Pengaruh Konformitas dalam Aksi Bela Palestina

Dalam konteks aksi bela Palestina, konformitas dapat mempengaruhi bagaimana kita melihat isu ini dan berpartisipasi.

Berita, Sosial1771 Views

Logos IndonesiaKonformitas adalah kecenderungan kita untuk menyesuaikan pendapat, perasaan, dan perilaku kita dengan opini atau tindakan orang lain. Dalam konteks aksi bela Palestina, konformitas dapat mempengaruhi bagaimana kita melihat isu ini dan berpartisipasi yang berkaitan dengan isu tersebut.

Implikasi Konformitas terhadap Persepsi Masyarakat terhadap Isu Palestina

Konformitas bisa membuat kita lebih mudah terpengaruh oleh opini atau pandangan orang lain seputar isu Palestina. Ketika kita melihat teman, keluarga, atau publik figur menyuarakan dukungan atau pendapat tentang isu ini, kita mungkin merasa perlu untuk sepakat dan mengikuti pendapat mereka. Hal ini bisa membuat kita menyamakan opini pribadi dengan opini mereka.

Sebagai masyarakat, kita sering kali dikelilingi oleh berbagai macam informasi, mulai dari berita televisi, postingan di media sosial, percakapan dengan teman dan keluarga, hingga berbagai pesan yang datang dari influencer atau tokoh publik yang kita kagumi. Semua ini bisa membentuk pandangan dan tanggapan kita terhadap berbagai isu, termasuk isu Palestina.

Coba bayangkan, kamu sedang scroll timeline Twitter atau Instagram dan kemudian melihat teman atau public figure yang kamu kagumi memposting tentang isu Palestina. Bisa jadi, hal tersebut akan mempengaruhi pandanganmu tentang isu ini. Apalagi jika mereka menunjukkan empati atau rasa sedih yang mendalam, kamu mungkin juga akan merasa perlu untuk ikut merasakan hal yang sama dan mendukung sebab mereka.

Baca Artikel Kami Lainnya: Bagaimana Jika Kamu Selalu Menentang Kata Hatimu?

Ngomong-ngomong soal dukungan, konformitas juga bisa membantu memperluas jangkauan dan meningkatkan volume dukungan terhadap isu Palestina. Kalau kamu mengikuti apa yang orang lain lakukan atau katakan, mungkin saja orang lain juga akan mengikuti apa yang kamu lakukan atau katakan. Dalam hal ini, konformitas bukan hanya dapat mempengaruhi persepsimu, tetapi juga bisa mempengaruhi persepsi orang lain.

Tapi, ada juga sisi lain dari konformitas yang perlu kita jaga. Karena terkadang, tanpa kita sadari, kita bisa terjebak dalam apa yang disebut “groupthink” atau pemikiran kelompok. Hal ini terjadi ketika kita terlalu asyik mengikuti pandangan kelompok dan hampir tidak menyaring informasi yang datang. Akhirnya, kita bisa jadi terlalu percaya pada satu sumber informasi atau pandangan, dan itu bisa berisiko mengecilkan peluang kita untuk memahami isu secara lengkap dan seimbang.

Misalnya, jika teman-teman kita di media sosial selalu menyuarakan dukungan yang sama terhadap Palestina, kita bisa lupa bahwasanya ada berbagai sudut pandang dan faktor kompleks lainnya yang terlibat dalam isu ini. Sebagai akibatnya, kita mungkin hanya memiliki pandangan satu sisi.

Jadi, meskipun konformitas bisa membantu kita merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar dan menghubungkan kita dengan orang lain, penting juga untuk tetap waspada. Kita perlu mempertanyakan informasi yang kita dapat dan mencari referensi lain untuk menambah pemahaman kita tentang isu Palestina. Dengan begitu, kita bisa membentuk persepsi yang lebih baik dan lebih bijaksana.

Efek Konformitas terhadap Partisipasi Individu dan Kelompok dalam Aksi Bela Palestina

Konformitas juga bisa mempengaruhi cara kita berpartisipasi dalam aksi-aksi yang berkaitan dengan isu Palestina. Ketika kita melihat orang lain terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti menghadiri demonstrasi, menggalang dana, atau berbagi informasi di media sosial, kita mungkin akan merasa perlu untuk melakukan hal yang sama.

Bayangkan, kamu melihat ada beberapa orang terdekatmu ikutan demo bela Palestina. Atau mungkin kamu menemukan di timeline sosial media mu banyak sekali foto dan status dukungan terhadap Palestina. Mungkin saja hal tersebut mempengaruhi kamu untuk turut serta, merasa bahwa ada sebuah aliran besar yang harus kamu ikuti.

Bisa jadi, tanpa kamu sadari, kamu jadi merasa ada tekanan atau ekspektasi untuk lakukan hal sama yang dilakukan orang banyak. Misalnya, ketika temanmu membagikan konten tentang Palestina di media sosial, kamu juga merasa perlu untuk membagikannya. Atau ketika banyak orang yang kamu kenal mulai menyumbangkan uang mereka ke organisasi bantuan Palestina, kamu merasa seharusnya kamu juga melakukan hal yang sama.

Dan seperti bola salju yang lanjut bergulir, partisipasi kamu – yang sebenarnya diawali oleh dorongan konformitas – ini mungkin malah jadi mempengaruhi orang lain untuk turut serta. Karena, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, konformitas bisa berdampak ke orang lain. Jadi, jika kamu bergerak, bisa jadi yang lain juga akan bergerak.

Baca Artikel Kami Lainnya: Apakah Boleh Selalu Mengikuti Kata Hati? Kenali Dampaknya

Tetapi, konformitas ini bisa jadi pedang bermata dua loh. Di satu sisi, konformitas ini bisa memperluas dukungan dan membuat suara kita menjadi lebih kuat. Namun, di sisi lain, konformitas bisa juga membuat kita kurang teliti, kurang kritis. Misalnya, dalam hal mendonasikan uang, kita bisa saja lupa untuk memastikan keabsahan dan transparansi organisasi yang kita gunakan.

Atau, dalam hal membagikan informasi, mungkin saja kita jadi lupa untuk cross-check atau memeriksa kebenaran berita tersebut. Sementara kita semua tahu betapa pentingnya memerangi hoax dan informasi yang tidak akurat, bukan?

Jadi, meskipun ada dorongan untuk ikut arus, selalu penting untuk kita tetap berpikir kritis dan melakukan verifikasi sebelum kita bertindak. Bukan hanya untuk kebaikan kita sendiri, tetapi juga untuk kelompok dan isu yang kita dukung. Dengan begitu, dukungan kita menjadi lebih bermakna dan lebih bernilai.

Artikel oleh: Logos Indonesia.