Mengenal Tes Rorschach, Tes Proyektif Yang Paling Terkenal

Mengenal tes rorschach, tes proyektif yang paling terkenal. Walaupun tes ini cukup terkenal, tapi sangat sulit untuk menggunakannya.

Tokoh239 Views

Logos Indonesia Jika kamu bertanya tes psikologi apa yang paling terkenal? Salah satunya adalah tes proyektif rorschach. Tes jenis ini dikenal banyak orang karena memiliki keunikan dan ciri khas yang mudah dikenali. Tes rorschach ini terdiri dari 10 cipratan tinta yang berbentuk simetris. Karena keunikannya ini, Respon yang diberikan bagi orang yang melihatnya memiliki keberagaman sesuai dengan tingkat ketidaksadarannya saat itu.

Dasar Teori Dari Tes Rorschach

Tes rorschach.

Tes rorschach ini dirancang oleh Hermann Rorschach pada awal tahun 1900-an. Ia menciptakan alat tes tersebut berdasarkan metode proyektif yang dipopulerkan oleh Frank dalam mempelajari kepribadian menggunakan stimulus yang tidak terstruktur.

Analoginya adalah ketika seseorang melihat suatu bentuk gambar yang ambigu, tidak memiliki struktur, dan memiliki makna yang sama. Maka, pada umumnya orang akan menjawab berdasarkan persepsi, imajinasi atau idenya sendiri. Semua hal tersebut merupakan bagian dari ketidaksadaran seseorang. Karena itu teori psikoanalisis sangat penting dalam teknik asosiasi rorschach ini.

Baca Artikel Kami Lainnya: Sejarah Perkembangan Stanford-Binet Intelligence Test Dan Pandangan Alfred Binet Mengenai Terobosannya.

Para ahli yang terlibat dalam membentuk dan mengembangkan tes rorschach ini meyakini bahwa stimulus yang tidak terstruktur, samar-samar, dan ambigu, dapat mengungkapkan aspek kepribadian seseorang secara mendalam. Karena itulah tes rorschach ini dikategorikan sebagai tes proyektif. Tes yang mampu memproyeksikan diri seseorang melalui gambar yang tidak terstruktur.

Asumsi tes rorschach yang mampu menginterpretasikan pribadi secara mendalam ini, mencerminkan kebutuhan, motif dan konflik seseorang secara tidak sadar. Hal tersebut terlihat dari jawaban yang diberikan setelah diperlihatkan stimulus yang tidak terstruktur ini dengan jawaban yang personal, unik dan subjektif di setiap peserta tes.

Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai tes rorschach, dan kritikan dari para ahli mengenai tes Rorschach ini. Perlu diingat bahwa, walaupun tes rorschach ini sangat terkenal. Namun dalam menggunakannya sangat sulit. Perlu latihan bertahun-tahun dan pengalaman yang sangat banyak untuk mampu menggunakan dan memberi interpretasikan tes ini. Karena itu, tes rorschach jarang digunakan untuk melakukan asesment psikotik.

Apa Itu Tes Rorschach?

Image by pinterest: zazzle.

Tes rorschach adalah tes psikologi yang menggunakan hipotesis proyektif berupa cipratan tinta atau gambar yang ambigu, tidak terstruktur namun berbentuk simetris. Karena bentuknya yang ambigu dan tidak memiliki struktur yang jelas. Maka Respon yang diberikan merupakan aspek kepribadian yang berada di tingkat ketidaksadaran.

Dalam tes rorschach ini akan memproyeksikan semua kebutuhan, motif atau konflik alam bawah sadar untuk diungkapkan ke tingkat kesadaran. Hal ini akan mempermudah mengetahui konflik atau tekanan stres yang sangat kronis di dalam dirinya yang di tekan ke alam bawah sadarnya. Sebagai contoh, seorang pasien yang memberi jawaban pada cipratan tinta tersebut sebagai mata. Jawaban yang diberikan ini memiliki hipotesis proyektif berupa kecenderungan paranoid.

Dalam tes rorschach, terdapat 10 gambar cipratan tinta yang terdiri dari lima gambar berwarna hitam, putih, dan abu-abu. Dua dari sepuluh gambar tersebut berwarna merah dan tiga lainnya berwarna pastel.

