman sekitar atau informasi yang kita terima. Istilahnya, kita “ikut-ikutan” karena ingin berpartisipasi atau karena merasa tertekan oleh opini publik. Sebelum kita membahas lebih jauh tentang fenomena ini, ada baiknya kita memahami lebih dulu teori dan faktor-faktor yang melatarbelakangi konformitas.

Fenomena Konformitas

Biasanya kita sering mendengar istilah ‘ikut-ikutan’. Nah, dalam bahasa psikologi, istilah ini lebih sering disebut sebagai konformitas. Konformitas adalah sebuah fenomena di mana kita merasa terdorong untuk bertindak atau berpikir serupa dengan orang-orang di sekitar kita. Menariknya, konformitas ini nggak cuma terjadi begitu saja loh. Ada beberapa teori yang menjelaskan kenapa konformitas bisa terjadi.

Salah satu teori yang paling terkenal adalah teori Konformitas Informasional dan Normatif, yang diperkenalkan oleh Deutsch dan Gerard. Menurut mereka, kita melakukan konformitas dengan dua alasan utama. Pertama, karena kita merasa info yang kita punya kurang lengkap. Sehingga kita percaya bahwa orang banyak pasti punya info yang lebih akurat (Konformitas Informasional). Kedua, karena kita ingin diterima dan disukai oleh orang sekitar (Konformitas Normatif). Semakin kita ingin disukai dan merasa butuh info dari orang lain, semakin kuat pula dorongan untuk konformitas.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konformitas

Tapi, bukan berarti konformitas itu sempurna dan nggak bisa dipengaruhi lho. Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi seberapa kuat konformitas yang terjadi. Misalnya saja, faktor ukuran kelompok. Biasanya, semakin banyak orang yang ikut dalam suatu pilihan, akan semakin meningkatkan dorongan bagi kita untuk konform. Tapi ingat, nggak harus selalu ikut arus loh!

Selain itu, adanya tekanan, baik secara langsung maupun tidak langsung, juga mempengaruhi konformitas. Kamu bisa merasakan tekanan ini dari teman sepermainan, keluarga, atau bahkan dari media sosial. Begitu juga dengan kepercayaan diri. Jika kamu percaya pada pendapatmu sendiri dan punya pengetahuan yang memadai. Kamu bisa lebih kuat menghadapi tekanan untuk konform.

Jadi, inti dari konformitas adalah kecenderungan kita untuk mempersepsikan dan mencerminkan apa yang dilakukan oleh orang sekitar. Tapi, bagaimana fenomena ini berlaku dalam seruan aksi Bela Palestina?

Konformitas dalam Konteks Aksi Sosial dan Politik

Dalam dunia sosial dan politik, konformitas bukanlah hal yang baru. Jika kita perhatikan, sering kali kita merasa terdorong untuk “ikut-ikut” dalam suatu isu politik atau sosial. Misalnya saja, saat ada demo besar-besaran, banyak dari kita yang merasa terdorong untuk ikut berpartisipasi. Atau, saat ada tren baru di media sosial tentang sebuah isu, kita juga merasa ingin “ikut-ikut” posting dan memberikan pendapat. Nah, inilah yang disebut konformitas dalam konteks aksi sosial dan politik.

Analisis Konformitas pada Seruan Aksi Bela Palestina

Nah, bicara soal seruan aksi Bela Palestina, fenomena konformitas juga berlaku. Kamu pernah merasa “perlu” untuk repost berita atau gambar tentang Palestina di media sosial, meski sebenarnya kamu kurang paham soal isunya? Atau, kamu merasa “harus” ikut demo bela Palestina, karena teman-temanmu juga ikut? Itu adalah bentuk konformitas. Kita merasa terdorong untuk ikut berpartisipasi dan beropini, meski mungkin kita sendiri nggak begitu paham dengan isunya.

Ada banyak contoh konformitas dalam aksi Bela Palestina ini. Contoh nyata bisa kita lihat dari banyaknya jumlah postingan di media sosial yang memposting tentang masalah di Palestina. Banyak dari kita yang merasa terdorong untuk turut serta memposting. Padahal mungkin kita sendiri belum begitu paham tentang latar belakang konfliknya.

Atau contoh lainnya, saat ada demo besar-besaran bela Palestina. Banyak dari kita yang merasa ingin atau perlu untuk ikut serta, meski mungkin kita sendiri nggak begitu paham tentang apa yang sedang kita demo. Hal ini terjadi karena kita melihat banyak orang lain yang juga ikut demo. Sehingga kita merasa perlu untuk “ikut-ikut” karena kita nggak mau dibilang apatis atau tidak peduli.

Baca Artikel Kami Lainnya: Bagaimana Jika Kamu Selalu Menentang Kata Hatimu?

Artikel oleh: Logos Indonesia.