Sejarah Perkembangan Stanford-Binet Intelligence Test Dan Pandangan Alfred Binet Mengenai Terobosannya

Sejarah perkembangan Stanford-Binet Intelligence Test dan pandangan Alfred Binet mengenai terobosannya dalam teori tes kecerdasan.

Tokoh378 Views

Logos Indonesia Apakah kamu tahu Siapa pencetus dari tes IQ? Jawabannya adalah Alfred Binet. Pandangan Binet yang humanistik terhadap anak yang memiliki IQ yang di bawah rata-rata menjadi Sisi positifnya sebagai seorang psikolog. Ia menganggap bahwa temuannya ini bermanfaat bagi anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Hal ini karena, dengan mengidentifikasi lebih awal terhadap anak yang memiliki kebutuhan khusus. Maka anak tersebut juga lebih cepat ditangani secara pendidikan.

Baca Artikel Kami Lainnya: Gangguan Somatoform, Merasa Memiliki Penyakit Fisik, Namun Tidak Terdeteksi Secara Medis.

Menurut Binet, seorang anak yang memiliki IQ rendah bukanlah suatu kutukan bagi orang tua mereka. Melainkan, dengan penanganan lebih awal mampu meningkatkan kapasitas mereka dalam menghadapi kehidupan dunia luar. Karena itu, menurut Binet sangat penting untuk mengidentifikasi anak yang memiliki kebutuhan khusus.

Menurut Binet, perbedaan tiap individu dalam hal kecerdasan berada pada proses mental, bukan ketajaman panca indra. Pandangan optimisnya terhadap perkembangan potensi intelektual seseorang membuat penekanan pada pendidikan khusus. Hal ini karena, pendidikan khusus secara proses dapat meningkatkan nilai ujian rendah anak dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Sehingga Setiap anak berhak tumbuh secara intelektual melalui dukungan stimulus yang tepat. Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai sejarah Stanford-Binet Intelligence Test dan pandangan Alfred Binet mengenai terobosannya.

Biografi Singkat Alfred Binet

Alfred Binet.

Alfred Binet lahir pada tahun 1851 di Prancis dan meninggal di tahun 1911. Di net terkenal sebagai seorang psikolog dan pengacara. Bersama dengan Victor Henn, Ia memulai studinya tentang anak-anak sekolah di Paris. Tujuan dari studi ini adalah mengembangkan tes untuk mengidentifikasi perbedaan tiap individu secara detail. Sekolah-sekolah di Paris berkontribusi dalam memberikan sampel penelitian.

Kebanyakan dari sekolah tersebut merupakan sekolah yang miskin di Paris. Sehingga kebanyakan anak-anak di sana memiliki kemampuan rata-rata. Karena itu, Binet dikenal sebagai psikologi individu dalam menemukan metode mengukur perbedaan tiap individu.

Pada tahun 1899, Binet bertemu dengan Theodore Simon. Simon menjadi teman kolaborasi selama 11 tahun karirnya. Kemudian Binet meyakini anggotanya betapa pentingnya metode eksperimen dalam pedagogik. Pada tahun 1904, menjadi pemimpin dari sebuah komisi menteri untuk melacak anak-anak abnormal di sekolah Paris.

Stanford-Binet Intelligence Test

Kemudian pada Mei 1905, Binet dan Simon telah menghasilkan banyak butir tes untuk mengurutkan hierarki kecerdasan. Tugas yang paling mudah adalah untuk mengikuti cahaya dengan mata. Tugas ini adalah tugas yang paling muda bagi anak-anak normal pada umumnya. Namun sulit bagi anak yang mengalami kebutuhan khusus. Setiap butir tes dinaikkan satu tingkat kesulitan.

Tes tersebut kemudian dikenal sebagai tes kecerdasan atau Intelligence Quotient (IQ). Tes IQ ini dikembangkan untuk mengukur usia mental anak yang akan masuk ke sekolah. Menurut Binet, usia mental adalah kemampuan mental anak ketika dites yang kemudian dibandingkan pada anak lainnya di usia yang berbeda.

Sehingga, ketika anak mampu menyelesaikan soal yang mampu dikerjakan anak usia 8 tahun. Maka anak tersebut dikatakan memiliki usia mental 8 tahun. Walaupun pada usia kronologisnya mungkin saja lebih mudah atau lebih tua dari usia mental tersebut.

Baca Artikel Kami Lainnya: Tips Mengatasi Pikiran Overthinking.

Kemudian, tes IQ ini kemudian direvisi sebanyak dua kali sebelum dijadikan dasar dalam tes IQ yang sekarang kita kenal. Pada tahun 1914, William Stern mengusulkan teori IQ ini dibagi usia mental anak dengan usia kronologis. Rumus yang diusulkan oleh William Stern, kemudian diperbarui oleh Lewis Herman. Setelah dibagi antara usia mental dengan usia kronologis, kemudian mengkalikan angka dengan 100. Sehingga jika ditulis dalam perhitungan statistik seperti ini, IQ=MA/CA*100. Tes inilah yang kemudian disebut sebagai stanford binet intelligence test.

Alasan pembuatan tes ini bagi Binet adalah untuk mengidentifikasi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus atau berada di bawah rata-rata anak normal lainnya. Melalui cara ini, kita bisa mengidentifikasi lebih awal anak yang butuh penanganan khusus dalam hal pendidikan.

Baca Artikel Kami Lainnya: Dismorfik Tubuh Dan Standar Kecantikan.

Pada 1908, Binet merevisi skala tes berdasarkan kinerja rata-rata anak normal pada usia tertentu. Ia merumuskan bahwa, anak usia 3 tahun harus bisa menunjuk ke hidung, mata, dan mulut mereka. Anak usia 4 tahun, harus bisa mengulangi tiga digit angka. Anak usia 11 tahun, harus bisa menyebutkan 40 kata dalam 3 menit. Anak usia 12 tahun, harus bisa mengulangi tujuh digit angka. Jika seorang anak tidak mampu menyelesaikan tugas di kelompok 2 tahun belakangan dari usia kronologis mereka. Maka, anak tersebut berada dalam kategori anak berkebutuhan khusus.

Asnawi, Ahmad. (2019). 50 Tokoh Psikologi Dunia: Gagasan Dan Pemikiran Mereka. Jawa Tengah: Desa pustaka Indonesia.

Artikel oleh: Logos Indonesia.

Comment