Elizabeth Loftus Dan Penelitian Tentang Memori Palsu

Elizabeth Loftus dan penelitian tentang memori palsu. Bahwa ingatan seseorang bisa di modifikasi atau keliru.

Tokoh2011 Views

Logos Indonesia Elizabeth Loftus merupakan tokoh psikologi yang masih hidup hingga sekarang. Kontribusinya membawa pertanyaan besar bagi topik psikologi kognitif. Pertanyaan mengenai, Apakah ingatan palsu bisa dibuat? Mungkin saja bisa dilakukan secara segaja maupun secara tidak sadar. Elizabeth Loftus mendedikasikan hidupnya untuk menjawab pertanyaan besar itu.

Mengenal Elizabeth Loftus

Elizabeth F. Loftus. Image by University of Washington.
Elizabeth F. Loftus. Image by University of Washington.

Elizabeth Loftus lahir di Los Angeles, California, Amerika Serikat pada tahun 1941. Elizabeth Loftus merupakan tokoh psikologi yang paling berpengaruh dan masih hidup hingga sekarang. Penelitiannya tentang memori Yang diingat dapat dipalsukan merupakan penelitian utamanya. Elizabeth Loftus membuktikan bahwa ternyata memori dapat gagal mengingat informasi yang sebenarnya.

Temuan penelitiannya ini menjelaskan fenomena sindrom memori palsu. Fenomena seperti kesaksian saksi mata dari suatu kejahatan atau kecelakaan. Kesaksian yang diberikan tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Mereka dapat melebih-lebihkan keadaan ataupun mengatakan hal yang tidak sesuai dengan situasi tersebut.

Elizabeth Loftus memulai karirnya dalam sebuah penelitian yang berfokus pada aspek proses kognitif.
Salah satu topik yang menarik perhatiannya dalam mempelajari identitas seseorang.

Terdapat alasan yang pragmatis terkait ingatan di bidang peradilan. Pertanyaan yang menarik bagi dirinya ketika itu adalah, sejauh mana informasi yang diberikan oleh saksi dan para korban kejahatan dapat dipercaya? Mungkin saja ingatan para saksi atau korban salah atau keliru. Atau bisa saja ingatan mereka sudah dimodifikasi secara sengaja. Pertanyaan itulah yang melandasi Penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth Loftus. Dalam artikel ini kita akan membahas penelitian terkait memori palsu.

Penelitian Tentang Sindrom Memori Palsu

Kecelakaan mobil.
Kecelakaan mobil.

Penelitian ini berfokus pada pertanyaan, Apakah ingatan seseorang bisa dimanipulasi? Itulah yang menjadi pertanyaan besar dalam penelitian ini. Penelitian eksperimen yang paling terkenalnya adalah mengenai kesaksian kecelakaan kendaraan. Elizabeth Loftus melakukan penelitian kepada sukarelawan yang bersedia menjadi subjek penelitiannya. Mereka akan ditunjukkan suatu rekaman kecelakaan yang terlihat saling tertabrakan.

Setelah mereka melihat rekaman kecelakaan berkendara, mereka diminta untuk mengingat isi rekaman tersebut. Beberapa orang menggunakan kata “dihubungi”. Beberapa orang lainnya lebih menggunakan istilah “menghancurkan” , “bertabrakan” atau “dihancurkan”. Istilah yang diungkapkan oleh subjek penelitian merupakan sinonim dari penggambaran situasi yang tertabrak.

Setelah itu mereka diminta untuk memberikan pendapat mengenai kecepatan kendaraan dalam video tersebut. Mereka diminta untuk memperkirakan kecepatan yang telah mereka tonton mengenai kecelakaan berkendara.

Baca Artikel Kami Lainnya: Biografi Singkat Martin Seligman Sebagai Bapak Psikologi Positif Modern.

Terdapat hal unik dalam jawaban mereka mengenai perkiraan kecepatan berkendara dalam video tersebut. Elizabet Loftus melihat perbedaan jawaban subjek penelitian sebagai cara Untuk memanipulasi ingatan mereka. Setiap orang akan diberikan pertanyaan mengenai perkiraan kecepatan berkendaran. Tapi pertanyaan yang diberikan memiliki kata yang berbeda. Beberapa orang akan diberikan pertanyaan yang berisi kata-kata “dibubungi” dan “dipukul”. Beberapa orang lainnya akan diberikan pertanyaan yang berisi kata-kata “bertabrakan” dan “menghancurkan”.

Hasilnya adalah terdapat perbedaan persepsi mengenai memori yang mereka ingat. Orang-orang yang ditanyakan menggunakan kata-kata “dibubungi” dan “dipukul” memberikan jawaban kisaran kecepatan berkendara 31,8 mph. Sedangkan orang-orang yang ditanyakan menggunakan kata-kata “bertabrakan” dan “menghancurkan” menjawab kisaran kecepatan berkendara 40,5 mph. Artinya Ketika seseorang ditanya menggunakan kata “dihubungi” dan “dipukul”, persepsi ingatan mereka terkait kecepatan berkendara jauh lebih rendah dibandingkan ketika ditanya menggunakan istilah “bertabrakan” dan “menghancurkan”.

Kemungkinan besar ingatan mereka mengenai kecelakaan tersebut sesuai dengan pertanyaan dari para peneliti. Artinya memori yang mereka ingat mungkin saja keliru. Hal ini karena satu kata dari pertanyaan itu yang membangkitkan sebagian adegan yang mereka ingat, bukan secara keseluruhan.

Baca Artikel Kami Lainnya: Hendry Tajfel Tokoh Psikologi Yang Memperkenalkan Istilah In-Group Dan Out-Group.

Kemudian percobaan kedua dilakukan dengan kasus yang sama yaitu mengenai ingatan kecelakaan berkendara. Eksperimen ini dilakukan seminggu setelah percobaan yang pertama. Pada eksperimen percobaan kedua ini, mereka diberikan pertanyaan lanjutan mengenai pecahan kaca dalam insiden kecelakaan berkendara. Pertanyaan itu yaitu, Apakah kamu melihat pecahan kaca dalam insiden kecelakaan tersebut?

Jawaban yang mereka berikan sangat menarik bagi Elizabeth Loftus. Mereka yang sebelumnya ditanyakan menggunakan kata-kata “menghancurkan”menjawab pertanyaan tersebut lebih dramatis dibandingkan mereka yang ditanya menggunakan kata “menabrak”. Mereka yang sebelumnya ditanya menggunakan kata “menghancurkan”, mengaku melihat lebih banyak pecahan kaca saat insiden kecelakaan berkendara.

Dari percobaan pertama dan kedua dalam penelitian ini disimpulkan bahwa, pemilihan kata dalam memberikan pertanyaan pada saksi mungkin saja memberikan persepsi yang berbeda mengenai ingatan mereka terhadap situasi tersebut. Hal ini membuktikan bahwa ingatan dapat dipengaruhi oleh informasi dari luar. Karena itulah, Elizabeth Loftus termasuk ke dalam peneliti psikologi yang berpengaruh dalam 50 tahun terakhir.

Baca Artikel Kami Lainnya: Memahami Makna Cinta Dalam Perspektif Psikologi.

Asnawi, Ahmad. (2019). 50 Tokoh Psikologi Dunia: Gagasan Dan Pemikiran Mereka. Jawa Tengah: Desa pustaka Indonesia.

Artikel oleh: Logos Indonesia.

Comment