Pseudosains, Terlihat Ilmiah Tapi Tidak Ilmiah

Pseudosains, terlihat ilmiah tapi tidak ilmiah. Pseudosains adalah ilmu semu yang banyak diyakini oleh orang-orang.

Sosial168 Views

Logos Indonesia Pernahkah kamu merasa bahwa hal yang dipercayai orang-orang itu tidaklah benar? Banyak sekali masyarakat Indonesia yang masih mempercayai adanya pseudosains. Dalam masyarakat Indonesia juga memiliki banyak unsur pseudosains dalam kehidupan sehari-hari. Kepercayaan pada sesuatu hal yang tidak ilmiah menjadi ciri khas dari pseudosains. Perlu diingat bahwa, Setiap orang berhak untuk memilih untuk percaya atau tidak pada sesuatu hal yang magis atau yang tidak berdasarkan sains. Dalam mempercayai sesuatu tidak ada namanya benar dan salah. Hal ini berkaitan dengan nilai yang ada pada diri individu dan kebudayaan yang melatarbelakanginya. Terlepas dari itu semua, kita akan membahas mengenai pseudosains. Dengan begitu kamu akan lebih paham mengenai pseudosains.

Baca Artikel Kami Lainnya: Tips Dan Trik Untuk Menghadapi Kesedihan Ketika Ditinggal Oleh Orang Yang Tersayang.

Apa Itu Pseudosains?

Pseudosains adalah ilmu semu. Dikatakan ilmu semu karena tidak berdasarkan metodologi secara ilmiah. Walaupun terlihat seperti ilmiah di mata banyak orang. Tapi pada dasarnya tidak mengikuti kajian metodologi penelitian ilmiah. Karena itu, hasil yang diperoleh adalah hasil yang statis dan tidak ada perubahan dari masa ke masa. Tentu saja karena tidak ada penelitian terbaru mengenai ilmu pengetahuan yang semu itu.

Pseudosains sangat berkaitan dengan keyakinan seseorang pada sesuatu hal. Keyakinan ini bisa saja diturunkan dari masa ke masa, seperti kebanyakan mitos yang tersebar dalam masyarakat.

Selain itu, pseudosains menggunakan pernyataan orang lain untuk meyakinkan klaimnya terhadap pseudosains itu. Karena itu pseudosains akan lebih berfokus pada meyakinkan orang banyak pada pernyataan orang-orang yang telah melakukannya.

Dalam membuktikan pseudosains, biasanya disampaikan melalui buku, grafik atau melalui kesaksian orang untuk memperkuat klaimnya. Hal ini karena secara ilmiah tentu tidak bisa dibuktikan. Karena itu melalui cara itulah mereka meyakini bahwa keyakinan yang ia percaya adalah ilmu yang ilmiah.

Perlu diingat bahwa, pseudosains merupakan ilmu semu yang tidak berdampak buruk atau baik. Keyakinan tersebut dapat mengakibatkan buruk atau baik tergantung dari bagaimana kamu memperlakukannya.

Apa Saja Contoh Dari Pseudosains?

Sendal terapi sebagai pengobatan alternatif.

Pada masyarakat Indonesia banyak sekali pseudosains yang mengklaim dirinya dapat mengobati segala macam penyakit. Apakah kamu pernah mendengar pengobatan alternatif yang menggunakan alat yang tidak berdasarkan medis? Bahkan alat yang digunakan adalah sesuatu yang tidak pernah kamu pikirkan untuk sarana pengobatan.

Fenomena ini pernah booming di masanya. Terdapat seorang anak yang mampu mengobati segala macam penyakit dengan menggunakan batu ajaib miliknya. Bahkan saking tenarnya, banyak masyarakat yang di luar daerah datang ke tempatnya, mengantri untuk berobat. Keyakinan akan kesembuhan melalui air yang dicelup dengan batu tersebut merupakan contoh dari pseudosains.

Baca Artikel Kami Lainnya: 5 Tahapan Kesedihan Ketika Menghadapi Kematian Seseorang Yang Dicintainya.

Saat ini, banyak sekali pengobatan alternatif yang mengklaim bahwa mereka mampu menyembuhkan segala macam penyakit yang kronis. Apakah cara pengobatan alternatif tersebut terbukti secara ilmiah? Apakah cara pengobatan alternatif itu didasarkan oleh bukti secara medis?

Terkadang, pengobatan alternatif hanya menggunakan support sugesti penyembuhan saja. Ketika kamu mempercayai bahwa dirimu sehat. Maka otak akan memberikan respon berupa gejala seperti orang sehat pada umumnya. Namun ketika diperiksa secara medis, penyakit itu masih terdapat di dalam tubuhnya. Perasaan semangat untuk hidup menjadi kunci untuk seseorang berjuang dari penyakit kritisnya.

Hal ini sebenarnya sesuatu hal yang positif jika dikaitkan dengan Sisi psikologis seseorang yang memiliki penyakit yang kronis. Namun, bukan berarti kamu bisa sembuh hanya menggunakan pengobatan alternatif saja. Pengobatan alternatif dapat digunakan sebagai support sosial emosional. Sedangkan pengobatan medis dapat digunakan sebagai cara penyembuhan penyakit itu sendiri.

Dilansir dari erudisi, terdapat beberapa pseudosains yang sering kita temui dan dengar, yaitu:

Ramalan Zodiak

Kamu pasti sering mendengar ramalan zodiak. Setiap zodiak terdapat ramalan mengenai percintaan, keuangan, dan lain-lain. Jika kamu telaah lebih dalam mengenai ramalan zodiak tersebut, terdapat kesamaan dari setiap ramalan tersebut. Melalui pernyataan yang umum dirasakan oleh banyak orang menjadi ramalan zodiak tersebut. Karena itu, biasanya ramalan zodiak akan cocok pada setiap orang yang membacanya apapun itu zodiaknya.

Kartu Tarot

Karo tarot merupakan contoh dari pseudosains. Ketika kamu menarik satu kartu mengenai hidupmu. Bahwa setiap kartu memiliki makna tersendiri terhadap kehidupan seseorang.

Palmistry

Melihat kepribadian dari garis tangan seseorang. Menurut palmistry, bahwa setiap orang memiliki garis tangan yang berbeda-beda. Karena itu memiliki makna yang berbeda-beda pula.

Onychology

Melihat kepribadian dari bentuk kuku. Sama halnya dengan palmistry, bahwa setiap orang memiliki bentuk kuku yang berbeda-beda yang mempengaruhi kepribadian seseorang.

Feng Shui

Kepercayaan pada posisi dan kondisi rumah. Keyakinan ini berdasarkan kebudayaan Cina yang sudah turun temurun.

Shio

Kepercayaan bahwa tahun kelahiran dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Shio ini berdasarkan keyakinan dari buday Cina.

Cara yang paling mudah untuk tidak mudah percaya dari pseudosains adalah dengan berpikir kritis. Ketika kamu bisa berpikir secara ilmiah. Maka kamu akan mengetahui bahwa sesuatu hal itu bersifat ilmiah atau tidak. Ketika ilmu pengetahuan itu tidak dilandaskan pada metodologi yang ilmiah. Maka bisa dipastikan bahwa ilmu pengetahuan itu semu. Dengan tidak mudah percaya pada sesuatu hal. Maka kamu sudah bisa menerapkan berpikir kritis.

Baca Artikel Kami Lainnya: Dasar Teori Dari Psikologi Konstitusi Milik William H. Sheldon.

Artikel oleh: Logos Indonesia.