Baca Artikel Kami Lainnya: Pandangan Henry Murray Mengenai Personologi.

Dalam proses menggunakan tes rorschach ini, pasien akan ditanya mengenai gambar cipratan tinta itu berbentuk apa. Kemudian jawaban yang diberikan akan diinterpretasikan berdasarkan skoring yang berlaku.

Namun, Herman Rorschach meninggal sebelum ia menyelesaikan metode skoringnya. Karena itu tes ini dikembangkan oleh 5 psikolog Amerika dalam memberikan metode scoring rorschach. Kelima psikolog Amerika tersebut bernama Samuel Beck, Marguerite Hertz, Bruno Klopfer, Zygmunt Piotrowski, dan David Rapaport.

Kritikan Mengenai Tes Rorschach

Setelah meninggalnya Herman Rorschach, tes ini memicu banyak kontroversi yang berkaitan dengan interpretasinya. Para pengkritik rorschach, yaitu Albert, Fox, dan Kahn pada tahun 1980-an. Mereka meyakini bahwa tes rorschach memiliki kelemahan berupa faking. Faking adalah fenomena saat peserta tes sengaja memberikan jawaban yang bagus untuk mendapatkan kesan yang positif.

Mereka melakukan penelitian eksperimen untuk membuktikan asumsi tentang faking pada tes rorschach. Terdapat 4 kelompok yang terdiri dari 6 orang. Kelompok tersebut yaitu kelompok pertama, pasien skizofrenia paranoid yang sudah lama di rumah sakit jiwa. Kelompok kedua adalah uninformed fakers yaitu orang normal yang bersandiwara meniru respon penderita skizofrenia paranoid, namun tanpa mendapatkan penjelasan mendetail mengenai karakteristik penyakit skizofrenia itu. Kelompok ketiga adalah informed fakers yaitu orang normal yang meniru respon skizofrenia paranoid, namun sudah diberikan penjelasan mendetail mengenai karakteristik penyakit skizofrenia itu. Sedangkan kelompok keempat, merupakan kelompok kontrol yang berisi orang normal, tanpa memiliki gangguan kejiwaan apapun.

Baca Artikel Kami Lainnya: Teori Kebutuhan (Need) Hendry Murray.

Kemudian para pakar diminta untuk mendiagnosis keempat kelompok tersebut, tanpa mengetahui fakta Siapa saja yang menderita skizofrenia paranoid yang asli. Siapa saja dari ke 24 orang tersebut yang mengalami skizofrenia paranoid?

Hasilnya adalah terdapat 72% dari kelompok informed fakers didiagnosis mengalami skizofrenia paranoid. Pada kelompok uninformed fakers, terdapat 46% yang didiagnosis mengalami skizofrenia paranoid. Terdapat 24% dari kelompok kontrol yang didiagnosis mengalami skizofrenia paranoid. Dan hanya 48% yang benar didiagnosis sebagai penderita skizofrenia paranoid.

Artinya Pada awalnya tes ini memiliki reliabilitas dan validitas prediktif yang rendah. Namun bagi pendukung tes rorschach, mereka memperbaiki sistem scoring melalui pendekatan exner.

Sayangnya, pengembangan tes ini membuat kelemahan lainnya muncul dalam proses pembelajaran scoring dan menginterpretasikannya. Kelemahan pertama adalah sistem scoring exner ini sangat rumit dan menghabiskan banyak waktu. Dibutuhkan banyak latihan bertahun-tahun untuk menguasai sistem skoring tersebut. Kedua adalah, dalam mengadministrasikan dan menskoringnya memerlukan waktu berjam-jam bagi seorang psikolog yang memiliki lisensi. Karena itu waktu yang ditempuh memiliki nilai yang berharga dan mahal.

Gregory, J. R. (2013). Tes Psikologi: Sejarah, Prinsip, dan Aplikasi. Edisi Keenam, Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Davison, G. C., Neale, J. M., Kring, A. M. (2017). Psikologi Abnormal Edisi Ke-7. Depok: PT Raja Grafindo Persada.

Artikel oleh: Logos Indonesia.