Kenali Ciri-ciri Orang Yang Sedang Berbohong Menurut Psikologi Linguistik

Kenali ciri-ciri orang yang sedang berbohong menurut psikologi linguistik. Terdapat empat pola yanh umum digunakan oleh orang yang berbohong.

Sosial4117 Views

Logos Indonesia Apakah kamu pernah berbohong pada seseorang? Apa yang biasa kamu katakan ketika berbohong? Cobalah amati Ketika anda berbohong, apakah memiliki ciri khusus yang membedakan antara orang yang berbohong dan yang tidak berbohong? Semua pertanyaan tersebut akan kita bahas dalam artikel ini. Namun sebelum memasuki jawaban dari pertanyaan tersebut. Sebaiknya kita memahami Alasan seseorang untuk berbohong dan pemahaman teoritis lainnya.

Secara psikologis, alasan kita berbohong pada seseorang ataupun pada diri sendiri adalah untuk membangun gambaran diri yang baik tentang diri kita. Sehingga, cara yang cepat untuk mengatasi perilaku yang tidak sesuai dengan gambaran diri adalah dengan berbohong bahwa diri kita sesuai dengan hal tersebut. Dengan berbohong, kita berharap diri kita akan sesuai dengan harapan yang kita inginkan. Secara sederhananya adalah seseorang berbohong untuk menutupi kesalahannya. Sehingga, pandangan orang lain terhadap dirinya adalah selalu baik.

Baca Artikel Kami Lainnya: 5 Langkah Untuk Berpikir Kreatif.

Sejauh ini kita telah membahas, bahwa perilaku berbohong ini hanya dilakukan terhadap orang lain. Sebenarnya, perilaku berbohong ini juga bisa dilakukan terhadap diri sendiri. Maksudnya adalah Kamu membohongi diri sendiri atas kesalahan yang telah kamu lakukan di masa lalu. Peristiwa yang mengecewakan tersebut, sangat membekas di hatimu hingga kamu tidak menganggap kejadian tersebut sebagai pengalaman yang pernah ada. Jika sudah seperti ini, sangat sulit untuk bisa jujur pada diri sendiri. Butuh proses dan penanganan yang lebih untuk bisa menerima peristiwa yang mengecewakan di masa lalu itu. Namun pada artikel ini kita tidak membahas soal itu. Kita hanya akan memfokuskan pada ciri pembeda antara seseorang yang sedang berbohong dengan yang jujur.

Tapi terlepas dari itu semua, perilaku berbohong itu adalah hal wajar dilakukan oleh setiap orang. Bahkan menurut beberapa penelitian menunjukkan bahwa, kita mungkin saja melakukan perilaku berbohong sebanyak 10 sampai 200 kali dalam sehari. Selain itu, secara psikologis ketika kita berbohong kita hanya menggunakan 5% fungsi kognitif dan selebihnya terjadi di luar kesadaran kita. Sehingga, menurut beberapa penelitian menunjukkan bahwa cara bercerita antara orang yang sedang berbohong atau mengada-ngada dan yang jujur atau menceritakan yang sebenarnya, memiliki kualitas yang berbeda. Hal ini karena ketika kita bercerita yang mengada-ngada atau tidak sesuai dengan kejadian aslinya, kamu cenderung sulit untuk menjelaskannya. Tentu saja, hal itu sulit diceritakan karena memang tidak terjadi. Untuk melengkapi, mencocokkan dan menghubungkan cerita tersebut terlihat meyakinkan, otak kita harus berusaha lebih besar dalam menjelaskannya dari pada ketika kita bercerita untuk pengalaman yang nyata.

Baca Artikel Kami Lainnya: Berpikir Kritis VS Berpikir Kreatif.

Seseorang yang sedang berbohong.

Dengan menggunakan analisis linguistik, kita akan mencoba untuk mengidentifikasi pola bahasa yang sering digunakan saat berbohong. Walaupun pembahasan ini sudah didasarkan pada penelitian yang ilmiah. Namun dalam mengidentifikasi seseorang yang sedang berbohong, perlu juga untuk pemahami karakteristik orang tersebut. Secara umum Terdapat 4 pola bahasa yang sering digunakan Ketika seseorang sedang berbohong (Zamdan, 2014).

Cara Menggunakan Kata “Aku”, “Saya” Saat Berbicara

Seseorang yang sedang berbohong cenderung menghindari kata diri sendiri atau menyebutkan diri sendiri. Dalam menjelaskan ceritanya, mereka lebih banyak menceritakan tentang perilaku orang lain dari pada dirinya sendiri. Sangat jarang bahkan sedikit saja orang yang sedang berbohong menjelaskan situasi untuk menggambarkan dirinya sendiri dalam situasi tersebut. Hal ini karena, secara tidak sadar kamu tidak mau disalahkan atas tindakanmu yang salah. Sehingga, kamu lebih memilih untuk menceritakan kesalahan orang lain dibandingkan kesalahan diri sendiri. Jadi kamu lebih memilih untuk memulai penjelasan dengan kata “orang itu” dibandingkan dengan kata “Aku”, “Saya” dan “peranan saya”.

Kata Yang Diungkapkan Cenderung Negatif

Pola bahasa selanjutnya adalah lebih banyak menggunakan kata yang negatif. Mereka cenderung lebih emosian dan berkata kasar dalam menjelaskan kebohongannya. Dengan kata lain, seseorang yang sedang berbohong mungkin saja berusaha menyalahkan situasi tersebut dibandingkan kesalahan pribadinya. Hal ini terjadi karena secara tidak sadar kamu merasa bersalah karena sudah berbohong. Sehingga untuk menutupi rasa bersalah terhadap orang tersebut. Kamu mengalihkannya pada situasi tersebut.

Cenderung Menjelaskan Secara Umum, Tanpa Detail

Pola bahasa selanjutnya adalah seseorang yang sedang berbohong cenderung menjelaskan situasi tersebut dengan penjelasan secara umum saja, tidak secara khusus. Hal ini dilakukan untuk menghindari rasa cemas akibat teringat kembali pada kesalahan yang kamu lakukan. Sebagai contoh, ketika kamu tidak sengaja menjatuhkan vas bunga di rumah temanmu. Jika kamu berbohong, kemungkinan besar kamu akan menjawab bahwa, Vas bunga tersebut hanya terjatuh saja. Bukan menjelaskan, Vas bunga itu terjatuh karena dirimu.

Cenderung Menggunakan Kalimat Yang Terbelit-belit

Ketika seseorang sedang berbohong, kecenderungan untuk menjelaskan secara sederhana sulit untuk dilakukan. Hal ini karena kejadian tersebut tidak dialami secara nyata. Sehingga kamu bingung untuk menjelaskan kebohonganmu. Akhirnya, yang keluar dari perkataanmu hanyalah kalimat panjang yang terbelit-belit dan menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Bahkan detail-detail yang tidak ada hubungannya dengan situasi tersebut.

Baca Artikel Kami Lainnya: Efek Bystander, Penjelasan Mengenai Orang Yang Melihat Tanpa Menolong Orang Lain.

Artikel oleh: Logos Indonesia.